Ini Lima Dasar Pemikiran, Konvensi Capres NU Tahun 2024 digelar

 338 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
RABU (16/06/2021) | PUKUL 09.29 WIB

Pasca dicabutnya revisi UU Pemilu dari Prolegnas Prioritas DPR RI Tahun 2021.

Sebagaimana Diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Pilkada Serentak.
Pelaksanaan Pileg, Pilpres, dan Pilkada, serentak digelar Tahun 2024 mendatang.

Untuk ajang kontestasi Pileg dan Pilpres serentak digelar Rabu, 28 Februari 2024.

Sebagai ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama selain berbasis suara besar, juga memiliki kader kandidat calon potensial.

Untuk itu, agenda acara Konvensi Calon Presiden NU 2024, serentak digelar.

Berikut ada lima dasar, dilaksanakannya prosesi audisi pemilihan calon presiden 2024 yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar NU tersebut, antara lain :

Pertama, mempersiapkan suksesor duet Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Tercatat, ada enam belas orang peserta Konvensi Capres, yang berangkat dari beragam latar belakang disipilin ilmu, gender, dan profesi yang juga berbeda.

Berdasarkan gender, ada tiga kandidat perempuan, dan sisanya kaum adam NU.

Diantaranya, Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jawa Timur), Yenny Wachid (Komsaris Garuda Indonesia), dan Ida Fauziyah (Menteri Ketenagaakerjaan)

Sedangkan, untuk 13 kandidat laki-laki

Dua kandidat dari kalangan menteri diera Presiden Jokowi, yaitu : M. Mahfud M.D (Menkopol hukum dan HAM), dan Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama).

Tiga peserta Dari jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sendiri, diantaranya ada Said Aqil Siradj (Ketua Umum), As’ad Ali (Wakil Ketua), dan Yahya Cholil Staqut (Katib Aam Nahdlatul Ulama).

Lima politisi juga legislator, antara lain Muhaimin Iskandar (Wakil Ketua DPR RI), Endin A.J. Soefihara (Ketua Fraksi PPP DPR RI), Andi Jamaro Dulung (Anggota Komisi VII DPR RI), Akhmad Muqowam (Mantan Anggota DPR RI periode 1999-2004, 2004-2009 dan 2009-2014), dan Johansyah (Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) periode 2019-2024).

Berikutnya, ada nama Mantan anggota BPK RI periode 2009-2014, Ali Masykur Musa, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Nasaruddin Umar, dan Hakim Konstitusi MK RI, Wahiduddin Adams.

Kedua, melestarikan tradisi peran dan eksistensi kaum nahdliyin di eksekutif.

Untuk diketahui, sejak digelarnya Pemilu demokratis 1999 pasca runtuhnya rezim orde baru, tercatat ada dua tokoh besar NU, yang berhasil menduduki jabatan presiden dan wakil presiden Indonesia.

Sebut saja salah satu diantaranya, KH. Abdurrahman Wachid sebagai Presiden Keempat RI, dan Wapres KH. Ma’ruf Amin, yang terpilih sebagai Pendamping diera kedua pemerintahan Joko Widodo.

Ketiga, menyamakan visi misi dan basis suara dukungan capres-cawapres 2024.

Keempat, menaikkan level ‘Bargaining position’ suara ‘Religius’ diajang Pilpres.

Kekuatan suara NU, tidak bisa dianggap kecil. Terbukti, pada Pilpres 2019 lalu, NU berhasil mendukung dan memenangkan pasangan Joko Widodo-KH. Ma’ruf Amin diajang Pilpres Rabu, 17 April 2019 lalu.

Dengan memegang tradisi, ‘melok yai’, seluruh kaum nahdliyin akan sami’na waa atho’na’ mengikuti suara pilihan kyai di Pemilihan presiden (Pilpres) 2024

Kelima, mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah islamiyah diantara nahdliyin.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, selain ke-16 orang peserta, Konvensi Capres NU 2021, akan dipandu oleh Tim Sembilan.

Mabroer MS (Ketua Komisi Infokom MUI sebagai Ketua Tim Sembilan merangkap anggota.

Sedangkan, delapan orang Anggota Tim Sembilan, antara lain :
Amsar A. Dulmanan, S.Sos. M.Si (Dosen tetap Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta) ; Eko Cahyono (Senior Researcher and Trainer at Sajogyo Institute (SAINS)) ; Uchok S. Khadafi (Direktur Center for Budget Analysis (CBA)) ; dan R. Kurnia Permana Kusumah (Pengamat Politik) ;

Selanjutnya, Imam Buchori, Prof. Dr.rer.nat. (Universitas Diponegoro) ; Muchlas Syarkun (Penulis) ; Ridwan Balia (Koordinator Komunitas NU Kultural) ; dan Warida Ahmad . (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *