10 Sunnah Selama Hari Raya Idul Fitri

 293 views

Dr. Lia Istifhama, M.E.I Pembina PP Raudlatul Banin wal Banat Surabaya

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (11/05/2021) | PUKUL 06.02 WIB

Jelang 1 Syawal 1442 H, tentunya umat muslim patut dan berhak merasakan kebahagiaan lebih dan menyiapkan segala momentum sebagai perwujudan rasa syukur setelah berpuasa selama bulan Ramadhan. Diantara kebahagiaan tersebut adalah sajian khas lebaran yang menyertai momen silaturahmi, seperti ketupat dan opor ayam. Kelezatan ketupat yang berada dalam naungan opor ayam, tentu diakui banyak pihak. Namun, penting diketahui bahwa makanan halal tersebut, memiliki nilai filosofi yang juga penting diketahui.

Ketupat yang memiliki bentuk unik, ternyata sudah ada sejak zaman Hindu-Budha. Tepatnya pada abad ke-15 saat Sunan Kalijaga mengenalkan ketupat sebagai bagian dari penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Dalam penyebarannya, Sunan Kalijaga membudayakan istilah yang dikenal dengan Bakda. Bakda sendiri memiliki arti “setelah”. Ada dua buah Bakda yang dibudayakan, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran adalah saat Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan Bakda Kupat adalah hari raya bagi orang yang melaksanakan puasa syawal selama enam hari. Biasanya, Bakda Kupat dilaksanakan satu minggu setelah Lebaran.

Ketupat atau kupat sendiri merupakan singkatan dari frasa dalam bahasa jawa “ngaku lepat” yang artinya mengakui kesalahan. Dalam tradisi Jawa, proses mengakui kesalahan dapat dipraktekkan melalui proses “sungkeman”, yaitu anak atau yang lebih muda, bersimpuh di hadapan orang tua untuk meminta maaf atas kesalahannya. Bukan hanya pengakuan kesalahan, sungkeman juga mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, dan meminta keikhlasan serta ampunan dari orang tua.

Tradisi sungkeman yang memiliki makna penghormatan pada orang tua, merupakan bagian dari ajaran Islam, yaitu yang dijelaskan dalam hadis:

ألْبَرَكَةُ فِيْ أَكَابِرِنَا فَمَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلُّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا (رواه الطبراني)

“Barakah itu pada orang-orang tua kita. Maka barangsiapa tidak menyayangi orang muda kita dan tidak menghormati orang tua kita maka tidaklah dari (golongan) kita. (HR. Imam Thabrani, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadis nomor 3206).

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa kupat merupakan singkatan dari “laku papat” atau empat tindakan. Sedangkan laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan lebaran. Empat tindakan tersebut adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran memiliki makna usai yaitu berakhirnya waktu puasa dan terbukanya pintu ampunan. Luberan memiliki makna meluber atau melimpah rezeki sehingga kita hendaknya bersedekah. Leburan memiliki makna habis dan melebur, yaitu menghabiskan kesalahan dengan permohonan maaf. Sedangkan laburan adalah labor atau kapur, yaitu manusia hendaknya memutihkan hati satu sama lain.

Minta maaf dan memaafkan adalah hal yang mulia dalam ajaran Islam. Berikut diantara hadis yang menjelaskan keutamaan memaafkan:

الْعَفُوْ أَحَقُّ مَا عُمِلَ بِهِ (رواه البيهقي عن علي)

“Memaafkan adalah yang paling hak (benar) dikerjakan.” (HR. Baihaqi dari Ali, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadis nomor 5696).

Filosofi lainnya adalah dari bentuk ketupat. Bahwa ketupat dirajut dengan anyaman yang berarti bahwa hidup memiliki proses ikhtiar, dan saat dibuka, maka kita temui nasi putih yang bermakna bahwa kita harus memiliki kesucian hati untuk memohon maaf atas kesahalahan.

Ketupat pun dihidangkan dengan dengan lauk yang bersantan (santen) sesuai pantun Jawa : “Kupat Santen“, kulo lepat nyuwun ngapunten (Saya salah mohon maaf). Kuah dan bersantan inilah yang dinamakan masakan opor. Umumnya, opor berisikan sayuran labu dan sayur kacang dengan perpaduan rempah khas Jawa. Sedangkan untuk lauknya, dapat diambil dari daging ayam kampung, sapi, bebek, ataupun tahu tempe. Ketupat dan opor akan lebih sempurna jika ada pelengkap sambal goreng kentang ati ayam ataupun telor bumbu petis.

Opor memiliki beberapa macam sesuai selera yang memasak. Sebagai contoh, opor yang berwarna kuning, menggunakan bahan kunyit dan jintan. Jenis opor ini merupakan pengaruh dari masakan India. Sedangkan opor yang minim kelapa sehingga warnanya cenderung putih, merupakan pengaruh dari masakan Tionghoa.

Dengan begitu, Subhanallah, bukan? Hari Raya Idul Fitri bukan saja memiliki kekhasan dalam aktivitas ibadah, namun juga kelezatan makanan yang semakin menambah keistimewaannya. Akhir kata:
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Taqabbal Yaa Kariim.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ

“Semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian.” (Red)

Ditulis Oleh : Dr. Lia Istifhama, M.E.I Sekretaris MUI Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *