oleh

‘Disharmoni’ Hubungan Segitiga : Bambang-Risma, dan Risma-Whisnu

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (15/11/2020) | PUKUL 08.09 WIB

Kali ini Channel YouTube ‘Cak Sholeh’ mengupas hubungan Tri Rismaharini dengan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana. Ternyata hubungan keduanya tidak harmonis

Yang membocorkan ke publik adalah kakak kandung Whisnu, Jagad Hari Seno yang diwawancarai pengacara muda, M Sholeh di channel YouTube miliknya yang disaksikan, Sabtu (14/11/2020).

Video berjudul ‘#risma #surabaya Wawali Whisnu, Tidak Punya Peran, Fakta atau Hoax?’ itu diunggah pada Jumat (13/11/2020).

Sebagai pembuka di video itu terdapat beberapa cuplikan pernyataan Wali Kota Tri Rismaharini yang menegaskan dirinya tidak pernah meminta jabatan.

Berikut ini, beberapa pernyataan Risma :

RISMA : “Saya tidak pernah meminta jabatan ini (wali kota Surabaya red). Jangankan meminta, berdoa saja saya tidak berani,”.

RISMA : “Saya ndak minta. Bahkan saya minta ndak jadi,”.

RISMA : “Terus terang, tidak berpikir untuk peluang meminta jabatan. Bagi saya, mohon maaf itu pantang untuk meminta jabatan,”.

Secara terpisah, saat diwawancarai Sholeh, Seno cerita buka-bukaan. Berikut rangkaian dialog lengkapnya.

SHOLEH : “Setelah menang 2010, itu kan tidak lama terjadi gesekan antara Pak Bambang (Wakil Wali Kota Bambang DH) dan Bu Risma. Padahal ini kan dulunya wali kota, Bu Risma bawahannya. Giliran di balik, apa yang Mas Seno tahu hingga ujungnya Pak Bambang itu mundur?”

SENO : “Bu Risma terlalu kaku, Pak Bamabng itu tidak di uwongno (dimanusiakan – red) posisinya dia sebagai wakil.

SHOLEH : “Itu benar atau tidak,”.

Seno pun mulai bercerita.

SENO : “Ada satu cerita yang perlu saya tegaskan ketika saya bertemu Bu Risma di Bappeko (kantor Badan Perencanaan Pembangunan Kota). Selain Bu Risma menyatakan mau menjadi (calon wali kota) PDI Perjuangan, Bu Risma berjanji kepada saya,”.

SENO : “Di hadapan D (pemilik radio swasta), DR (orang dekat Risma), Bu Risma ini nanti akan istilahnya meskipun jadi wali kota akan menjaga kepentingan partai dan menjaga simbol, Bambang DH tetap dijaga. Kita ingin Mas Bambang itu maju ke tingkat yang lebih tinggi di Jawa Timur,”.

Seno melanjutkan, karena Bambang DH sebagai mantan wali kota dan menjadi wakil tentunya juga ingin programnya jalan.

Bagi Seno, keinginan Bambang DH yang disampaikan itu lumrah.

SHOLEH : “Ditanggapi negatif, akhirnya terjadi ketersinggungan. Ketika dilantik saja Bu Risma sudah menyinggung partai. Itu yang saya sampaikan tidak ada rasa terima kasih kepada partai. Dan itu sangat menyinggung Mas Bambang. Akhirnya Pak Bambang turun,”.

M Sholeh kemudian meneruskan dialognya. Sebagai masyarakat tentunya hanya tahu dari media.

SHOLEH : “Saya belum pernah melihat, misalnya pemimpin itu bilang oh ini adalah karya wali kota sebelumnya. Surabaya jadi seperti ini karena Pak Bambang’. Itu menurut Mas Seno kenapa?”.

Seno mengaku tidak mengetahuinya.

SENO : “Saya tidak mengetahui apa motivasi Bu Risma menjabat wali kota. Saya melihat dari luar dan bahasa yang dia pakai,Bu Risma ini kan sangat jarang menggunakan kami, kita. Yang digunakan adalah aku, saya. Sangat arogan sebetulnya,”.

SENO : “Tidak usah jauh-jauh sewaktu ada demo dan merusak. Apa yang dilakukan, ‘jangan rusak kotaku, aku ini siang malam’. Kan tidak etis sebetulnya sebagai seorang pemimpin,”.

Putra almarhum tokoh PDIP super lawas Ir Sutjipto atau Pak Tjip menilai jika seorang pemimpin itu harus bisa membawa kebersamaan.

SENO : “Yang seharusnya ngomong Bu Risma baik kan harusnya anak buahnya. Bu Risma harusnya mengapresiasi kerja anak buahnya. Sama seperti yang dilakukan Pak Bambang DH dulu,”.

Sholeh melanjutkan, setelah Bambang DH turun seharusnya muncul nama Whisnu Sakti Buana untuk menggantikan menjadi wakil wali kota.

SENO : “Itu sudah bagian dari planning partai. Karena posisi Whisnu sebagai Ketua DPC PDIP (saat itu),”.

SHOLEH : “Waktu itu Bu Risma langsung mau?”.

SENO : “Bu Risma tidak mau,”.

SHOLEH : “Tidak mau sosok Whisnu atau tidak kepingin ada wakil?”.

SENO : “Ini yang menjadi tidak jelas, sebetulnya karena komunikasi Bu Risma kepada partai cukup arogan. Tidak ada komunikasi yang enak. Tapi Bu Risma tidak menantang Mas WS (Whisnu Sakti) secara terang-terangan. Mengiyakan apa yang diusulkan partai tetapi dalam kata iyanya itu tidak tercermin di dalam apa yang dia lakukan,”.

SENO : “Justru dalam perbuatannya tidak sama. Artinya Bu Risma mencoba menghambat proses agar Whisnu ini supaya tidak jadi wakil. Saat itu ada batas tenggang. Kalau sampai batas waktu ini Whisnu belum diusulkan atau diputuskan jadi wakil, maka Bu Risma nanti tidak perlu ada wakil. Bu Risma mengejar itu. Sampai kemudian muncul kasus di Mata Najwa yang Bu Risma nangis-nangis yang katanya didesak. Kita semua bingung, partai, kita, keluarga, Whisnu juga bingung. Yang mendesak siapa dan persoalan apa. Disampaikan secara terbuka kan lebih enak,”.

SENO : “Dan yang menjadi lucu adalah bahkan saat pelantikan Whisnu, bukan wali kota lho. Yang melantik itu gubernur. Jadi Pak Karwo yang disebut Pakdhe Karwo itu sebagai gubernur itu berupaya supaya pelantikan Whisnu segera terlaksana. Padahal posisi Pakdhe Karwo itu secara politik dengan bapak saya (Ir Soetjipto) berbenturan. Tetapi dengan Whisnu itu seperti anaknya sendiri. Beda dengan Risma,”.

SHOLEH : “Apakah Bu Risma tanda petik mengganjal?”.

SENO : “Bukan proses pelantikannya. Yang saya tahu, yang melantik Pemprov Jatim. Melantik dan tidak perlu cawe-cawe. Yang jadi masalah adalah kasihan Whisnu tidak diajak komunikasi, salahnya apa. Diposisikan gitu kan terjadi pencitraan di masyarakat bahwa posisi Whisnu yang menekan Risma untuk menjadi wakil. Padahal Whisnu ini jadi wakil atas usulan partai. Bagaimana dia Ketua DPC,”.

Sholeh kemudian mempertanyakan hubungan Whisnu sebagai wakil wali kota dengan Risma.

SHOLEH : “Katanya rapat-rapat pun tidak dilibatkan. Pergantian ASN juga tidak dilibatkan. Anda kan kakaknya jadi lebih tahu apa yang terjadi?”.

SENO : “Saya tahu dari sisi Whisnu adik saya, sebagai catatan saya tidak tahu dari kedua sisi. Yang terjadi adalah Whisnu mengaca pada kasus Bambang DH, kalau ada konflik tidak ada yang untung. Partai ndak untung, pencitraan buruk. Mending dia di posisinya, Bu Risma maunya seperti apa, dia (Whisnu red) jadi Ketua DPC. Dan saat terjadi konflik, dia dilibatkan atau tidak itu kan hak nya wali kota. Ya sudah meski itu dipandang orang Jawa bilang ‘ngunu yo ngunu yen ojo ngunu’. Risma memposisikan seperti itu, yang penting tidak terjadi gesekan dan dia mengikuti supaya pencitraannya bagus. Kan ini untuk kepentingan pencitraan partai,”.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkot Surabaya, Febri Aditya Prajatara hingga pukul 13.54 WIB tidak merespon saat dikonfirmasi terkait pengakuan Seno. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed