oleh

Catatan LIA ISTIFHAMA : Wafatnya Sayyidina ‘Ali Pada 21 Ramadlan 40 H, Pentingnya Mewaspadai Fitnah dan Adu Domba

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
RABU (13/05/2020) | PUKUL 17.53 WIB

Shahih Bukhari hadis nomor 4007: Dari Salamah ra., Ia berkata: “‘Ali tertinggal dari Nabi SAW pada perang Khaibar, ia terserang penyakit mata, lalu ia berkata: “(Apakah) saya tertinggal dari Nabi SAW?”. Kemudian ia bertemu beliau. Ketika kami bermalam pada malam hari penaklukan Khaibar, beliau bersabda:”Besok aku akan memberikan bendera atau besok bendera akan diambil oleh seorang lelaki yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya lagi diberi kemenangan.” Kami mengharapkan bendera itu, kemudian dikatakan: “Ini adalah ‘Ali”. Lalu beliau memberikan kepadanya dan ia diberi kemenangan”.

‘Ali bin Abi Thalib, suami dari putri tersayang Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah ra., Yang sekaligus Khalifah keempat dalam Khulafaur Rasyidin, memiliki akhir hidup yang mengharukan. Ayah dari Hasan dan Husein tersebut, dibunuh oleh seorang Khawarij, Abdurrahman bin Muljam, tatkala sedang bersujud dalam shalat subuh di masjid Kufah.

Krisis politik yang ditengarai beragam fitnah dan adu domba, menjadi penyebab Khalifah ‘Ali akhirnya terbunuh dan menjadi akhir dari Khulafaur Rasyidin.

Pejuang Islam yang sangat dicintai Rasulullah wafat tepat pada 21 Ramadlan 40 H. Cintanya Rasulullah SAW kepada ‘Ali ra., sesuai sabda beliau: “Engkau (‘Ali) bagian dariku dan aku (bagian) darimu.” (HR Imam Bukhari).

Namun, kisah pahit telah terjadi, yang menjelaskan pertikaian antara pendukung ‘Ali dan ‘Aisyah. Pertikaian sangat diduga akibat berita bohong, salah satunya yang dijelaskan dalam hadis nomor 3944 tentang fitnah bahwa sayyidina ‘Ali telah menuduh Sayyidah ‘Aisyah, padahal itu hanyalah rekayasa beberapa orang.

Sayyidina ‘Ali merupakan pemimpin yang mulia dan pemberani, sesuai dengan nama aslinya, Haydar bin Abu Thalib. Kedekatan beliau dengan Rasulullah SAW juga terekam dalam berbagai kisah dan hadis, diantaranya ketika Rasulullah SAW memilih untuk mengutus ‘Ali bin Abi Thalib (bersama Khalid bin Walid) untuk pergi ke Yaman sebelum haji wada’ (haji terakhir Rasulullah SAW).

Kepergian sayyidina ‘Ali patut diambil hikmah bahwa segala fitnah dan bentuk adu domba saat itu, sangat keji dan menimbulkan resiko perginya seorang pejuang Islam yang mulia. Bukan hanya Khalifah ‘Ali, Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Ustman bin Affan, semuanya juga wafat karena dibunuh. Al Fatihah untuk semua Khulafaur Rasyidin. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed