Catatan LIA ISTIFHAMA : 10 Hari Pertama Ramadlan, Dapatkah Kita Berpuasa Demi Keridlaan Allah SWT

 575 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (03/05/2020) | PUKUL 16.29 WIB

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,dimana ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda,

“Awal bulan Ramadan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka).”

Meskipun hadis tersebut tergolong dlaif (lemah), namun tidak ada salahnya untuk mengambil hikmah dari setiap 10 hari bulan Ramadlan. Termasuk ketika kita meyakini bahwa 10 hari ibadah ramadlan yang sudah kita jalankan, adalah salah satu upaya kita mengharapkan Rahmat Allah SWT.

Rangkaian ibadah Ramadlan, terutama menjalankan puasa, merupakan ikhtiar penting bagi umat Islam untuk tetap konsisten mentaati perintah agama selama ia hidup. Terlebih jika ibadah puasa dilaksanakan sepenuhnya mengharapkan keridlaan Allah SWT. Tertulis dalam Shahih Bukhari, yaitu hadis nomor 38, bahwa hal tersebut adalah termasuk bagian keimanan.

“Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka ia diampuni dosanya yang telah lampau.”

Subhanallah, janji Allah atas kesempatan dihapusnya dosa manusia selama hidup, tentu menjadi impian utama bagi siapapun muslim yang mengimani hari akhir, termasuk keberadaan surga dan neraka.

Dan pertanyaan yang menjadi renungan kita, dapatkah kita menjalankan puasa dengan niat tidak sebatas menjalankan kewajiban sebagai umat Islam, namun juga ingin menggapai keridlaan Allah SWT. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *