oleh

Dukung Program vaksinasi Gubernur Jatim, Ketua Sahabat KIP Surabaya Terima AstraZaneta

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SEASA (22/06/2021) | PUKUL 22.07 WIB

Meskipun, ditengah kontroversi fatwa hukum soal Kandungan tripsin pankreas babi yang digunakan dalam proses produksi vaksin jenis AstraZaneca.

Tampaknya, tak lantas membuat barisan relawan pendukung Khofifah-Emil saat pilgub Jatim 2018, untuk bergeming.

Hal ini, terlihat dari panjangnya antrian calon penerima AstraZaneca itu, dengan tertib, mengikuti program vaksinasi yang diprakarkai oleh Pemprov Jawa Tmur.

Sebut saja diantaranya, Suara Anak Nusantara Indonesia (SANI), Barisan Relawan Jokowi Presiden (BARA-JP), dan laskar Nusantara (LANUSA),

Selanjutnya, ada Barisan Gus dan Santri (BagusS), Perjuagan Anak Bangsa – KIP-EMIL dan Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya.

Guna mendukung program vaksinasi gotong royong Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Ketua Umum Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya, Hamedi, menerima suntikan perdana vaksinasi Covid-19 di Gedung Binaloka, pemprov Jawa Timur, Jalan Raya Pahlawan Surabaya, Selasa, 30 Maret 2021 siang.

“Vaksinasi itu wajib untuk melindungi diri, keluarga dan orang lain, ” ujarnya kepada potretjatimdaily.com, Selasa (30/03).

“Sebab, dengan vaksin akan memutus mata rantai penyebaran corona, dan (akan) memulihkan ekonomi pasca pandemi Covid-19, ” tegas Eksponen Pro Reformasi ’98 Jatim itu.

Hamedi, SE saat mengikuti vaksinasi perdana AstraZaneca di Gedung Binaloka, Pemprov Jatim, Selasa (30/03/2021)

Berbicara soal kontroversi fatwa hukum AstraZaneta, Alumni Universitas Wijaya Putra Surabaya ini, menyatakan tak ingin ikut-ikutan berpolemik.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, sebagai orang beriman, setelah diperintah untuk taat kepada Allah SWT, dan Rosulullah. Kita diwajibkan untuk taat kepada pemimpin atau pemerintah, ” katanya.

Menurut Hamedi, bahwa ulama itu juga manusia biasa, yang bisa salah dan lupa. Dan Memiliki interpretasi yang berbeda dalam memahami suatu permasalahan.

“Jika diantara ulama’ masih terdapat perbedaan fatwa, kita taat (ikuti) saja apa kata pemerintah. Apa kata presiden, gubernur dan walikota, ” ulas Hamedi.

Hamedi, meyakini bahwa Keselamatan nyawa dan kepentingan rakyat banyak, merupakan prioritas utama Pemerintah sebelum mengambil kebijakan di masa Pandemi Corona Virus Disease-19.

“Mari kita dukung program ibu gubernur, dan jangan ragu untuk ikut vaksinasi, ” pungkasnya.

sahabatK1Psurabaya

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, berbeda dengan MUI Pusat, Ketua MUI Jawa Timur KH. Hasan Mutawakkil sependapat dengan PWNU Jatim yang menyatakan bahwa AstraZaneta halal.

Alasannya, kandungan Tripsin yang merupakan enzim babi hanya digunakan sebagai katalis pengembangbiakan virus corona. Artinya, unsur najis itu tidak dicampurnya, sehingga para kiai sepakat bahwa vaksin AstraZaneca suci.

Program Vaksinasi hukumnya wajib, dan masyarakat diminta untuk hilangkan keraguan menggunakan Astrazaneta.

Sedangkan, Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, KH. Asep Syaifuddin Chalim menyatakan AstraZaneta hukumnya haram mutlak.

Sebabnya, Vaksin AstraZaneta diyakini mengandung tripsin pankreas babi yang digunakan dalam proses produksinya.

Dan harus dipahami Fatwa Majlis Ulama Indonesia Nomor 13 Tahun 2021 dan Fatwa MUI Pusat Nomor 14 Tahun 2021.

Bahwa AstraZaneta difatwakan “Haram Mubah Liddoruroh (karena darurat).

Artinya, difatwakan Haram karena memang hukumnya haram. Tetapi mubah boleh dipakai apabila darurat.

Tapi ketika daruratnya hilang, maka menurut hukumnya haram mutlak. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed