oleh

Hari Pekerja Nasional, Kandidat Perempuan Pilwali Surabaya ini Sebut Harapannya

-All Post-242 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS (20/02/2020) | PUKUL 18.43 WIB

Hari Pekerja Nasional kali ini semoga bisa menambah motivasi bagi para pekerja agar lebih mencintai pekerjaannya dan menikmati segala yang terjadi di dalam lingkungan kerjanya. Rasa nyaman penting ditumbuhkan agar aktivitas bekerja dijalankan dengan rasa bahagia dan berkah.

Demikian ungkap Lia Istifhama, kandidat perempuan millenial yang masih mampu menjaga ritme elektabilitasnya dalam Pilkada Surabaya 2020.

Kata dia, Indonesia memiliki hari libur nasional pada 1 Mei untuk memberikan apresiasi pada buruh (pekerja) berdasarkan Keputusan Presiden No.24 tahun 2013. Namun, sejatinya hari perayaan untuk para pekerja di Tanah Air tak hanya pada tanggal 1 Mei saja, melainkan juga tanggal 20 Februari tercatat sebagai Hari Pekerja Indonesia (Harpekindo).

Dalam kaitan ini, Lia mengisahkan jika dirinya sudah bekerja meski masih duduk di bangku kuliah semester akhir. “Saya kerja jadi sales,” kata keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, itu pada Potretjatimdaily.com, Rabu, (19/02/2020).

Kata Lia lebih jauh, dirinya memilih bekerja sebagai sales karena saat itu karena sifatnya part time. Selain itu motivasinya bekerja adalah pembelajaran diri agar lebih mandiri.

“Alhamdulillah, keluarga saya tidak mengenal istilah gengsi. Yang terpenting nilai dalam pekerjaan adalah niat ikhtiar mencari rezeki halal,” kenang Ibu dua anak tersebut.

Lia juga mengisahkan, selain pengalamannya pernah menjadi sales, dirinya juga bergelut di dunia pekerjaan swasta, bahkan hingga kini. Putri bungsu KH. Masykur Hasyim itu malah pernah melakoni pekerjaan sebagai buruh pabrik. Pun dirinya juga melakoni pekerjaan berkeliling kampung mencari nasabah.

“Sulit memang, tapi saya bersyukur bisa melalui itu semua. Dan terpenting dari itu semua adalah tempaan hidup”, tutur Ketua III STAI Taruna Surabaya memberikan semangat.

Perempuan yang juga anggota Fatayat NU ini membeberkan harapannya tentang hak yang dimiliki oleh pekerja. Sebagai pekerja memang seseorang dituntut untuk memiliki loyalitas terhadap perusahaannya. Mencurahkan segala kemampuannya untuk mengembangkan perusahaan tempatnya bekerja.

Ya dalam bekerja kita harus maksimal, kalau perusahaan kita berkembang, imbasnya kan ke kita juga,” sambung Lia.

Namun demikian, lanjutnya, sebagai pekerja tentu kita punya hak yang harus dipenuhi oleh perusahaan tempat kita bekerja. Hak pekerja pada umumnya adalah mendapatkan gaji sesuai perjanjian dan tepat waktu, serta Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3, dan Jaminan Kesehatan Ketenagakerjaan atau BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan).

Masih menurut Lia, hak pekerja lainnya yang juga harus dipahami adalah jam kerja. Jam kerja normal di Indonesia ini rata-rata 8 jam sehari, selebihnya dihitung sebagai tambahan waktu atau lembur. Akan sangat elok jika seorang pimpinan dalam suatu lingkungan kerja, memahami hak pekerja untuk bertemu keluarganya. Jangan sampai menuntut pekerja mengorbankan waktu keluarga demi pekerjaan. Jam kerja harus diapresiasi karena itu hak bekerja.

“Kalau memang lembur, ya harus ada insentif lemburnya,” tegasnya.

Terkait lembur ini, Lia mengisahkan bahwa dirinya juga pernah mengalami tambahan jam kerja tersebut dikarenakan ada pekerjaan yang harus diselesaikan saat itu juga. Lia mengisahkan, saat itu dirinya sedang cuti melahirkan. Namun, karena akan ada event di perusahaannya kala itu, Lia harus tetap berangkat ke kantor, meski harus mengajak bayinya. Keadaan semacam inilah yang menurut Lia harus mendapat perhatian. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed