Keluhuran Makna Hari Raya Idul Adha, Momentum Penghambaan Diri Di Tengah PPKM Darurat

 298 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SENIN (19/07/2021) | PUKUL 13.15 WIB

Potretjatimdaily.com – “Barangsiapa yang qiyamul lail (menghidupkan malam) pada dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah demi mengharap ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati,” (HR As-Syafi’i dan Ibn Majah).

Dalam hitungan jam, kita akan berjumpa dengan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah 1442 Hijriah. Dalam kalender masehi seperti yang menjadi patokan negara kita, Idul Adha jatuh pada 20 Juli 2021. Seperti halnya Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 13 Mei lalu, Idul Adha kali ini juga memiliki nuansa yang jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bertepatan di tengah PPKM Darurat, tentunya momentum silaturahmi secara tatap muka tidak dapat dilangsungkan seperti tradisi hari raya selama ini. Namun setidaknya, kita sebagai umat Muslim masih dapat berupaya menjaga nilai luhur hari raya, termasuk Idul Adha kali ini.

Jika hadis di atas menjelaskan tentang keutamaan menghidupkan malam hari raya, maka hadis berikut secara spesifik menjelaskan salah satu Khutbah Rasulullah SAW (Shahih Bukhari hadis nomor 928) di dalam prosesi shalat Idul Adha:

عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ اِنَّ اَوَّلَ مَانَبْدَأُ بِهِ فِيْ يَوْمِنَا هَذَا اَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ اَنْ يُصَلِّيَ فَاِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَلَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِيْ شَيْئٍ فَقَامَ خَالِيْ اَبُوْ بُرْدَةَ بِنْ نِيَارٍ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اَنَا ذَبَحْتُ قَبْلَ اَنْ اٌصَلِّيَ وَعِنْدِيْ جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسَنَّةٍ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا اَوْ قَالَ اَذْبَحُهَا وَلَنْ تَجْزِيَ جَذَعَةٌ عَنْ اَحَدٍ بَعْدَكَ.

“dari Bara’ ia berkata: Nabi Saw. berkhutbah pada hari raya Kurban, beliau bersabda: “Sesungguhnya pertama-tama amalan yang kita lakukan pada hari ini (yakni hari raya idul adha) adalah kita shalat, kemudian kembali ke rumah lalu menyembelih kurban. Maka barang siapa mengerjakan itu, benar-benar ia telah menepati sunnahku. Adapun orang yang menyembelih sebelum shalat, maka itu hanyalah daging yang hendak dipergunakan untuk keluarganya saja, bukan termasuk amalan indah penyembelihan kurban.”

Kemudian ada laki-laki dari golongan kaum anshar bertanya dan namanya adalah Abu Burdah bin Niyar: “Wahai Rasulullah, saya telah menyembelih dan saya mempunyai kambing jadz’ah (yakni kambing yang umurnya setahun lebih).”

Beliau lalu bersabda: “jadikanlah yang kamu telah sembelih itu sebagai ganti kurban yang semestinya disembelih sehabis shalat. Tetapi penyembelihan itu tidak akan mencukupi seseorangpun sesudahmu.”

Hadis tersebut tentunya menunjukkan identitas hari raya Idul Adha sebagai momentum penghambaan diri melalui penyembelihan hewan qurban bagi umat Muslim yang memiliki kemampuan.

Dalam Surat Al-Kautsar ayat 2 diterangkan:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.

Proses penyembelihan hewan qurban yang kemudian dibagi-bagikan pada masyarakat yang membutuhkan, sejatinya wujud penguatan karakter sosial umat muslim.

Setidaknya, tindakan sosial tersebut merupakan bentuk gotong royong di tengah situasi sulit saat ini.

Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 155 dijelaskan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dalam pelaksanaan Idul Adha, khutbah dilangsungkan sama halnya dengan Khutbah Idul Fitri, yaitu setelah shalat hari raya.

Adapun dalam shalat hari raya, terdapat bacaan dzikir. Dijelaskan dalam sebuah hadis:

عَنْ سَمْرَةَابْنِ جُنْدُبِ رَضِىَ اللّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّه صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَمَ : اَحَبَّ الْكَلَامِ اِلَى اللّهِ ارْبَعٌ سُبْحَانَ اللّه وَالحَمْدُ اللّه وَلآَاِلَهَ إلَّا اللّه وَ اللّهُ اكْبَرُ لَايَضُرُّكَ بِاَيْهِنَّ بَدَاْتَ

Dari Samurah bun Jundub r.a, katanya, “Rasullullah s.a.w bersabda, ‘ucapan yang paling disukai Allah s.w.t ada empat, yakni Subhanallah walhamdullillah walaa ilaha illallahu Allahu Akbar. Tidak akan membahayakannya dari mana saja ia memulainya.” Di lain riwayat disebutkan bahwa ucapan ini ada dalam Al-Qur’an.

Adapun empat bacaan dzikir (mengingat Allah SWT) tersebut, memiliki arti: “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada satu Tuhan pun yang disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar”.

Dzikir tersebut diucapkan dalam hati oleh makmun di sela takbir-takbir saat Shalat ‘Id. Takbir sendiri, saat rakaat pertama sejumlah 7 kali, sedangkan saat rakaat kedua, sejumlah 5 kali.

Secara utuh, berikut tata cara Shalat Idul Adha:

1. Niat sholat Idhul Adha bagi Imam/Makmum, yaitu sebagai berikut: “Ushalli rak‘ataini sunnata-li ‘idil adl-ha (ma’muman/imaman) lillahi ta‘ala.”
2. Membaca takbiratul ihram sambil mengangkat tangan.
3. Membaca doa iftitah.
4. Bertakbir sebanyak 7 kali pada rakaat pertama.
5. Membaca surah Al-Fatihah dan surah pendek dari Al-Qur’an.
6. Rukuk, I’tidal (bangkit dari rukuk) dan membaca doa I’tidal.
7. Melakukan sujud pertama, duduk di antara dua sujud kemudian sujud kedua.
8. Takbir intiqal berdiri kembali dan membaca takbir seperti rakaat pertama.
9. Melaksanakan Rakaat kedua, pada rakaat kedua, imam bertakbir lagi sebanyak 5 kali seperti takbir pada rakaat pertama.
10. Membaca surah Al-Fatihah dan surah pendek dari Al-Qur’an.
11. Rukuk, I’tidal (bangkit dari rukuk) dan membaca doa I’tidal.
12. Melakukan sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, kemudian tahiyat hingga salam.
13. Mengucapkan salam.
14. Setelah mengucapkan salam, Imam kemudian Khutbah Idul Adha. Bila sholat sendirian, tidak perlu menyampaikan khutbah.

Pada akhirnya, kita pun turut dapat mengumandangkan lantunan takbir sekalipun di dalam rumah. Hal ini seyogyanya tidak sebatas penguatan ‘ubudiyah kita, melainkan juga proses edukasi dan internalisasi agar anak-anak kita tidak lepas dari spirit agama dalam kehidupannya, sesuai sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berikut bacaan Takbir seperti yang dijelaskan dalam Shahih Bukhari hadis nomor 931:

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

“Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd”

Artinya : “Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”

Dengan melantunkan bacaan dzikir dan takbir tersebut, semoga kita tetap memiliki penguatan penghambaan diri bahwa bagaimanapun situasi PPKM Darurat dan pandemi Covid 19, tidak dapat melunturkan spirit kita untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT. Mari kita bangun optimisme bahwa segala kesulitan kelak akan ada kemudahan.

Q.S. Al Insyirah ayat 6:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya : “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Oleh : Dr. Lia Istifhamah, M.E.I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *