oleh

Betulkah Islam Tidak Disiarkan Dengan Pedang

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SABTU (13/06/2020) | PUKUL 14.16 WIB

Sepeninggal Khalifah Ali Bin Abu Thalib ra, kepemimpinan imperium Arab Muslim diperebutkan oleh empat keluarga Quraisy terkemuka, yaitu keluarga Asad, keluarga Umayyah, keluarga Abbas ra dan keluarga Ali ra. Keluarga Ali ra kerap disebut Alawi.

Umayyah adalah anak Abdu Syams, sedangkan Abdu Syams merupakan anak tertua Abdu Manaf Bin Qushay, pemimpin suku Quraisy yang paling berpengaruh. Keluarga Umayyah merasa paling berhak memimpin imperium Arab karena mereka keturunan putera tertua Abdu Manaf. Walaupun beberapa literatur Syiah menyebut Umayyah itu budak Abdu Syam yang diangkat sebagai anak, namun jumhur ahli sejarah menyebut Umayyah itu anak kandung Abdu Syam. Diantara keluarga Umayyah adalah Khalifah Utsman Bin Affan ra dan Khalifah Muawiyah I.

Abbas ra adalah pamanda Rasulullah SAW sekaligus pamanda Ali ra. Beliau sangat dekat dengan Ali ra sehingga pada era Kekhalifahan Ali ra para putera Abbas ra diangkat sebagai gubernur di berbagai wilayah imperium Arab Muslim, antara lain Abdullah ra sebagai Gubernur Basrah, Ubaidillah sebagai Gubernur Yaman, Qutsam sebagai Gubernur Bahrain dan Ma’bad sebagai Gubernur Mekkah.

Ali ra merupakan sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW yang sangat setia, cerdas, pemberani, ahli perang dan ahli ilmu pengetahuan, namun sayang beliau kalah politik melawan klan lain. Diantara keturunan beliau adalah Dinasti Idrisiyyah di Maroko kuno, Dinasti Alawi di Maroko saat ini, Dinasti Fathimiyyah di Mesir kuno, Imamah Republik Islam di Iran saat ini, Dinasti Hashemite di Yordania saat ini, Ordo Walisongo di Indonesia kuno, Syaikh Abdul Qadir Jailani Pendiri ordo Sufi Qodiriyyah di Irak, Syekh Abul Hasan Assadzili pendiri ordo sufi Sadziliyyah di Mesir, Ahmad At-Tijaniy pendiri ordo sufi Tijaniyyah di Maroko, Muhammad Al-Faqih Muqoddam pendiri ordo sufi Alawiyah di Hadramaut, Syaikh Muhammad As-samani pendiri ordo sufi samaniyyah di Afrika Utara, Habib Luthfi Bin Yahya grand mursyid thariqah-thariqah mu’tabaroh di Indonesia dll.

Sedangkan Asad Bin Abdul ‘Uzza Bin Qushay adalah leluhur mulia yang menurunkan Aminah ibunda Rasulullah SAW dan Khadijah ra isteri tercinta Rasulullah SAW. Ibnu Zubair yang pernah menjadi Khalifah imperium arab muslim juga merupakan keluarga Asad.

Pasca Syahidnya Ali ra pada tanggal 29 Januari 660, kepemimpinan imperium arab muslim berada di tangan keluarga Ali ra, tepatnya di tangan Al-Hasan ra. Namun kepemimpinan Al-Hasan ra hanya berlangsung sekitar enam bulan, setelah itu Hasan ra segera menyerahkan kepemimpinan imperium arab muslim kepada Muawiyah, dengan syarat setelah Muawiyah selesai, kepimpinan hendaknya dikembalikan kepada Al-Hasan ra. Selanjutnya tahun serah terima kepemimpinan imperium arab muslim tersebut disebut sebagai tahun perdamaian yang selalu dikenang oleh sejarah.

Namun Keluarga Umayyah masih selalu khawatir terhadap keluarga Ali ra. Berbagai cara dilakukan agar keluarga Ali ra hilang dari peredaran imperium arab muslim. Pada tahun 669, tepatnya sembilan tahun setelah meletakkan tahta imperium arab muslim, tiba-tiba Al-Hasan ra wafat dalam usia 46 tahun. Imam As-Suyuthi dalam kitab Tarikh Khulafa menulis bahwa Al-Hasan ra wafat karena diracun oleh salah satu isterinya atas bujuk rayu Yazid Bin Muawiyah. Isteri Al-Hasan ra memang banyak sekali, begitupun mantan isterinya. Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ali Zainal Abidin, Ja’far Bin Muhammad dan dari Abdullah bin Hasan bahwa Al-Hasan ra menikah dan bercerai dengan banyak wanita. Hampir semua wanita senang kepada Al-Hasan karena wajah dan perawakan Al-Hasan paling mirip dengan Baginda Rasulullah SAW. Menurut Tarikh Khulafa, isteri yang meracun Al-Hasan ra adalah Ja’dah binti Al-Asy’ats. Ja’dah meracun Al-Hasan karena tergiur janji Yazid Bin Muawiyah. Yazid berjanji akan menikahi Ja’dah jika salah satu isteri Al-Hasan ra ini berhasil membunuh suaminya. Ternyata setelah Al-Hasan ra wafat, Yazid tidak memenuhi janjinya kepada Ja’dah.

Setelah beres urusan Al-Hasan ra, kini keluarga Umayyah mengincar adik Al-Hasan ra yaitu Al-Husain ra. Kalau Al-Husain ra masih hidup maka Keluarga Ali ra atau populer dengan sebutan Alawi sangat berpeluang menggulingkan kekuasaan keluarga Umayyah.

Kekhawatiran keluarga Umayyah terbukti. Saat Muawiyah mengumumkan Yazid sebagai putera mahkota (Waliul Ahdi), yang berarti sistem republik telah diubah menjadi monarki, para pemuka keluarga terpandang menyatakan tidak setuju, yaitu Al-Husain ra pemuka keluarga Ali ra, Abdullah Bin Umar pemuka keluarga ‘Adi, Abdurrahman Bin Abu Bakar pemuka keluarga Taim dan Abdullah Bin Zubair pemuka keluarga Asad. Namun setelah Muawiyah wafat, Abdullah Bin Umar dan Abdurrahman Bin Abu Bakar berbaiat kepada Yazid sebagai imperator arab muslim pengganti Muawiyah. Sedangkan Al-Husain ra dan Abdullah bin Zubair ra tetap tegas menolak baiat.

Pada tahun 680 dalam usia 54 tahun, Al-Husain ra beserta seluruh pengikutnya dikepung di padang karbala oleh militer Negara Umayyah. Kemudian Al-Husain ra dan pengikutnya dibantai. Al-Husain ra yang terakhir gugur sambil menggendong anak bayi. Kepala Al-Husain ra dipenggal dan dibawa ke hadapan Yazid sang imperator di Damaskus. Berakhirlah Al-Hasan ra dan Al-Husain ra, sisa-sisa keluarga Ali ra nanti diurus belakangan, baik oleh Keluarga Umayyah maupun keluarga Abbas ra.

Namun keluarga Umayyah belum bisa bernafas lega karena masih ada keluarga Asad. Pemuka keluarga Asad, Abdullah bin Zubair ra tidak takut dengan tragedi pemenggalan kepala yang menimpa Al-Husain ra di Karbala. Setelah Yazid I mati secara mendadak pada tahun 683 dan Muawiyah II sebagai penggantinya tiba-tiba meletakkan jabatan, maka Ibnu Zubair ra mengklaim Khilafah dan banyak sekali yang berbaiat padanya. Keluarga Umayyah tidak mau kalah, mereka mengumumkan Marwan Bin Hakam sebagai Khalifah pengganti Muawiyah II. Sebetulnya bukan hanya Abdullah Bin Zubair ra dan Marwan bin Hakam yang saat itu berebut kursi Khalifah, kaum Syiah juga mengumumkan keluarga Ali yang lain sebagai calon imperator arab muslim yang akan mereka perjuangkan. Kaum Khawarij juga membentuk negara sendiri, tidak tunduk kepada Imperium Umayyah. Ada juga Mukhtar Ats-Tsaqofi dengan kekuatan 7000 pengikut mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi sekaligus Khalifah. Marwan Bin Hakam hanya bertahta sebentar, dia meninggal dunia pada tahun 685 dan langsung digantikan oleh puteranya, Abdul Malik. Abdul Malik bergerak cepat, tahun 691 dia rebut Kufah dan Irak dari tangan Ibnu Zubair ra. Tahun 692, Kota Mekkah berhasil direbut kembali dari tangan Ibnu Zubair ra. Ibnu Zubair ra gugur di dinding Ka’bah dan bangunan Ka’bah roboh kena terjangan peluru manjanik militer Umayyah. Namun sebagian ahli sejarah menyebut Ka’bah waktu itu hanya miring. Buya Hamka menyebut hanya terbakar.

Al-Hasan ra sudah dieksekusi. Al-Husain ra sudah dieksekusi. Ibnu Zubair ra sudah dieksekusi. Tinggallah kini keluarga Umayyah menjadi imperator arab muslim.

IMPERIUM QURAISY

Selama era kekuasaan keluarga Umayyah di Damaskus, Bani Hasyim mengadakan gerakan bawah tanah untuk merobohkan Negara Umayyah, nama Gerakan tersebut adalah Hasyimiyyah. Gerakan bawah tanah itu dipelopori oleh Keluarga Abbas ra dan Keluarga Ali ra. Gerakan Hasyimiyyah yang semula bertujuan ingin mengembalikan kepemimpinan imperium arab muslim kepada Keluarga Ali ra, kemudian setelah keluarga Umayyah lemah dan hampir kalah, tujuan gerakan Hasyimiyyah tiba-tiba berbelok menjadi dukungan terhadap kepemimpinan keluarga Abbas ra. Keluarga Ali ra kembali ketinggalan gerbong kepemimpinan imperium. Legitimasi keluarga Abbas adalah peristiwa tahun 716, Ketika Abu Hasyim Bin Muhammad Bin Al-Hanafiyah (putera Ali ra) wafat, tongkat kepemimpinan gerakan Hasyimiyyah diserahkan kepada Ali bin Abdullah bin Abbas ra (keluarga Abbas ra), inilah yang kemudian menyebabkan keluarga Ali ra ketinggalan gerbong kepemimpinan imperium arab muslim untuk keduakalinya. Karena merasa ditipu oleh keluarga Abbas ra, keluarga Ali ra sering memberontak terhadap Negara Abbasiyah. Pemberontakan pertama terjadi tahun 755, pada masa Khalifah Al-Manshur. Tahun 761, keluarga Ali ra diinterogasi habis-habisan oleh Negara Abbasiyah. Setahun kemudian keluarga Ali ra memberontak di Madinah, pemberontakan kali ini dipimpin oleh kakak beradik Muhammad dan Ibrahim. Pemberontakan ini ditumpas dan pimpinannya dibunuh semua. Tahun 765, tokoh keluarga Ali ra, Abdullah bin Ali dibunuh oleh Khalifah Al-Manshur setelah mendekam di dalam penjara selama 9 tahun.

KAMPANYE MILITER

Para ahli sejarah, baik dari kalangan muslim sendiri maupun dari kalangan non muslim, menulis hal yang sama tentang imperialisme muslim yang dilakukan oleh para imperator Arab, imperator barbar, imperator arya maupun imperator turki melalui serangkaian kampanye militer.

Imperium besar yang berhasil dibangun oleh para penganut agama Islam antara lain imperium Arab Khulafaur Rasyidin, imperium Arab Umayyah, imperium Arab Abbasiyah, imperium Arab Fathimiyyah, Imperium Barbar Al-Muwahhidun, imperium Turki Mameluk, imperium Turki Seljuk, imperium Turki Atabeg, imperium Arya Shafawi, imperium Turki Timuriyah, imperium Turki Ghaznawi, imperium Turki Khwarezmia, imperium Arya Ghauri, imperium Arya Samani, imperium Turki Mughal dan imperium Turki Ottoman.

Imperium-imperium muslim tersebut baik yang Arab maupun non Arab, menempuh pola yang sama dalam melakukan islamisasi, yaitu kampanye militer. Penaklukan yang dilakukan oleh imperium muslim awal dilakukan satu paket dengan diaspora arab. Imperator Arab mengatur penempatan elit politik dan elit relijius Arab di wilayah Persia raya dan Romawi yang baru saja ditaklukkan. Orang Arab dan Turki memang sama-sama berlatar-belakang nomaden. Arab dan Turki merupakan konfederasi suku-suku nomad yang hidup dari satu tenda ke tenda lainnya, dari satu kawasan ke kawasan lainnya, sambil berperang dan berburu. Berbicara bangsa Turki secara umum, tentu saja bukan hanya meliputi bangsa turki sebagaimana yang kita kenal saat ini, Turki secara umum meliputi seluruh proto-turki raya antara lain Hungaria, Tartar, Mongol, Siberia, Dinasti Qing Cina, Uighuristan Cina, Manchuria, Rusia Utara dan Jepang. Bangsa Turki secara umum disebut juga sebagai bangsa Altai atau Torania, mereka semua berbasis budaya nomaden. Basis budaya momaden Inilah faktor utama yang menyebabkan militer Arab maupun militer Turki sangat lincah dalam melakukan perluasan wilayah imperium muslim. Penaklukan militer memang hobi sehari-hari suku-suku nomaden. Hal ini dilukiskan secara dahsyat dan rinci oleh L Stoddart.

Penaklukan wilayah berlangsung sangat cepat, karena pada tahun 650 seluruh wilayah timur tengah sudah masuk ke dalam wilayah imperium arab muslim, namun konversi penduduk imperium dari agama lama ke agama islam tidak berbanding lurus dengan cepatnya penaklukan wilayah. Baru pada awal abad kesebelas sebagian besar penduduk taklukan imperium arab muslim berhasil dikonversi ke agama islam. Penaklukan teritorial hanya makan waktu 10 tahun, tapi konversi agama butuh waktu 3 abad. (Hugh Kennedy : 2007).

Pasca pendudukan teritorial terhadap negara-negara tetangga, para imperator arab muslim selalu menuntut pembayaran secara tunai dari masyarakat taklukan, baik berupa kharaj maupun jizyah, kecuali mereka mau melakukan konversi agama dari non islam ke islam. Selain faktor operasi militer, faktor tuntutan pembayaran uang kharaj dan jizyah ini pula yang menyebabkan penduduk wilayah taklukan lakukan konversi agama.

KELUARGA ALI ra DI HADRAMAUT

Puak-puak keluarga Ali ra ada yang berfaham Sunni dan ada yang berfaham Syi’ah, belum dijumpai puak keluarga Ali ra berfaham khawarij. Diantara puak yang berfaham Sunni tersebut ada Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain ra bin Ali ra. Beliau semula hidup di Kota ilmu pengetahuan kala itu, yaitu kota Basrah. Kota legendaris yang didirikan oleh Khalifah Umar ra.

Namun situasi pusat imperium Abbasiyah saat itu sedang tidak menentu, kekuasaan keluarga Abbas ra sangat lemah sehingga pemberontakan, pembangkangan dan terorisme terjadi di mana-mana. Budak-budak militer yang dulu sangat loyal kepada para imperator Abbasiyah kini banyak memberontak dan membuat kekacauan dimana-mana, terutama budak-budak asal Turki. Kelompok Syiah semakin mendominasi jantung kekuasaan Abbasiyah dan Imperator Abbasiyah mulai berpikir untuk menggunakan kaum Syiah klan Buawaihi untuk menata dan membina budak-budak Turki yang banyak tingkah. Berbeda dengan Syi’ah Buwaihi, Syi’ah Qaramithah malah melakukan aksi teror maut di seluruh teritori imperium Abbasiyah.

Dalam situasi seperti itu Imam Ahmad Al-Muhajir memutuskan untuk eksodus dari pusat imperium Abbasiyah ke pinggiran Arabia Selatan yaitu Hadramaut Yaman. Eksodus dilakukan pada tahun 896 dan baru tiba di Hadramaut pada tahun 898. Karena peristiwa eksodus itulah maka beliau diberi julukan Al-Muhajir I. Kenapa Al-Muhajir I? karena kelak akan ada keturunannya yang bergelar Al-Muhajir II (hijrah dari hadramaut ke India).

Keluarga Imam Al-Muhajir I yang pertama kali lahir di Hadramaut adalah Imam Alawi Bin Ubaidullah (Cucu Imam Muhajir I). Selain dikenal sebagai keluarga Imam Al-Muhajir I yang pertama kali lahir di Hadramaut, Imam Alawi dikenal juga sebagai pendiri Thariqah Alawiyyah. Nama Imam Alawi kemudian dijadikan nama keluarga besar yaitu keluarga Alawi atau terkenal sebagai Ba’alawi atau ‘Alawiyyin.

ISLAMISASI NUSANTARA OLEH ALAWIYYIN HADRAMAUT

Alawiyyin Hadramaut tidak memiliki imperium politik dan korps militer sebagaimana keluarga Umayyah, keluarga Abbas ra, keluarga Ubaidillah, keluarga Seljuk dan keluarga Ayyub, tapi mereka ingin melakukan islamisasi sebagaimana para imperator tersebut. Mereka hanya memiliki ordo sufi yang disebut Thariqah Alawiyyah. Dengan semangat sufisme yang dahsyat mereka berlayar menyeberangi lautan luas untuk berpartisipasi dalam islamisasi India Raya. Pada waktu itu India Raya meliputi Pakistan, Bangladesh, Bhutan, India, Srilanka, Maladewa dan sebagian Asia Tenggara saat ini, termasuk Indonesia. Sebagian Asia Tenggara termasuk Indonesia pada saat itu kerap disebut sebagai India Timur atau India Belakang yang dalam korespondensi Arab disebut Hindish-Syarqiyyah, dan pada masa kolonialisme Belanda disebut India-Belanda atau Hindia-Belanda.

Sebetulnya India Utara sudah diislamkan oleh militer imperium Umayyah, Abbasiyah dan Ghaznawiyah, Ghoriyah, Khilji, Tughlaq dll, namun India Barat dan India Selatan yang berbatasan laut dengan Hadramaut belum tersentuh islamisasi secara maksimal. Maka salah satu Alawiyyin Hadramaut yang bernama Abdul Malik bermigrasi ke India Barat pada abad ke-14 (Idrus Alwi Al-Masyhur : 2012). Sebagai trah Rasulullah SAW dari Hadramaut, Abdul Malik menikah dengan puteri bangsawan Provinsi Nasirabad Kesultanan Delhi. Sebagai bentuk penghormatan, orang India memberinya gelar Azmatkhan, sehingga gelar tradisional lengkap beliau adalah Sayyid Abdul Malik Azmatkhan Al-Husaini Al-Muhajir II. Beliau disebut Al-Muhajir II, karena merupakan keturunan Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir I, yang bermigrasi dari Basrah ke Hadramaut.

Menurut Shohibul Faroji, Abdul Malik Azmatkhan punya anak bernama Abdullah Azmatkhan. Abdullah Azmatkhan merupakan pejabat penting Kesultanan Delhi yang sering ditugaskan dalam misi diplomatik ke negara-negara tetangga, antara lain ke Cina, Champa dll. Selain itu, Abdullah Azmatkhan merupakan menantu salah satu gubernur Kesultanan Delhi. Abdullah Azmatkhan kemudian punya anak Jalaluddin Azmatkhan.

Menurut Shohibul Faroji, Jalaluddin Azmatkhan merupakan Raja Nasarabad India yang menikah dengan Puteri Raja Champa. Namun dicari di buku sejarah manapun, tidak pernah ada kesultanan Nasarabad di India. Kemungkinan Abdullah Azmatkhan hanyalah Gubernur Nasarabad di Wilayah Kesultanan Delhi. Sumber lain menyebut beliau Gubernur Malabar bukan Nasarabad. Bisajadi pernah menjabat Gubernur di kedua wilayah tersebut, kalau jaman sekarang disebut mutasi jabatan. Dari perkawinannya dengan puteri Raja Champa, Jalaluddin punya anak Muhammad. Ada dua versi tentang kelahiran Muhammad, ada yang menyebut tahun 1270 dan ada yang menyebut tahun 1333, keduanya sama-sama rancu kalau dikaitkan dengan timeline Walisongo di Hindia Timur. Wikipedia menyebut angka tahun 1330 untuk kelahiran Muhammad bin Jalaluddin. Gelar beliau banyak sekali, namun yang paling terkenal adalah Sayyid Muhammad Jamaluddin Akbar Azmatkhan Alhussaini dan Sayyid Jamaluddin Kubro Azmatkhan Al-Hussaini.

Muhammad Jamaluddin Akbar bisa disebut sebagai Imam Al-Muhajir III sebab beliau melakukan migrasi ke Hindia Timur bersama saudara dan puteranya. Awalnya beliau melakukan misi islamisasi di tanah melayu, kemudian pindah ke Jawa dan terakhir beliau pindah di pulau Sulawesi. Misi islamisasi pulau Jawa beliau serahkan kepada puteranya. Muhammad Jamaluddin Akbar inilah yang menjadi cikal bakal Walisongo di Hindia Timur.

ORDO MISTIK SUFISME WALISONGO.

Ordo mistik sufisme Thariqah Alawiyyah teritori Jawa yang dikembangkan oleh keturunan Sayyid Muhammad Jamaluddin Akbar sepenuhnya memakai nama jawa. Nama Thariqoh diganti menjadi “Wali Songo”, gelar Sayyid diganti jadi Raden dan Sunan. Patronim “Azmatkhan” juga tidak digunakan. Inilah kehebatan dan kelenturan strategi dakwah Thariqah Alawiyyah.

Tidak ada kampanye militer, tidak ada pemaksaan, tidak ada khitan paksa, islamisasi Jawa dilakukan melalui sarana perdagangan, perkawinan dan seni budaya. Para aristokrat Jawa keturunan Majapahit dan Pajajaran langsung jatuh hati kepada Walisongo, mereka masuk islam dan diikuti oleh rakyat kecil.

Bertolak belakang dengan islamisasi persia raya dan romawi raya, walisongo mengislamkan penduduknya dulu baru mendirikan negara. Sedangkan imperium Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah, menaklukkan wilayah dulu, menjadikannnya negara bawahan, kemudian memaksa penduduknya masuk islam.

Masuk islamnya para bangsawan Majapahit dan Pajajaran langsung menjadi gelombang revolusi damai yang luar biasa. Pulau Jawa sebagai pusat peradaban Hindia Timur dalam sekejap berubah menjadi tanah muslimin (moslem land).

Apakah sebelum Walisongo tidak ada dakwah islam, tentu saja ada. Islam masuk ke Hindia Timur sejak Baginda Rasulullah SAW masih hidup, tapi nun jauh di ujung barat sumatera, jauh dari pusat peradaban Hindia Timur. Sebetulnya di pulau Jawa sendiri sudah banyak misionaris islam pra Walisongo, namun belum seberhasil gerakan dakwah Walisongo. Begitu penduduk Jawa pindah agama ke Islam, maka penduduk pulau-pulau lain di sekitar Jawa otomatis ikut masuk islam, karena mereka dulu merupakan rakyat imperium Majapahit Raya.

Ordo Mistik Sufisme Walisongo beserta keturunannya kemudian membidani negara-negara islam pasca Majapahit, antara lain Negara Demak, Negara Pajang, Negara Mataram dll. Penguasa negara-negara islam luar jawa meminta gelar “Sultan” ke Walisongo, karena mereka dulu merupakan santri-santri Walisongo.

Prinsip gerakan dakwah Walisongo adalah arab digarap, jowo digowo. Yang baik-baik dari kearifan lokal dan tradisi jawa pra islam sepanjang tidak bertengangan dengan ajaran islam tetap dilestarikan oleh Walisongo.

Saadah Walisongo tidak lagi bergelar Sayyid, tapi bergelar Sunan, Raden, Tubagus, Kyai, Ajengan, Tuan Guru, Masagus, Masayu, Kemas, Nyimas, Gus, Kyai, Lora, Ning, Anregurutta dll.

Begitulah waktu terus berjalan hingga datanglah bangsa belanda ke Hindia Timur. Mereka mendirikan negara koloni di Hindia Timur yang mereka beri nama Hindia Belanda. Keturunan Walisongo dikejar-kejar dan dihajar habis-habisan, sehingga sebagian besar mereka harus menyembunyikan gelar tradisional jawanya, misalnya gelar raden diubah jadi aceng, adeng dll, gelar kyai di daerah-daerah rawan dihapus sama sekali, mereka hanya dipanggil Akang atau Mas atau Mbah.

Tidak ada lembaga resmi yang mencatat Bani Walisongo, sehingga diduga terdapat beberapa oknum non Bani Walisongo ikut memakai gelar tradisional Bani Walisongo di Jawa sehingga dianggap sebagai Bani Walisongo Azmatkhan juga oleh penduduk.

HABAIB HINDIA BELANDA

Di saat Islam sudah berurat berakar di bumi Hindia Timur, pada abad penjajahan Belanda datanglah rombongan migrasi Ba’alawi generasi terakhir. Mereka datang ke Hindia Timur dengan gelar Habib dan Syarifah. Mereka terapkan disiplin kemurnian nasab yang sangat ketat, agar tidak terjadi lagi kekacauan nasab sebagaimana telah menimpa pendahulu mereka, Bani Walisongo Azmatkhan.

Bahkan atas nama kemurnian nasab keluarga Ali ra, pada tahun 1928 mereka mendirikan Rabithah Alawiyah. Karena rakyat Hindia Belanda sudah memeluk islam, maka penggunaan gelar asli arab tidak resisten. Mereka tidak harus menyembunyikan gelar arabnya untuk berdakwah di daerah yang memang sudah islam jauh sebelum mereka datang.

NAHDLATUL ULAMA

Keluarga Ali ra di Hindia Belanda, baik yang bergelar Kyai, Ajengan, Tubagus maupun bergelar Habib kemudian bersatu-padu mendirikan ormas yang bernama Nahdlatul Ulama. Ormas para Habaib dan Kyai ini membuat bingung pihak Belanda. Dalam kebingungannnya, Belanda menjuluki ormas tersebut sebagai “Hadramautisme”, sebuah sindiran halus bahwa ormas NU didirikan oleh Ba’alawi Hadramaut dari berbagai generasi. Hal ini ditulis oleh Choirul Anam dalam buku babon NU yang berjudul pertumbuhan dan perkembangan NU.

NU adalah ormas terbesar di Hindia Belanda dan terus eksis hingga Indonesia merdeka, bahkan tokoh-tokoh NU ikut mendirikan Negara Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya.

NU mewarisi karakter dakwah walisongo sehingga semakin lama semakin besar dan kuat. Ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) terhadap NU selalu muncul dari masa ke masa, tetapi NU dapat melewati semua itu dengan lembut, sejuk dan menyejukkan.

Insya Allah selama NU masih eksis, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia akan terawat dengan baik.

Firman Syah Ali

*) Firman Syah Ali adalah Pengurus NU dan IKA PMII Wilayah Jawa Timur.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed