oleh

Disidentifikasi, Dislokasi dan Disorientasi

Disidentifikasi, Dislokasi dan Disorientasi

Oleh : EMHA AINUN NAJIB

Ya, sangat luas sekali untuk bicara mengenai diri ini.

Wah, kalau pakai istilah modern, nggak enak juga. Tapi, kalau nggak pakai, juga nggak gampang.

Jadi, kan ada yang namanya Identifikasi, kemudian Lokasi, kemudian Orientasi.

Yang kebanyakan kita sedang mengalami itu kan, Disidentifikasi, Dislokasi dan Disorientasi.

Artinya, kita ini sedang tidak tahu siapa kita.

Kalau kita tidak tahu siapa kita, kita juga tidak tahu kita dimana kita berada.

Kalau kita tidak tahu dimana kita berada, kita juga nggak tahu mau berjalan kemana.

Dalam sepakbola, yang lapangannya segitu sempit saja, setiap orang di lapangan harus tahu, dia kiper, apa gelandang, apa striker.

Kalau dia kiper, dia tahu tempatnya di bawah gawang dan sekitarnya.

Kalau dia tidak tahu, dia bisa lari kemana-mana. Karena dia tidak tahu.

Jadi, setiap orang yang tidak tahu dirinya, dia tidak akan tahu tempatnya, dan dia tidak akan tahu akan berjalan kemana.

Saya khawatir bangsa kita sedang mengalami krisis yang seperti itu sebenarnya.

Sedang tidak tahu siapa diri kita, sedang tidak tahu kita sedang berada dimana, dan sedang tidak tahu akan kemana pergi.

Kalau sepakbola gampang. Tapi kalau masalah kebangsaan, kan Complicated.

Katakanlah sekarang, siapa dirimu? siapa diriku?

Karena ini bukan hanya siapa namamu. Kalau nama, kan gampang.

Tapi siapa diri sosialmu? siapa diri budayamu? siapa diri rohanimu?

Siapa diri peradabanmu? siapa dirimu yang sebenarnya ditengah seluruh silang sengkarut dari keadaan dan kenyataan hidup ini?

Jadi, Orang sudah tidak mengerti lagi, siapa dirimu? Dia hanya…

Badan setiap orang hanya alat dari nafsunya yang mendorong dia dari jengkal ke jengkal.

Orang tidak menuruti mana baik mana buruk. Orang hanya menuruti nafsunya apa hari ini, itu dia lampiaskan. Pinginnya apa hari itu, dia lampiaskan.

Jadi, yang berlaku bukan pengetahuan mengenai diri dan pengetahuan mengenai di mana tempat dia berada dan pengetahuan akan kemana.

Keadaan seperti ini kalau kita jelaskan bisa panjang lebar. Tapi intinya, kita sedang berada di puncak keadaan seperti itu.

Dan ini tidak punya waktu lagi untuk lebih bodoh lagi, lebih gelap lagi, lebih buntu lagi. We don’t have more time.

Kita hanya punya waktu beberapa tahun ke depan ini. Setelah itu, kita tidak boleh begitu lagi.

Atau mati bersama-sama, hancur bersama-sama, atau kita bangkit sejak sekarang. Mulai tahu siapa diri kita.

Jadi tidak hanya menuruti keinginan-keinginan kelompoknya masing-masing, Individu masing-masing.

Tapi mencoba untuk mengambil jarak dari sendiri-sendiri, supaya mengalami proses reidentifikasi, supaya mengalami proses mengetahui dimana titik koordinat sosial kita. Gitu khan, supaya kita tahu akan kemana.

Saya kira ini masalah yang sangat krusial dan sangat massal menimpa kita bersama.

Jadi saya kira sejak dari rumah, sejak dari kita shalat, yang kita cari adalah Identifikasi kita, lokasi kita, dan orientasi kita.

Kalau tidak, anda lihat. Ini sudah ada daftar kehancuran-kehancuran yang terus-menerus, ada yang kecil, ada yang besar.

Tuhan sedang mempermalukan orang-orang di Indonesia ini. Satu persatu, termasuk tokoh-tokoh sedang ditelanjangi pakaiannya, sedang dicopotin katoknya (celana pendeknya) satu persatu.

Mudah-mudahan Anda dan saya, tidak termasuk dalam daftar yang akan oleh Allah dalam satu dua tahun ke depan ini. Amin ya robbal ‘alamin. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed