oleh

Catatan LIA ISTIFHAMA : Hikmah Peristiwa Perang Zallaqah Pada 13 Ramadlan 479 H

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (05/05/2020) | PUKUL 20.45 WIB

Pertempuran Zallaqah terjadi di sebuah daerah bermedan licin dekat Badajoz, Andalusia. Pertempuran tersebut termasuk pertempuran besar yang sangat berpengaruh dalam menentukan sejarah Islam di Andalusia. Pertempuran tersebut terjadi karena keinginan para penguasa dinasti kecil mempertahankan daerahnya dari serangan Alfonso VI, Penguasa Leon-Castilla. Ini sebagai usaha penguasa dinastidinasti kecil mempertahankan eksistensinya di Andalusia. Pertempuran yang terjadi pada hari Jum’at 479 H/1086 M tersebut dimenangkan oleh pasukan Muslim yang saat itu tengah berpuasa pada pertengahan bulan suci, yaitu 13 Ramadhan.

Perang ini diberi nama az Zallaqah yang artinya perang yang terjadi di tanah yang licin. Tanah itu jadi begitu licin akibat banyaknya darah yang tumpah hingga membuat para tentara tergelincir.

Perang dalam Islam, tidak bisa dikonotasikan perebutan sebuah wilayah, melainkan sebuah jihad. Jihad bisa saja disebabkan upaya menjaga wilayahnya dari penjajah, seperti yang terjadi di Indonesia dan bisa juga disebabkan penindasan kaum kafir Quraisy, seperti yang terekam dalam sejarah Rasulullah SAW serta para sahabatnya.

Dalam Islam, situasi peperangan harus dihadapi dengan semangat jihad sehingga memunculkan keberanian dan ketabahan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Dalam Al-Qur’an, diantaranya terdapat dalam surat Al-Anfal ayat 65, At-Taubah ayat 111-112, dan Ali Imran ayat 169-171.

Sedangkan dalam Hadis, dijelaskan pentingnya ketabahan dalam berperang: Dari Salim, ayah Nadhar, dia berkata: “Abdullah bin Abi Aufa menulis lalu aku membacanya. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kau bertemu mereka (musuh), maka tabahlah”. (Shahih Bukhari, Hadis nomor 2703).

Rasulullah juga memiliki keberanian dan sikap dermawan ketika berperang. Sebuah hadis menjelaskan bahwa cara Rasulullah mengajarkan sahabatnya untuk menghindari rasa takut adalah membaca ta’awwudz selesai sholat. (Shahih Bukhari, Hadis nomor 2692).

Dalam situasi saat ini, yaitu ketika kita bersama-sama berperang melawan pandemi Covid 19, kiranya penting untuk membaca ta’awudz agar kita terhindar dari sikap panik yang berlebihan tanpa mengabaikan kewaspadaan diri dan lingkungan sekitar. “Audzu billahi minas syaitaanir rojiim”, aku berlindung kepada Allah SWT dari godaan syetan yang terkutuk. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed