Kader PDIP : Whisnu Sakti Dijadikan ‘Patung’ Saat Risma Jadi Wali Kota

 40 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SABTU (05/12/2020) | PUKUL 07.08 WIB

Tri Rismaharini menjadi wali kota pertama pada tahun 2010 berkat gotong royong warga PDIP Surabaya. Risma diingatkan untuk tidak melupakan sejarah.

Saat itu Whisnu Sakti Buana menjadi ketua DPC PDIP Surabaya. Risma mengeluh jika tidak memiliki uang untuk pencalonannya.

Informasi itu diungkapkan kader PDIP Surabaya, Anugrah Ariyadi yang mendukung Machfud Arifin-Mujiaman (MAJU).

Ia sakit hati lantaran partainya lebih memilih Eri Cahyadi-Armudji daripada kader tulen Whisnu Sakti Buana.

Mantan anggota DPRD Surabaya yang dikenal dekat dengan Whisnu itu bicara blak- blakan saat bincang-bincang dengan pengacara muda M Sholeh.

Video yang diunggah di Channel YouTube Cak Sholeh’ ini berjudul ‘Calon PDIP Bukan Kader Partai, Anugrah Sangat Kecewa’.

“Menurut saya, ini rekomendasi tidak diturunkan ke Mas Whisnu (Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana-red) karena masalah like and dislike saja,” tegas Anugrah Ariyadi saat disaksikan potretjatimdaily.com, Jumat (04/12/2020).

Sholeh kemudian menanyakan terkait permasalahan antara Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan putra dari almarhum Ir Soetjipto itu.

“Ini masalah pribadinya Risma dengan Mas Whisnu saja. Saya melihatnya Risma itu adalah seorang yang lupa sejarah. Kita 2010 menjadikan Risma seperti itu, gotong dan dukung Risma seperti itu. Pada saat itu dia (Risma) datang ke kita, ndak punya duit sama sekali hanya bermodalkan ‘Mas, aku cuma duwe kijang kotak tok (Mas, aku cuma mempunyai mobil Kijang kotak). Sudah gak usah pakai duit mbak, kita gotong bareng-bareng bersama kawan-kawan,” kenang Anugrah.

Apakah hubungan Whisnu saat menjabat wakil wali kota dengan Risma telah mencair?

“Secara partai cair karena Mas Whisnu adalah ketua partai (sebelum diganti oleh Dominikus Adi Sutarwijono). Tapi hubungan pribadinya sangat beku. Kami semua menjaga marwah partai,” jawabnya.

Ada yang mengatakan jika Whisnu jadi wakil wali kota cuma ‘patung’ dan hal itu dibenarkan oleh Anugrah.

“Sangat betul. Iya cuma ‘patung’, dan karena Mas Whisnu ketua partai sehingga kami tidak melakukan perlawanan. Mas Whisnu sangat tidak diuwongkan (diorangkan- red) sama sekali ketika Risma menjadi wali kota dua periode,” terang Anugrah.

“Mulai pergantian jabatan, Baperjakat tidak pernah dilibatkan. Contoh, setiap ada pergantian pejabat eselon I,II, III di tingkat Pemkot Surabaya, ya itu seremonial pelantikannya di dalam hall itu di depan ruangannya Mas Whisnu, di depan ruangannya. Tapi seorang Whisnu wakil wali kota Surabaya tidak tahu ada acara pergantian atau mutasi pejabat. Coba bayangkan baperjakat saja tidak pernah diajak ngomong. Pelantikannya lho gak ngerti, tahu-tahu dia masuk kantor lho ada acara. Tahu-tahu dia di dalam ruangan saat keluar lho ada acara,” tambah Anugrah yang namanya diusulkan untuk dipecat dari PDIP.

Kader PDIP Surabaya, Anugrah Ariyadi

Apakah persoalan itu terjadi pada periode pertama Risma menjabat ataukah hingga di periode kedua?

“Berlanjut selama periode kedua. Sangat luar biasa. Tapi acara seremonial lain, ketika Risma diundang acara, ketika tidak bisa hadir, tidak pernah Mas Whisnu dapat disposisi untuk mewakili. Ada sekda, ada yang lain. Ketika Risma kunjungan ke luar negeri, kan ad interim wakil wali kota yang jadi wali kota, tetapi itu tidak terjadi. Ini gila Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya,” terang dia.

Jika selama ini masyarakat tidak tahu, tahunya masyarakat jika Wali Kota Risma baik, fasilitas umum dirusak maka akan marah-marah?

“Mas Whisnu memainkan peran, ketika dia berkantor di sana (Pemkot Surabaya-red), meninggalkan SK dan jaket ketua partai. Kalau dia masih punya ego sebagai ketua partai, gak akan bisa seperti ini. Dia tawadhu kepada partai. Luar biasa, Mas Whisnu sangat tawadhu, patuh kepada partai,” tegas Anugrah.

Tunduknya Whisnu Sakti Buana kepada partai ternyata tidak disambut dengan rekomendasi yang kemudian diberikan kepada Eri Cahyadi-Armudji (ErJi).

“Menurut Mas Anugrah, kasus ini kan mematikan kaderisasi. Bagaimana sikap teman-teman? DPC melihat oh itu bukan kader,” kejar Sholeh’.

Anugrah mengaku rekomendasi yang diberikan partai ke ErJi disesalkan.

“Kami sangat menyesalkan. Di partai ini kan ada kaderisasi, ada sekolah partai, ada jenjang karir yang jelas mulai dari anak ranting, ranting, PAC, DPC, DPD bahkan DPP. Kami sangat menyesalkan. Kita punya banyak kader yang sangat baik. Kenapa kita kemudian harus ambil seorang birokrat yang sekelas Eri. Kalau ambil birokrat kan masih banyak seniornya Eri yang lebih bagus,” jawabnya.

Apakah di Pemkot Surabaya banyak senior (ASN) yang lebih bagus?

“Banyak, Eri kan masih orang muda. Masih banyak di atasnya, seniornya Eri. Ini sesuatu yang tidak masuk akal. DPP ini terbius oleh manis mulutnya Si Risma ini. Pencitraannya memang sangat luar biasa,” tandas Anugrah.

Bagaimana posisinya sekarang karena Pilwali Surabaya mendekati hari pencoblosan.

“Saya sekarang sebagai Banteng Ketaton, Bahasa Jawane banteng sing kelaran (banteng yang tersakiti -red). Kami ini banteng bukan celeng, bukan kambing congek. Langsung saja saya bergerak, jaringan saya libatkan, seluruh TPS disiapkan dalam pileg kemarin telah saya sounding semua. Mereka semua siap. Jaringan ambulans saya sudah seribu orang sejak 2015 hingga 2020 sudah saya buatkan grup nya. Saya libatkan semua, saya kontak semua. Semuanya siap mendukung 02 (Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno red). Yang kita bantu urusan sekolah, ratusan orang sudah kita bantu. Begitu saya deklarasi dukung 02, seluruh pengurus partai saya hubungi. Wong saya punya data, nomor WA, semua saya kabarin,” terang dia.

Dulu di tahun 2000 awal reformasi, PDI Perjuangan pernah mencalonkan bukan kader baik bupati, gubernur, wali kota. Rata-rata dikasihkan ke orang luar. Sepuluh tahun lalu kesalahan itu telah diputus (calon dari luar kader-red). Sudah tidak lagi dan mengutamakan kader seperti Pak Bambang (Bambang DH red). Apakah PDIP mengulangi kesalahan yang sama?

Anugrah mengaku jika dirinya menyayangkan jika bukan kader partai yang dipilih sebagai calon wali kota.

“Untuk L1 ya (wali kota Surabaya-red), kami sangat menyayangkan. Ini yang bisa kita lakukan. Ini kita pemenang pemilu, di DPRD Surabaya kita mayoritas. Dua periode zamannya Mas Whisnu kita prioritas terus. Coba bayangkan, tapi Mas Whisnu tidak dapat rekom. Gila kan ini. Saya serukan rakyat Surabaya berpikir jernih, cerdas. Tentukan pilihan njenengan semua bahwasannya 9 Desember besok jangan salah pilih. Saya serukan kepada rakyat Surabaya, tolong besok hari Rabu pilihan wali kota dan wakil wali kota Surabaya coblos nomor 02, Machfud Arifin-Mujiaman. Insya Allah, Surabaya ke depan lebih baik. Maju kotane, makmur wargane,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *