oleh

Guru Besar Uinsa Surabaya Tolak Vaksin Astrazeneca

Guru Besar Universitas Negeri Islam Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, KH Asep Syaifuddin Chalim

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SENIN (29/03/2021) | PUKUL 21.09 WIB

TOKOH | Guru Besar Universitas Negeri Islam Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, KH Asep Syaifuddin Chalim, yang juga merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Internasional Amanatul Ummah di Surabaya dan Mojokerto mendukung program vaksinasi nasional. Namun, secara tegas ia mengatakan asalkan jangan jenis vaksin Astrazeneca.

“Saya dari awal sangat mendukung program pemerintah pusat dan Gubernur, mengenai pelaksanaan Vaksinasi Nasional. Namun, asalkan jangan jenis vaksin Astrazeneca,” katanya, Senin (29/03/2021).

Ia mengungkapkan, saat ini masyarakat harus lebih memahami fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) nomor 13 Tahun 2021 yang ditandatangani pada 16 Maret 2021 dan Fatwa MUI Pusat nomor 14 tahun 2021 yang ditandatangani pada 16 Maret 2021 bahwa MUI Pusat memfatwakan terhadap Vaksin Astrazeneca haram mubah liddoruroh (karena darurat).

“Haram karena memang hukumnya haram. Tetapi mubah boleh dipakai apabila darurat. Tapi ketika daruratnya hilang maka menurut hukumnya haram mutlak. Karena di Amanatul Ummah ini tidak ada darurat maka hukumnya haram mutlak,” ungkap KH Asep Syaifuddin Chalim.

Dalam prinsipnya, ia menjelaskan, sama sekali tidak melawan pemerintah mengenai program vaksinasi. Bahkan, Ketua Umum Pengurus Pusat Pergunu ini justru sangat setuju dengan pelaksanaan vaksinasi secara Nasional. Tetapi, ia menolak keras vaksin jenis AstraZeneca masuk dilingkungan pesantrennya.
Kiai Asep menyakini vaksin AstraZeneca mengandung tripsin pankreas babi yang digunakan dalam produksi vaksin AstraZeneca.

“Saya melarang belasan ribu santri, mahasiswa, serta pengajar di lembaga pendidikannya disuntik jenis vaksin AstraZeneca. Kalau vaksin yang tidak mengandung tripsin pankreas babi, silakan masuk amanatul ummah dan IKHAC,” tegasnya.

Selama masa pandemi covid 19, Ponpes Internasional Amanatul Ummah dan IKHAC telah menerapkan disiplin protokol kesehatan yang super ketat di lingkungannya.

Setiap santri, pelajar dan mahasiswa sejak mulai awal dan yang baru datang, harus wajib lolos pemeriksaan rapid test, pemeriksaan darah lengkap, menjalani foto toraks, serta melaksanakan Screening yang dilakukan sekitar 2 km dari asrama santri. Yakni di Institut KH Abdul Chalim. Sebanyak 12 dokter yang dimiliki pihak pondok dan kampus IKHAC telah bekerja maksimal secara berkala.

Ia menambahkan, selama di pesantren dan kampus, para santri wajib menerapkan 4 hal. Yaitu, Pertama Protokol Islam meliputi menjaga kebersihan, dilarang melakukan hal-hal yang tak penting, tidur cukup, makan tidak boleh terlalu kenyang, salat malam untuk mengusir penyakit dari tubuh, serta salat subuh berjemaah agar terhindar dari gangguan kesehatan.
Kedua disiplin mencuci tangan, memakai masker, hand sanitizer, dan menjaga jarak . Ketiga menjaga imunitas dengan mengonsumsi menu tahu, tempe, kecambah dan telur yang menurut dokter mengandung imun tinggi.

“Terakhir, Keempat menjaga imanitas religi dengan rajin membaca istighfar, kalimat tauhid, salawat, hamdalah, serta 4 ayat Al-Qur’an yang diyakini menjadi obat bagi semua penyakit. Yaitu Surat Ali Imron ayat 154, Surat Al Fath ayat 29, serta Surat At Taubah ayat 128 dan 129,” Pungkasnya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed