oleh

Gelar Gala Dinner dengan UNESA dan FDGBI, Wagub EMIL Apresiasi Bahasa Indonesia-Melayu sebagai Bahasa Ilmiah Internasional

-All Post-695 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
RABU (06/11/2019) | PUKUL 23.05 WIB

Bertempat di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (06/11/2019) malam, digelar Malam Gala Dinner bersama Gubernur Jawa Timur dengan Peserta Musyawarah Internasional dan Seminar Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) ke-4 di Surabaya ini, berlangsung penuh keakraban.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, Bertindak selaku tuan rumah, mewakili Gubernur Jatim, Khofifah, yang berhalangan hadir, disebabkan adanya kunjungan mendadak di kabupaten pasuruan ini, menyampaikan maaf kepada tamu undangan.

“Mohon maaf, bu Khofifah (Gubernur Jatim), masih di Kabupaten Pasuruan. Beliau (Gubernur Khofifah) sampaikan salam dan terima kasih atas kehadiran para undangan yang terhormat”, ujarnya.

Atas nama Pemprov Jatim, Wagub Emil, sangat meng apresiasi dan menyambut positif inisiatif para Guru Besar dari Indonesia dan Malaysia, untuk mengupayakan agar bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa ilmiah internasional.

“Secara kultur, bahasa Indonesia dan Melayu memiliki banyak kesamaan, tentu ini akan membanggakan bagi kedua negara yang serumpun,” tandasnya.

Wagub Emil menambahkan, sebab jika bahasa Indonesia-Melayu menjadi bahasa ilmiah internasional, tentu bahasa tersebut, khususnya bahasa Indonesia, akan digunakan secara lebih luas oleh masyarakat dari berbagai negara di dunia.

“Kita bersyukur dan bangga, bahwa para tokoh sekaliber guru-guru besar, bukan hanya dari Indonesia, tapi juga Malaysia yang sepakat memperjuangkan bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa resmi ilmiah internasional. Sehingga kedepan, kita bisa memperkenalkan bahasa ini lebih luas lagi,” pujinya.

Guna mendukung hal tersebut, imbuh orang nomor dua di Jatim ini, sejak saat ini seluruh masyarakat juga harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam acara resmi maupun informal, sebab salah satu manfaatnya, adalah meminimalisir timbulnya friksi.

“Karena, bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang bisa mengekspresikan kritik sekalipun, dalam cara yang sangat baik, tanpa menghilangkan makna di dalamnya. Jadi, jika bahasa Indonesia dipelajari dan di kuasai dengan baik, Insha Allah suasana akan jauh lebih adem, dan kita bisa menghindari friksi-friksi yang tidak perlu terjadi,” tegasnya.

Lebih lanjut Wagub Emil mengatakan, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik juga akan menghindarkan dari berita palsu alias hoax. Sebab, salah satu suburnya penyebaran hoax adalah karena penggunaan bahasa-bahasa yang kurang baku, serta menimbulkan interpretasi atau tafsiran yang lebih vulgar, dan berpotensi menciptakan friksi.

Sementara dalam sambutannya, Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes, mengatakan, bersama seluruh rekan-rekan guru besar se-Asean, pihaknya akan mendeklarasikan untuk menjadikan bahasa Indonesia-Melayu menjadi bahasa ilmiah internasional. Karena itu, dirinya meminta masukan agar pertemuan tersebut bisa berlangsung optimal.

“Kita memiliki harapan besar, apalagi Mendikbud kita sekarang baru. Saya berharap, nanti temen-temen guru besar ini ada deklarasi khusus yang memberikan pencerahan pada Menteri kita, karena tantangan ke depan luar biasa,” katanya.

Salah satu tantangan tersebut, menurut Nurhasan, adalah percepatan di era industri 4.0, bahkan 5.0. Pihaknya optimis deklarasi yang diharapkan dapat menghasilkan masukan yang bermanfaat. Sebab para guru besar disini bukan hanya alumni S3 dari Indonesia, tapi juga Jerman, Jepang, dan seluruh dunia”, pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Forum Silaturahmi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini, merupakan rangkaian acara dari Pertemuan 154 Guru Besar dari 40 Universitas di ASIA, yang terselenggara atas kerja sama Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan FDGBI, dengan mengambil thema “Bahasa Indonesia-Melayu sebagai Bahasa Ilmiah Internasional”.

Konggres yang berlangsung selama 4 hari tersebut, membahas pentingnya menjadikan Bahasa Indonesia Melayu sebagai Bahasa Ilmiah Internasional untuk percepatan Guru Besar di Indonesia. Karena banyak Jurnal Guru besar terhambat saat proses menuju indeks Scopus.(HMD).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed