oleh

Catatan LIA ISTIFHAMA : 14 Ramadlan 132 H, Runtuhnya Dinasti Umayyah, Pembelajaran Penting Resiko Pemberontakan

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
RABU (06/05/2020) | PUKUL 19.16 WIB

Tepat pada 14 Ramadhan 132 H, terjadi pemberontakan yang meruntuhkan Dinasti Umayyah. Pemberontakan ini dilakukan oleh kaum muslim pada pemerintahan muslim yang saat itu masih berdiri. Berbagai spekulasi muncul saat Khalifah Marwan II menjadi pemerintahan terakhir Dinasti Umayyah akibat pemberontakan oleh kaum Abbasiyah.

Mulai dugaaan gaya hidup khalifah-khalifah Umayyah yang dianggap melampau batas sehingga menimbulkan ketidakpuasan pada pemerintah, kebencian kaum Syi’ah pada pemerintah, maupun timbulnya fanatisme kesukuan yang membuat disintegrasi saat itu. Namun, poin utama dalam peristiwa tersebut adalah perpecahan kaum Muslim.

Runtuhnya Dinasti Umayyah harus diambil hikmah sebagai peristiwa yang memprihatinkan, karena bagaimanapun, Dinasti Umayyah telah sangat berjasa memajukan peradaban Islam dan memperluas wilayah Islam ke segala penjuru dunia saat itu.

Pentingnya menjaga persaudaraan sesama Muslim menjadi salah satu ruh Islam, yaitu memperkuat hablum minan naas. Sebaliknya, membunuh sesama Muslim adalah larangan, seperti yang dijelaskan dalam Surat an Nisa’ ayat 92. Dengan begitu, seyogyanya sebuah peperangan ataupun pemberontakan yang sangat mungkin menyebabkan pembunuhan sesama mukmin, sangat tidak layak dilakukan.

Dalam sejarah, runtuhnya dinasti Muawiyah bukan peristiwa awal, peperangan sesama kaum muslim.

Sebelumnya, telah terjadi pada masa setelah Rasulullah SAW wafat, diantaranya Perang Shiffin dan Perang Jamal. Dalam Kitab shahih bukhari hadis nomor 6721, dijelaskan sabd Rasulullah SAW: “Apabila dua orang muslim berhadapan dengan dua pedang keduanya, maka keduanya adalah termasuk penghuni neraka.”

Lantas, bagaimana jika sebuah kaum merasa sangat perlu melakukan pemberontakan jika memiliki ketidakpuasan pada pemerintah? Semisal, jika alasan sebuah kaum hanyalah memberontak tanpa menumpahkan darah.

Kiranya penting untuk meneladani sikap Rasulullah SAW yang terus mengajarkan pada kebaikan dan perdamaian.

Sebuah hadis menjelaskan: Dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Siapa melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari penguasanya, maka bersabarlah terhadapnya, karena sesunggugnya orang yang berpisah (menyingkir) dari jamaah (Islam) barang sejengkal lalu dia meninggal, maka dia meninggal secara jahiliyyah.”

Naudzu billah min dzaalik. Hadis tersebut menjelaskan pentingnya sikap sabar dan menahan diri atas segala ketidakpuasan ataupun perselisihan. Tentunya, dalam Ramadlan kali ini. tengah pandemi covid 19, kita pun memiliki kesempatan untuk dapat menjaga kesabaran. Menyikapi segala persoalan dengan pikiran dingin lebih mulia daripada membesarkan persoalan menjadi beragam intrik yang merugikan kepentingan umum. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed