oleh

Cak Firman sebut Rasulullah saja menghindari penyakit menular, apalagi kita?

Firman Syah Ali bersama Mahfud. MD, Menkopolhukam RI.

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
RABU (18/03/2020) | PUKUL 21.36 WIB

Pro Kontra Fatwa MUI tentang diperbolehkannya umat islam mengganti sholat jum’at dengan sholat zuhur mendapat tanggapan dari Cendikiawan muda NU Firman Syah Ali yang akrab disapa Cak Firman.

Menurut Cak Firman fatwa MUI itu sangat tepat, apalagi Arab Saudi dan Al-Azhar juga mengeluarkan fatwa serupa.

Alasan Cak Firman sangat singkat, jelas dan padat “lha wong Baginda Nabi Besar Muhammad SAW saja selalu menghindari penyakit menular kok kita tidak? apa kita lebih hebat daripada Rasulullah SAW?”.

Cak Firman menerangkan bahwa Rasulullah pernah menolak jabatan tangan dari orang berpenyakit menular. Rasulullah juga pernah memerintahkan beberapa orang berpenyakit menular untuk tidak ikut jamaah di Masjid.

“bahkan hanya karena alasan hujan deras saja Rasulullah perbolehkan orang-orang tidak sholat jum’at, ini hanya hujan deras lho, bukan penyakit ganas dan menular yang belum ditemukan obatnya” lanjut Keponakan Menkopolhukam Mahfud MD ini.

“Orang dengan bau mulut tak sedap juga dilarang sholat jamaah ke masjid oleh Rasulullah, begitupun orang sakit dan orang yang sedang ketakutan. Lha apa kita lebih hebat dari Rasulullah kok maksa-maksa orang untuk tetap mengadakan ibadah massal di tengah wabah corona?” lanjut Bendum IKA PMII Jatim ini.

Cak Firman meminta umat islam masa kini tidak perlu merasa lebih hebat daripada Rasulullah SAW, wong Rasulullah SAW saja berikhtiar secara fisik untuk terhindar dari penyakit menular kok, lha malah kita yang hanya umat merasa lebih hebat dari Rasullah.

“Agama islam bukan agama ngawur, hukum sebab akibat berlaku. Untuk memperoleh akibat kita harus laksanakan sebab. Dengan sebab kita menghindari penularan virus corona, maka kita akan peroleh akibat berupa keselamatan dari virus corona. ini semua disebut ikhtiar. Rasulullah yang agung dan mulia selalu melakukan itu, yaitu ikhtiar” lanjut Pengurus Harian LP Ma’arif NU Jatim ini.

“Jangan apa-apa diserahkan Allah, pokoknya ada Allah. Rasulullah tidak begitu. Rasulullah berusaha fisik secara maksimal baru tawakal. Kalau lapar Rasulullah makan, kalau haus beliau minum, kalau diserang beliau melawan, kalau perang beliau angkat pedang, kalau ada penyakit menular beliau menghindar, itulah contoh mulia dari Baginda Rasul. Jangan salah kaprah, nanti perut lapar hanya berdoa tau-tau kenyang, maju perang hanya berdoa kemudian musuh mati sendiri tanpa ditebas pedang, ada penyakit menular hanya berdoa tau-tau tidak tertular. Tidak bisa begitu. Agama tidaklah seperti itu” pungkas Alumni IPNU ini. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *