Head to Head Di Pilkada Surabaya, Ini Arah Dukungan Lia Istifhama

 315 views

Dr. Lia Istifhama, S.Sos, SH.I, ME.I saat bersama relawan pendukungnya

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (08/09/2020) | PUKUL 16.56 WIB

Pilwali Surabaya 2020 dipastikan berlangsung head to head. Setelah pasangan Machfud Arifin-Mujiaman yang diusung PKB, PPP, Golkar, Nasdem, PAN, Demokrat, Gerindra, PKS, resmi mendaftar ke KPU Surabaya.

Mereka menyusul pasangan yang diusung PDI Perjungan dan didukung PSI serta 6 partai non parlemen, Eri Cahyadi-Armudji yang telah mendaftar lebih dulu.

Sejumlah pengamat menilai kedua pasangan ini memiliki kekuatan yang relatif berimbang. Lantas, bagaimana dengan kandidat Pilwali Surabaya yang tidak terekom?

Lia Istifhama, salah satu kandidat yang sempat dinilai memiliki kans besar di posisi wakil wali kota, mengaku belum memutuskan mengarahkan dukungan ke mana.

“Saya untuk saat ini masih silent (diam). Saya ingin berembuk, mendengar saran masukan relawan. Karena mereka berperan penting dalam proses sosialisasi turun ke masyarakat,” ujar Lia didampingi ketua tim pemenangan, Gus Yusub Hidayat, Selasa (8/9/2020).

Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim yang akrab disapa Ning Lia itu tidak menampik bahwa memilih arah dukungannya dalam Pilwali Surabaya, bukan hal mudah. Sebab, kedua pasangan memiliki keistimewaan masing-masing.

Sementara dirinya ada irisan dengan basis relawan mereka masing-masing. Irisan ini disebabkan kesamaan dalam barisan relawan ketika Pilgub Jatim 2018 dan Pilpres 2019.

“Jadi harus sangat hati-hati agar tidak menimbulkan perselisihan hanya karena arah dukungan,” ujar aktivis sosial yang bergelar doktor di bidang ekonomi islam tersebut.

Mengenai kemungkinan wadah khusus bagi relawan, putri almarhum KH Masykur Hasyim tersebut menjelaskan dalam setiap proses, dari dulu, bahkan sebelum Pilwali Surabaya, ia berusaha memikirkan orang-orang di sekitar.

Termasuk saat pilwali, ia sudah terpikirkan. Bahkan beberapa teraplikasikan. Wadah tersebut tidak satu, tapi beberapa dan disesuaikan kompetensi maupun komitmen relawan. Jadi sifatnya personal. Itu yang selalu ia sampaikan juga kepada relawan. Bahwa wadah itu banyak, tapi kembali pada personal orang masing-masing.

“Tapi yang penting, kita ada di mana, di situ kita sedang bangun seduluran. Jadi, tidak ujug-ujug apapun dinilai secara materi. Itu yang sering saya tekankan kepada relawan,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *