oleh

dr. TAUFIQ: Sinovac adalah Vaksin Terlucu dari 10 Vaksin Dagelan WHO

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (20/12/2020) | PUKUL 06.59 WIB

Seorang dokter spesialis penyakit dalam yang berasal dari Kota Cirebon, dr. Taufiq Muhibbuddin Waly, Sp.PD membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Pimpinan PB IDI dengan tembusan ke Presiden Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Dalam surat yang berjudul “Cerdaskan Masyarakat Indonesia” itu, dr. Taufiq menjelaskan soal masih belum ada vaksin yang benar-benar tangani Virus Corona (Covid-19).

Berikut ini, 10 fakta di balik ‘kelucuan’ soal Vaksin ‘Sinovac’, buatan China negara asal Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), antara lain :
(1). Masih belum ada vaksin yang benar-benar tangani Virus Corona ;

Berdasarkan hasil investigasi terhadap jurnal-jurnal internasional , dimana dari 10 vaksin unggulan WHO yang telah masuk fase 3 masih di bawah standar (Vaksin dagelan).

Lebih parahnya lagi, Vaksin asal China, ‘Sinovac’ adalah vaksin ‘terlucu’ dari 10 Vaksin tersebut.

(2). Ke-10 Vaksin unggulan WHO yang telah masuk fase 3 masih di bawah standar.

(3). Vaksin ‘Sinovac’ adalah vaksin ‘terendah’ dari 10 Vaksin unggulan WHO

(4). Titer antibodi neutralizing Sinovac, bersama dengan ‘CanSinoBio’ adalah terendah dari vaksin-vaksin lainnya.

(5). Titer antibodi lgG terhadap spike protein SARS COV 2 bersama vaksin Sinopharm adalah terendah di antara vaksin-vaksin lainnya.

(6). Limposit T sitotoksit tidak di periksa pada riset Sinovac.

(7). Tidak di lakukannya percobaan vaksinasi pada orang tua (≥ 60 tahun).

Padahal uji coba pada orang tua mutlak harus ada pada uji klinis fase 2 riset vaksin.

(8). Fase 3 dari Vaksin Sinovac, yang saat ini tengah berjalan, tidaklah merubah derajat dari keefektifan vaksin tersebut.

Sebab, keefektifan vaksin terutama di nilai pada fase 1 – 2.

Sedangkan fase 3, terutama menilai safety atau efek samping dari vaksin tersebut.

Tidak ada lagi pemeriksaan laboratorium untuk menilai IgG, antibodi neutralizing, limposit T sitotoksik dan sel NK pada uji klinis fase 3.

(9). Sinovac mempunyai efek samping yang setingkat dengan placebo.

Atau tidak jelas, apakah Sinovac suatu vaksin atau bukan.

(10). Permintaan IDI supaya Presiden Jokowi dan jajaran kabinetnya menjadi contoh teladan bagi masyarakat Indonesia sehingga tidak ragu-ragu untuk di vaksinasi adalah sebuah pembodohan oleh ahli kepada masyarakat.

Justru seharusnya, IDI memberikan masukan kepada Presiden Jokowi untuk mengembalikan Vaksin Sinovac ke negara asalnya karena tidak layak pakai.

Sebab memvaksinasi ratusan juta rakyat Indonesia, dengan keefektifan vaksin sangat rendah, merupakan suatu sandiwara komedi yang sangat besar, dan memalukan kita semua.

JASA APLIKASI DAN KONTRUKSI BANGUNAN

 

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Berikut salinan lengkap surat dari dr. Taufiq Muhibbuddin Waly, Sp.PD.

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Cirebon, Indonesia 13 Desember 2020

Kepada Yth.
Sejawat Para Pimpinan PB IDI
di
Tempat

Salam Sejawat,
Semoga sejawat semua, dalam keadaan sehat wal afiat selalu. Aamiin yra.

Para Sejawat Yth,
Pada hari ini saya membaca dan melihat video ketua tim Satgas COVID-19 PB IDI, Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM dalam masalah vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Beliau menghimbau supaya bapak Presiden dan para Menterinya seyogyanya divaksinasi terlebih dahulu. Untuk menjadi contoh teladan bagi masyarakat Indonesia sehingga tidak ragu-ragu untuk divaksinasi.

Apakah ini suatu himbauan yang baik?

Para Sejawat Yth,
Pada hemat saya, salah satu fungsi dari dokter adalah mencerdaskan masyarakat yang awam dalam masalah kesehatan, supaya dapat lebih mengerti tentang hal tersebut.

Vaksin yang akan disuntikkan kepada masyarakat Indonesia saat ini adalah vaksin Sinovac. Dan saya telah mengirimkan artikel pada sejawat semua, tentang 10 vaksin unggulan WHO yang telah masuk fase 3 (AGAMA COVID-19, VAKSIN DAGELAN DAN VAKSIN HORROR (Lawan Penjajahan COVID-19)).

Hasil investigasi terhadap jurnal-jurnal internasional yang saya dapatkan, telah di tuliskan dalam artikel itu. Maka berdasarkan ilmu saya, 10 vaksin unggulan WHO tersebut masih di bawah standar (vaksin dagelan). Dan yang paling terlucu dari vaksin-vaksin dagelan tersebut adalah vaksin Sinovac.

Apakah para sejawat setuju dengan penilaian saya itu?

Di artikel tersebut saya tuliskan bahwa titer antibodi neutralizing Sinovac, bersama dengan CanSinoBio, adalah terendah dari vaksin-vaksin lainnya. Titer antibodi IgG terhadap spike protein SARS COV 2, bersama vaksin Sinopharm, adalah terendah di antara vaksin-vaksin lainnya. Limposit T sitotoksik tidak di periksa pada riset vaksin Sinovac. Percobaan vaksinasi pada orang tua (≥ 60 tahun), tidak mereka lakukan. Padahal uji coba pada orang tua mutlak harus ada pada uji klinis fase 2 riset vaksin.

Dengan dasar-dasar di atas, wajar bila Sinovac, mempunyai efek samping yang setingkat dengan placebo. Atau tidak jelas, apakah Sinovac suatu vaksin atau bukan. Karena itulah saya menempatkannya sebagai vaksin terlucu dari 10 vaksin dagelan WHO.

Bila sejawat setuju dengan apa yang saya tuliskan di atas, maka menyarankan supaya presiden disuntik terlebih dahulu dengan vaksin terlucu itu (Sinovac), adalah suatu pembodohan.

Seyogyanya sejawat menyarankan pada Presiden RI, supaya vaksin Sinovac itu, jangan dipakai atau dikembalikan lagi ke negara Cina. Sebab memvaksinasi ratusan juta rakyat Indonesia, dengan keefektifan vaksin sangat rendah, merupakan suatu sandiwara komedi yang sangat besar, dan memalukan kita semua.

Memalukan kita semua, karena kitalah yang paling mengerti dalam masalah vaksin tersebut. Dan adalah dosa yang sangat besar, bila kita tidak memberikan ilmu yang benar dalam masalah vaksin tersebut.

Fase 3 dari vaksin Sinovac, yang saat ini tengah berjalan, tidaklah merubah derajat dari keefektifan vaksin tersebut. Sebab keefektifan vaksin terutama di nilai pada fase 1-2. Sedangkan fase 3, terutama menilai safety atau efek samping dari vaksin tersebut.

Tidak ada lagi pemeriksaan laboratorium untuk menilai IgG, antibodi neutralizing, limposit T sitotoksik dan sel NK pada uji klinis fase 3.

Demikianlah surat saya.

Semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Untuk memperkuat pengembalian vaksin tersebut selain pada Presiden RI, surat ini pun saya tembuskan pada anggota DPR RI.

Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Saling berlaku jujurlah dalam ilmu, dan jangan merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya ketimbang berkhianat dalam harta” – ( Abu Nu’ai )

Salam sejawat,

dr. Taufiq Muhibbuddin Waly, Sp.PD

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed