Dukung Gubernur Khofifah Terkait Ekspor Impor, Ini Diskusi Perempuan Tani HKTI Dengan Eksportir Terbaik Jatim

 22 views

Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim, Lia Istifhama saat menerima bakery produk PT. CJI

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS ,(25/03/2021) | PUKUL 20.48 WIB

TOKOH | Sikap tegas Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menegaskan bahwa Jatim tidak memerlukan beras impor lantaran pasokan cukup hingga akhir Mei 2021, menuai apresiasi banyak pihak.

“Kami sebagai relawan beliau (Khofifah-Emil) saat Pilgub lalu, mengakui bahwa ibu Gubernur memang layak menjadi teladan karena beliau obyektif dan tegas. Beliau secara gamblang menjelaskan data mengenai ketersediaan pangan di Jatim dan memberikan sikap optimis terkait kestabilan harga gabah di tingkat petani”, jelas Hamedi, Ketua Sahabat KIP (25/3).

Senada dengannya, Lia Istifhama selaku ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jatim, mengapresiasi transparansi dan ketegasan dalam sikap Gubernur perempuan pertama Jawa Timur.

“Seperti yang disampaikan Ketua Umum kami (Dian Novita Susanto), penting sekali tranparansi data terkait pangan. Dan ternyata kemudian Gubernur Jatim menyampaikan hal tersebut, bahkan dengan sikap optimis kestabilan harga gabah yang tentunya meningkatkan gairah petani. Sikap beliau ini sangat tepat karena berbicara konteks regional yang disesuaikan supply skala regional juga, tidak melebar kemana-mana,” terangnya.

Lia juga menjelaskan bahwa kajian impor pangan memiliki keterkaitan dengan ekspor.

“Kalau kita mengkaji potensi pertanian, maka penting menjadi pemikiran bersama bagaimana produktivitas semakin naik hingga melakukan ekspor. Nah, Jatim sudah membuktikan melalui ekspor pertanian senilai 140 milliar pada 2021 ini.”

“Kebetulan, kami kemarin (24/3) berkunjung di PT Chiel Jedang Indonesia yang beberapa waktu lalu mendapatkan penghargaan sebagai eksportir terbaik se Jatim, terutama dalam hal food and beverages. Selain berkontribusi membuka lahan pekerjaan bagi masyarakat lokal, CJI juga membantu serapan produk pertanian lokal, diantaranya tetes tebu yang disuplai melalui PTPN. Namun, ada beberapa produk yang bahan bakunya diambil dari luar (impor), yaitu ketela pohon. Maka penting untuk menjadi perhatian bagaimana agar produk-produk ekspor seharusnya mendapatkan bahan baku dari lokal.”

“Oleh sebab itu, ketika saat ini muncul polemik impor garam, penting untuk diperhatikan bagaimana agar produksi garam lokal memang sesuai kebutuhan industri. Pendampingan dari calon whole seller, yaitu industri, harus ada sehingga bisa terkontrol produksi sesuai kapasitas (industri ekspor). Tentunya, peran pemerintah juga diperlukan selama proses produksi pertanian dari petani hingga panen untuk kemudian didistribusikan pada pabrik selaku whole sellernya,” pungkasnya yang didampingi.

Senada dengannya, Ketua PTHKTI Kota Probolinggo, Dwi Laksmi Syntha, menjelaskan bahwa gairah petani secara signifikan dipengaruhi kebijakan pemerintah.

“Sikap Gubernur Jatim secara nyata membuat petani merasa aman dari kekhawatiran kompetisi komoditi pangan dengan produk impor. Sebagai contoh kota Probolinggo, meski persawahan tidak terlalu dominan, namun masih cukup banyak disini dan para petani butuh semangat dari semua pihak. Semangat tersebut didapat dengan berbagai cara, termasuk dengan stimulus bahwa Jatim memiliki potensi pertanian dan perikanan yang tinggi sehingga tidak perlu impor dalam komoditi tersebut. Kebetulan Kota Probolinggo termasuk salah satu kota Pelabuhan.”

Ketua Sahabat Khofifah Indar Parawansa (KIP), Hamedi bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa

Persoalan ekspor impor serta kestabilan harga memang sering mewarnai pemberitaan media saat ini, terlebih memasuki bulan suci Ramadlan April mendatang. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *