oleh

Aksi Peduli Virus Corona, SAKSI NOL RUPIAH SURABAYA : Tak ada politisasi apalagi tidak manusiawi

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (31/03/2020) | PUKUL 17.54 WIB

Kontroversi soal Aksi Sosial Peduli Virus Corona, antara satu bentuk kepedulian sosial diantara sesama warga kota dengan tuduhan politisasi bencana yang dianggap tidak manusiawi itu, telah mengusik akal cerdas warga kota Surabaya.

Salah satunya datang dari ketua Relawan Saksi Nol Rupiah Surabaya, Deny Istiawan, yang ikut angkat bicara.

Saat dikonfirmasi oleh awak media potretjatimdaily.com, Selasa (31/03/2020) siang, melalui saluran telepon selular, Deny menyatakan rasa keprihatinannya Dan sangat menyayangkan soal munculnya statement tuduhan politisasi bencana yang bahkan dianggap sebagai tindakan yang tidak manusiawi, terhadap aksi peduli Virus Corona yang dilakukan oleh sesama warga kota itu.

“Kasihan juga sih, apalagi dengar-dengar yang bikin statement adalah salah satu bakal calon di pilwali surabaya, ” ujarnya.

Lebih lanjut, Deny menambahkan bahwa ada kemungkinan yang bersangkutan, sebagai seorang politisi yang sedang ‘Cari panggung’ politik melalui tuduhan yang juga tidak jelas kepada siapa obyek sasarannya.

“Jikalau (kita) sedikit mau cerdas berfikir, Dialah yang (sedang) ‘cari panggung’. Ada politisi yang bicara (tanpa jelas siapa obyeknya) itu, bahwa ada politisasi, dari aksi peduli corona’, “tandas Deny.

Berbicara soal tuduhan politisasi bencana yang juga dianggap tidak manusiawi,

Menurut Deny, tak ada politisasi apalagi dianggap sebagai tindakan tidak manusiawi, ketika ada aksi sosial sesama warga kota yang peduli akan virus corona itu.

Sedangkan terkait Ucapan, Deny menegaskan bahwa Semua ucapan akan menunjukkan kepribadian yang bersangkutan.

Mantan aktifis Reformasi ’98 Jatim ini, menegaskan, “Bagaimana bicara politisasi, jika pilkadanya saja belum buka pendaftaran. Malah, kabarnya (Pilkada serentak, Red) itu akan digelar tahun depan, “ucapnya sembari tersenyum.

Dan bahkan, Masih menurut Deny, akan dianggap lebih tak berhati dan berempati itu, ketika ada sesama warga kota yang sangat memerlukan desinfektan, masker serta hand sanitizer, tapi tidak peduli, padahal ada kemampuan.

“Itu yang menurut saya malah lebih tidak manusiawi, “tuturnya.

Disinggung soal tanggapan terhadap pembuat statement tuduhan itu,

Deny menyatakan Dirinya tidak punya kapasitas dan memiliki hak untuk memberikan penilaian atau men-judge seseorang. Namun atas nama masyarakat Dirinya mengingatkan agar yang bersangkutan lebih bijak dalam bertutur kata.

Deny menjabarkan, “Maaf tak berani menjudge, akan tetapi, bila diijinkan sekedar saling mengingatkan jangan menilai apa yang dilakukan orang lain dengan menggunakan sudut pandang pribadinya. Dan, kalau tidak paham politik, lebih baik diam saja, itu akan lebih bijak, “paparnya.

Kembali Deny menambahkan, “Paling dolene sing kurang adoh, opo turune sing kurang isuk (Mungkin pergaulan dan pengalaman berpolitiknya masih kurang, Red), “tambahnya.

“(Mungkin) Dulunya nggak sempat ngalami melok demo promeg ’96 opo demo pro reformasi ’98 paling. Kasihan sebenare, “kata Deny.

Ditanya soal aksi peduli Virus Corona yang dilakukan oleh salah satu komunitas relawan,

Deny mengungkapkan, bahwa Dirinya mengetahui aksi itu berdasarkan atas murni dari permintaan warga kota, dilaksanakan secara swadaya, dibagi cuma-cuma serta bertujuan mendukung program pemerintah.

“Sepanjang yang saya ketahui dan malah sesekali mengikuti (aksi peduli Corona, Red), itu atas dasar permintaan warga sendiri. Justru Aksi penyemprotan desinfektan, bagi-bagi masker dan hand sanitizer secara gratis, itu bentuk peduli dan manusiawi, sekaligus dukung program pemerintah juga ” ungkapnya.

Terakhir Alumni SMA 21 Surabaya ini berharap, agar kita sesama warga kota tetap lestarikan budaya peduli dan tidak mudah menjudge seseorang dengan tuduhan tidak manusiawi.

“Marilah, melihat apa yang disampaikan dan jangan lihat siapa yang menyampaikan. Agar kita, akan selalu obyektif dalam menilai tindakan orang lain dan bukan didasari rasa like or dislike yang cenderung akan subyektif, ” pungkasnya. (Red)

Deny istiawan, ketua Relawan Saksi Nol Rupiah Surabaya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed