oleh

BELAJAR DARI NEGERI CHINA

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (18/10/2020) | PUKUL 09.23 WIB

BELAJAR DARI NEGERI CHINA

Oleh : HAMEDI, SE

Jadi, hingga saat ini, terdapat sedikitnya, ada 70 negara di dunia ini, yang tergabung dalam ‘One Belt, One Road’ (OBOR), dimana, Mereka semua berada dalam satu ikatan, yang road nya ke China.

Sedangkan, Cara China, memprinting Yuan nya -seperti juga cara IMF memprinting money Dollarnya- yaitu dengan berbasis project di negara-negara yang telah terikat kerjasama.

Artinya, hampir 60% porto polio Proyek Nasional dari ke-70 Negara tersebut, dipegang dan dikerjakan oleh Negeri Tirai Bambu itu.

Apa yang Amerika Serikat lakukan?

Dilain sisi, USA berusaha keras untuk lakukan DeOborisasi, dengan cara memiskinkan negara-negara yang terikat ‘OBOR’ itu.

Jadi, jika nantinya Donald Trumph terpilih kembali sebagai presiden Amerika Serikat, maka, diprediksi, China akan lewat.

Akan tetapi, kondisi Trumph saat ini, sedang compang-camping, dalam menghadapi perlawanan globalis cabal, kaum beatelbers dari dalam negeri sendiri.

Sedangkan, kelompok globalis cabal, yang anti kemanusiaan, pro aborsi dan LGBT itu, tercatat, sudah kawin dengan Partai Komunis China, pimpinan, perdana menteri, Xi Jinping itu.

Bahkan, China berani Pasang badan (under line), jadi pondasi bagi proyek globalis cabal, yang cenderung pro pemerintahan otoriter, menganut faham komunis dan anti demokrasi, seperti Negara China tersebut.

Dimana, suara sang pemimpin harus diikuti oleh rakyatnya. Apabila berani berbeda dan menentang, pasti (Rakyatnya) itu akan habis disikat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Bangsa Indonesia, sebagaimana amanah pembukaan UUD 1945, harus non blok, tidak memihak) dalam berpolitik luar negerinya.

Tidak berpihak kepada USA, maupun kepada China. Tetapi, bukannya netral, dan harus segera menentukan sikap.

Lalu, Mengapa harus sekarang?

Berikut ini, enam alasan logis konstitusionalnya, antara lain :
PERTAMA, USA dan CHINA sedang berperang. Dimana, Bangsa Indonesia kedepan, harus bisa memanfaatkan kisruh USA dengan China.

KEDUA, kita semua tahu, Apabila terjadi perang diantara dua negara besar, secara besar-besaran (all out head to head), dan berlangsung lama, maka kedua belah pihak akan mengalami kehancuran. Negara manapun yang menang, akan memerlukan waktu yang lama, dan dana yang tidak sedikit, guna melakukan Recovery pasca perang. Disinilah, kesempatan terbuka bagi Indonesia yang memiliki SDA dan SDM melimpah, untuk menjadi negara terkuat di dunia.

KETIGA, Dalam kondisi perang, Konsentrasi USA dan China, akan lebih fokus soal bagaimana cara memangkan peperangan tersebut. Artinya, tidak cukup waktu untuk memikirkan manuver yang dilakukan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia

KEEMPAT, Disisi lain, Kedua negara itu, juga sedang menghadapi permasalahan di dalam negeri mereka sendiri. China sedang menghadapi curah hujan tinggi, bahkan, selama 30 hari terus-menerus negeri tirai bambu itu, diterpa hujan lebat, hingga mampu menjebol satu bendungan besarnya. Sedangkan, USA sedang digoncang isu rasisme dan ancaman pandemi COVID-19.

KELIMA, Secara defakto dan deyure, Kekuasan Presiden Joko Widodo, memimpin NKRI adalah absolut, dengan didukung lebih dari 70% suara partai politik dan mayoritas rakyat Indonesia. Sehingga, akan mudah menerapkan kebijakan-kebijakan yang bersifat extra ordinary, yang membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif rakyatnya.

KEENAM, Saat ini, banyak negara yang menerapkan Deglobalisasi, atau Deown for Deown, dari negara untuk negaranya sendiri, sebagai salah satu strategi survive nya. Jadi, sangat dimungkinkan bagi seorang Jokowi untuk men drive arah negara ini. Dan, dengan kondisi seperti ini, akan sangat mudah me lead bangsa ini, untuk terus nge gas, berlari kencang disaat negara lain masih berfikir soal bagaimana menang perang dan sedang menerapkan kebijakan Deglobalisasi.

Jadi, jangan ikuti maunya China, tapi tirulah cara China.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa sekitar 30 tahun yang lalu, China memprinting Remindi.

Melalui, pemberdayaan UMKM secara maksimal dan optimal.

Jadi, saat kondisi perekonomian dunia sedang berada at war seperti sekarang ini, Bangsa Indonesia sudah bersiap-siap untuk ‘Menyalip ditikungan’, menjadi negara the best in the world.

Dengan merujuk perjuangan Tahun 1945 dalam merebut kemerdekaan Indonesia, dimana ada suasana kebathinan yang sama, rasa senasib sepenanggunan diantara anak bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Disinilah, jiwa kepemimpinan Presiden Jokowi diuji.

Buat kekompakan rakyat, melalui command happines, dengan serahkan semua dana untuk prioritas produksi bagi UMKM se-Indonesia.

Dan bukan malah sebaliknya, memaksakan kebijakan secara otoriter, mematikan iklim demokrasi, membiarkan Disparitas sosial semakin lebar, mendukung praktek kriminalisasi ulama, aktivis dan pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah, dan mengikuti apa saja, serta tunduk dan patuh terhadap semua kemauan negara China.

Sekaranglah saatnya, bagi kita semua, bagian dari anak bangsa.

Untuk melaksanakan kewajiban kita didalam berbangsa dan bernegara, yaitu Untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan kesejahteraan umum, serta ikut menciptakan perdamaian dunia. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed