oleh

Cak Firman Prihatin Jamaah Tabligh selalu bikin ulah di era Corona

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (03/04/2020) | PUKUL 10.17 WIB

Bendahara Umum IKA PMII Jawa Timur mengaku prihatin karena Jamaah Tabligh selalu bikin ulah di era Corona. Jamaah transnasional tersebut bikin ulah di India, Malaysia dan Indonesia. Di India, kegiatan jamaah tabligh sebabkan terpaparnya banyak orang oleh virus corona. Di Malaysia banyak orang terinfeksi corona akibat aktivitas jamaah tabligh. Di Masjid Kebon Jeruk Jakarta Barat sampai harus diisolasi gara-gara mereka sulit diatur, tiga orang positif dan ratusan lainnya masih diisolasi.

“Pedoman dari Rasulullah terkait physical distancing, social distancing bahkan lockdown sudah jelas. Rasulullah SAW juga liburkan sholat jum’at hanya gara-gara hujan deras. Jamaah Tabligh ini ikut siapa kalau tidak ikut Rasulullah? apa merasa lebih hebat dari Rasulullah SAW? apa merasa lebih dekat dengan Allah dibanding Rasulullah SAW? kok sulit sekali diatur?” sergah Pengurus Harian LP Ma’arif NU Jawa Timur ini.

Cak Firman menambahkan bahwa selain jamaah tabligh banyak juga sekelompok masyarakat yang bangga dengan covidiotnya dan mengolok-olok orang yang waspada virus Corona. “Orang mengikuti teladan Rasulullah kok diolok-olok? Rasulullah itu orang paling dekat dengan Allah SWT namun beliau selalu berikhtiar fisik, logis dan ilmiah dalam banyak permasalahan, bukan sekedar andalkan doa kemudian meremehkan bahaya” lanjut Koordinator Sahabat Mahfud MD Jatim ini.

Selanjutnya senior IPNU ini menyampaikan kisah Ibnu Hajar Al-Asqallani.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani (Wafat 852 H) menulis salah satu kitab sejarah wabah terlengkap dalam sejarah awal Islam. Buku setebak 850 halaman itu berjudul Badzlul Maa’un Fii Fadhli Ath-Tho’un. Di halaman 329, beliau menyebutkan bahwa pada tahun 749 H, sebuah wabah menyelimuti kota Damaskus. Sebagian besar pemuka atau pembesar kota lalu memutuskan untuk keluar dari rumah mereka dan berdoa bersama.
Walaupun tujuan mereka mulia, keadaan justru semakin memburuk. Semakin banyak orang yang tertular dan jumlah kematian pun meningkat.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berkomentar bahwa beliau juga menyaksikan hal yang serupa pada tahun 833 H. Saat itu wabah menyelimuti kota Kairo dan kurang dari 40 orang dilaporkan meninggal akibat wabah.
Lalu orang-orang memutuskan untuk mengadakan pertemuan besar untuk doa bersama di padang pasir di luar kota. Orang-orang pun pergi dan berkumpul di satu titik untuk berdoa sebentar dan kemudian kembali ke rumah masing-masing.

Beberapa minggu setelah itu, lebih dari 1000 orang dilaporkan meninggal per hari.

Secara implisit, Ibnu Hajar mengurai bahwa tujuan baik (berkumpul bersama dan berdoa) tanpa disertai pemahaman bagaimana virus menyebar justru dapat memperburuk kondisi umat secara keseluruhan. Beliau paham betul akan hal ini. Tiga putrinya sendiri meninggal akibat wabah.
Barangkali saja catatan sejarah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita dalam menyikapi wabah virus Covid-19. Seringkali, sejarah menjadi guru terbaik (sekalipun kadang ia kurang dilirik).

“Mari ikuti Ulil Amri yang didalamnya terdapat para ahli virus” pungkas Keponakan Mahfud MD ini. (Red)

Firman Syah Ali

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed