oleh

De-DOLARisasi Kok Pakai YUAN?

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (25/10/2020) | PUKUL 14.19 WIB

De-DOLARisasi Kok Pakai YUAN?

Potretjatimdaily.com – Bye bye Dolar, Rupiah dan Yuan sekarang berkolaborasi untuk menggunakan mata uang lokal bilateral dua negara. Sebuah judul yang sederhana, sesederhana jutaan rakyat yang dianggap bodoh dan yang dinilai kagum akan keberanian keputusan tersebut.

Keputusan yang baru saja diambil oleh Pejabat keuangan negara dan pejabat tinggi lainnya. Keputusan tersebut, tidak bisa dibandingkan oleh rakyat jelantah, yang dikira Ilmunya cuman abal-abal.

Tapi, ada banyak orang yang memiliki ‘Common Sense’ atau Akal Sehat bertanya dalam hati.

Kalau kita kerjasama, maka status kita harus sama tinggi, duduk sama rendah, maka kita bisa melakukan kerjasama yang saling menguntungkan.

Tapi, kalau berat sebelah, maka tidak ada hal yang sama dalam negosiasi, agar saling menguntungkan. Tetapi, yang kuat atau yang posisinya diatas lah yang banyak diuntungkan atau yang menang.

Dalam hal transaksi dua negara Indonesia dan China, kita berharap Import dan Eksport kita sama nilainya. Ternyata kita Defisit jauh alias Import Indonesia kebanyakan dari Tiongkok.

Lalu, kalau Import lebih banyak alias Indonesia kebanyakan beli Yuan, maka posisi kita Rupiah tertekan terus dengan Yuan. Kita jadinya kalau terus alias kita jadi wajib nyetok Yuan.

Kita dengan Dolar saja kita tekor, ini sekarang dengan Yuan, kita tekor lagi. Dan, karena kita tekor terus kita harus jadi ambil Yuan.

Kalian ini nggak kapok ya, di kadalin Dolar dan IMF. Dan, sekarang mau di kadalin Yuan dengan OBOR nya.

Tidak ada yang namanya Kerjasama Yuan Rupiah disaat Neraca Perdagangan Njomplang Minus gedhe seperti ini.

Kita jadi harus Yuan. Kita kok jadi mirip Provinsi nya China sebentar lagi. Rupiah kita kurang terus, dan Tiongkok apa yang dilakukannya? Ya cetak saja Yuan nya sesuka-suka mereka, Toh ada Indonesia yang beli !. Begitu khan.

Ini versi rakyat yang masih memiliki ‘akal sehat’, bukan menteri mega bintang atau menteri multi talent.

Di Tahun 2009, puncaknya ‘Sub Prime Morgage’, Amerika Printing Money gedhe-gedhean. Dimana, di mata anda para ahli Ekonomi yang terhormat nanti Amerika Inflasi. Silahkan Ilmu Kalian pertahankan sampai mati itu Ilmu Inflasi.

Faktanya, Di Tahun 2010, 2011, 2012 dan seterusnya Inflasi Amerika Kecil. Kok bisa?

Jadi, pada saat masalah ekonomi di sebuah negara yang pakai Printing Money tadi selesai, maka uang beredar tadi kebanyakan atau banyak. Sementara, Produksinya ya sama saja.

Jadi, solusinya adalah Uang tersebut disebar ke seluruh dunia, terutama di Negara berkembang yang mana kenaikan produksinya masih tinggi. Jadi, salah satu contohnya adalah banjir Dolar Di Tahun 2011, 2012, 2013 yang banyak datang ke Indonesia pada saat itu.

Dimana, saat itu Venture Capital dan banyak lagi lembaga keuangan lempar uang Dolar tadi agar ketemu sektor produktif Di Indonesia secara gedhe-gedhean. Pada masa itu, banyak pebisnis yang lagi ngegas-ngegasnya membangun.

Kembali ke awal Covid-19, banyak negara yang Printing Money untuk solusi ekonominya. Dimana, di Tahun 2022 keatas akan ada banyak Dolar yang banjir masuk ke negara Dunia ketiga, ke negara berkembang yang akan di padukan dengan sektor produktif.

Karena di negara pencetak uang tadi, sektor produktifnya terbatas atau terhitung. Dan, tidak bisa menelan semua uang yang mereka sudah cetak tadi.

Inilah pentingnya, kita berteman dengan negara pengendali dan negara-negara sekutunya alias nanti di Tahun 2022, kita akan kebanjiran Dolar murah. Tapi, kita pesimis hal itu akan datang lagi, karena pengelolaan negara saat ini sangat pragmatis.

Karena ingin ‘Cuan’ cepat dengan Tiongkok terlihat sexy. Nggak faham banget Geopolitik luar negeri. Banyak negara.

Kembali ke masalah yang sekarang sudah terlanjur. Dan, Tiongkok diawal Covid-19 solusinya juga sama yaitu Printing Money. Sehingga akhir tahun ini dan Tahun depan akan banjir Yuan, sementara sektor produksi di China tidak terlalu baik amat karena Dunia belum Recover. Paling enak Yuan tadi dipakai untuk dagang atau untuk ‘Bait’ atau untuk umpan dagang. Eh… disambut sama Indonesia.

Kita berfikir, kenapa tak cetak Uang Rupiah sendiri juga bisa kenapa mesti Yuan? kenapa mesti Dolar? apalah itu lah namanya.

Lalu, kalau nanti efek Rupiah beredar banyak karena kita Printing Money, ya kita tinggal kerjain negara tetangga, dengan pura-pura Kerjasama De-Dolarisasi. Ya, kayak kalian sekarang lah dengan Tiongkok, gitu lah mirip-mirip. Negara Vanuatu yang ngocol itu kita kerjain, Solomom Island kita garap, dan Timor-Timur, Papua Nugini kita garap.

Itu baru namanya ‘Pejuang Bernegara’.

Kalau saat ini kok selalu jadi ‘Victim’ sih bernegaranya. Ini Otak kita rakyat yang Bodo, atau memang Pejabat negara yang terlalu pintar hingga rakyat jelantah ini memang nggak bisa faham langkah mengelola negara kalian.

Mudah-mudahan kalian benar. Kalau suatu hari nanti kelihatan hasilnya negatif, apa nggak takut sama Dosa kalian itu.

Dosa karena tidak berilmu Dan Dosa karena tidak mau dengar. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed