oleh

DELUSIONAL

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SABTU (26/09/2020) | PUKUL 07.21 WIB

DELUSIONAL

Oleh : KH. Ahmad Bahauddin Nursalim

Pujilah Allah Swt.

Artinya, semua yang kita bahasakan selama ini, sebenarnya karena kekhawatiran, khayalan, dan asumsi.

Semisal saya : “Anakku kelak jadi orang alim, biar hidupnya tentram,”.

Menurut Allah, hal ini delusional. Karena kita tidak bisa mengendalikan diri sendiri.

Tapi jika perkataanmu melibatkan Allah : “Kelak, anakku itu diurus Allah, cucuku juga diurus oleh Allah, dan besok di akherat diurusi Allah,”. Ini pasti benar!.

Artinya semua kalimat di dunia yang tidak menyebut Allah pasti salah. Karena hal itu menyandarkan pada hal yang bukan sang pelaku (Subyek).

Saya itu pernah debat sama orang Komunis. “Gini Gus, yang namanya api pasti membakar!. Jadi tidak mungkin ada orang yang terbakar api mana bisa hidup!”.

Bantahan saya sederhana : “Kalau saya percaya kisah Nabi Ibrahim yang dibakar api, namun tidak apa-apa. Kalau anda tidak percaya, tidak apa-apa,”.

“Tapi bagaimanapun kau memuji api, dia sendiri tidak pernah GR bisa membakar. Api itu tidak punya akal, kok malah kamu ribut memuji api,”.

“Coba tanyakan ke api, apakah Ia bangga bisa membakar?”.

Api, yang kau deskripsikan setinggi langit, ternyata Ia tidak GR bisa membakar. Karena Api itu tidak berakal. “Benda tak berakal kok, kamu puji seperti itu!”.

Akhirnya si komunis itu, berpikir dan sesaat terdiam. “Iya ya, gak punya akal kok aku puji?” kata si PKI.

Jadi, paling nggak anda harus punya argumen.

Coba saya tanya : “Apakah api punya akal?” Tidak.

Ketika api itu dahsyat bisa meluluh lantakkan bangunan besar di Jakarta, Pernahkah api GR, “Ini Gue”. Laiya, api sendiri tidak bangga, kok orang PKI (Komunis) bangga kepada Api?

Perkara “Jamid” (benda mati) kok disifati. Ini lho pentingnya argumentasi.

Jadi, andaikan benar api bisa membakar, dia sendiri pun tidak tahu bisa membakar atau tidak. Sebab, Api tidak punya akal.

Sama seperti : Nasi bisa membuatmu kenyang. (padahal) Nasi sendiri itu, tidak tahu benar bisa membuatmu kenyang atau tidak. Kenapa dipuji setinggi langit?.

Bagaimana bisa kita memuji perkara yang tidak memiliki akal?

Pujilah Dzat yang membuat hal itu semua, yaitu Allah Swt. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed