GUR DUR : Diskon Sholat Tarawih

 41 views

HUMOR GUS DUR | SEDARI dulu ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dikenal memiliki sejumlah perbedaan, baik secara organisatoris kelembagaan maupun metode memutuskan suatu amalan. Seperti halnya dalam menentukan jumlah rakaat sholat Tarawih.

Bagi NU, sholat Tarawih 23 rakaat, sedangkan Muhammadiyah cukup 11 rakaat. Bagi KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang NU sejati, perbedaan ini disikapi santai seperti kebiasaannya.

Suatu hari, Gus Dur diundang berbuka puasa di kediaman Presiden ke-2 RI Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Ia diminta untuk memimpin sholat Tarawih oleh Soeharto. Namun, ia mengajukan Kiai Asrori untuk menggantikannya. Sebelum pamit pergi, Gus Dur sempat menawarkan jumlah sholat Tarawih apakah mengikuti NU yang lama atau NU yang baru.

“Memang kalau NU lama, sholatnya bagaimana, Gus?” tanya Soeharto.

“Kalau NU yang lama, Tarawih dan Witirnya 23 rakaat,” jawab Gus Dur.

“Kalau NU yang baru, Gus?”

“Kalau NU yang baru diskon 60 persen. Tarawih dan Witirnya 11 rakaat,” jelas Gus Dur sembari tertawa.

Mendengar itu, Soeharto pun mencoba memilih NU gaya baru mumpung mendapat diskon. Begitulah cara Gus Dur mengurai sebuah pandangan yang kaku terhadap perbedaan. Menurutnya, perbedaan adalah kesempatan untuk mempelajari keunikan dalam hidup ini. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *