oleh

Diskusi Kajian Keagamaan, NING LIA : Sikap “Moderasi beragama”, Dukung Program Jatim Harmoni

-All Post-491 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
MINGGU (27/10/2019) | 17.15 WIB

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Menggelar Diskusi Kajian Keagamaan “Memahami Moderasi beragama”, di Kampus Unmuh Surabaya, Jum’at (25/10/2019) lalu.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Tampak Hadir dalam kesempatan siang itu, sebagai Nara Sumber, Plt. Kakanwil Kemenag Jatim, Mochammad Amin Machfud, M.Pd.I dan Aktivis Perempuan Surabaya, Lia Istifhama, S.Sos, MH.I.

Sedangkan, Zubaidi, Kemenag BEM UM Surabaya, didaulat menjadi pengantar Diskusi, dan mendampingi Ketua HIMA studi Agama, Nurul Faisol sebagai moderator acara yang diikuti oleh ratusan mahasiswa tersebut.

Plt. Kemenag Jatim, Mochammad Irsyad, S.Pd.I, atau yang akrab disapa Irsyad ini, mengatakan, “Sejak tahun 2012 Index kerukunan umat beragama di Jawa timur terus mengalami penurunan. Kasus-kasus keagamaan yang terjadi di Jawa Timur juga masih banyak yang belum terselesaikan misalnya kasus pengusiran Syiah di Sampang sejak 2012 sampai sekarang belum selesai”, tegasnya.

Lebih Lanjut Irsyad menyampaikan, “Belum lagi menurut survey, 9,5% kalangan mahasiswa ingin merubah ideologi Pancasila menjadi Ideologi Khilafah”, tambahnya.

“Seperti kita ketahui bersama, Menurut buku Moderasi beragama yang diterbitkan oleh kementrian Agama Republik Indonesia, Moderasi beragama berarti “sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam politik beragama”, cerita Irsyad.

“Jadi Moderasi beragama (merupakan) esensi agama, dan pengimplementasiannya menjadi keniscayaan dalam konteks masyarakat yang plural dan multikultural seperti Indonesia”.

Di akhir paparannya, Irsyad berpesan, “Karenanya, moderasi beragama amat penting dijadikan cara pandang, dalam melawan faham Ekstremisme dan radikalisme”, tutupnya.

Sementara itu, aktifis perempuan Surabaya, Lia Istifhama, S.Sos., M.E.I, menambahkan, “ada yang aneh, Jawa Timur yang dikenal sebagai masyarakat yang suka tersenyum akan tetapi dalam hal Toleransi beragama menempati peringkat ke 17”, ujarnya.

Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, mengingatkan, “Maka dari itu, di moment sumpah pemuda yang mengandung 3 point pemersatu bangsa, ayo kita jaga persatuan dan kesatuan ditengah kebhinekaan bangsa ini”, tegasnya, yang diamini dan disambut tepuk tangan meriah dari seluruh audience yang hadir.

Bicara radikalisme, Ning Lia bercerita pengalamannya sewaktu kuliah di Unair, disitu banyak sekali tawaran-tawaran pengajian yang tidak jelas dan pengajarannya banyak mengandung unsur radikal dan kebencian bahkan yang mengherankan mereka mempunyai Quran yang beda dengan Quran pada umumnya.

Untuk itu Ning Lia berpesan agar mahasiswa berhati-hati dalam pergaulan meskipun menurutnya pergaulan dengan banyak teman itu sangat baik dalam mengukur atau menguji diri sendiri.

Salah satu ancaman terbesar yang dapat memecah belah kita sebagai bangsa adalah konflik dengan aksi-aksi kekerasan dan hal itu dipicu dari Fanatisme ekstrem yang berlatar belakang intra agama (sektarian) maupun antar agama (komunal).

Kandidat Doktor UINSA Surabaya ini, menegaskan, “Untuk mencegah fanatisme ekstrem adalah penerapan Moderasi beragama, karena (Moderasi beragama) adalah penguatan toleransi”,

“Bukankah Islam mengajarkan Hablum minallah dan hablum minannas, mari kita jaga harmonisasi hidup dalam keberagaman, sebagaimana point Jatim Harmoni dalam program Nawa Bhaktinya Pemprov. Jatim”, ungkap Ketua DPP Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ini.

“(Mari kita jaga) persaudaraan pada semua manusia secara universal tanpa membedakan ras, agama, suku dan aspek-aspek kekhususan lainnya dan juga persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme (hubul wathon)” pungkasnya. (AND)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed