Kemampuan Memilih

 12 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS (17/09/2020) | PUKUL 07.23 WIB

Kemampuan Memilih

Kalau kita makan, itu kan kita punya kekuasaan terhadap yang kita makan.

Jadi kalau kita memilih nadi uduk, itu kita perhitungkan, kita beli di suatu warung yang kita mampu mengontrolnya.

Kalau nanti nasinya ada kerikil, kita bisa protes. Dan kita juga punya pengetahuan untuk ngecek, nasi ini beracun atau tidak. Basi atau tidak.

Artinya, setiap pilihan itu resikonya adalah harus disertai oleh kesanggupan untuk mengontrol sesuatu yang dipilih.

Di situlah kelemahan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Kita harus memilih pemimpin tanpa sedikitpun ada kesanggupan, untuk mengontrol pemimpin yang kita pilih itu.

Bahkan lebih dari itu, bukan hanya tidak sanggup mengontrol, kita bahkan tidak punya pengetahuan yang mencukupi sama sekali mengenai sesuatu yang kita pilih.

Kita tidak tahu Caleg ini sebenarnya kualitasnya bagaimana, hidupnya bagaimana, Istrinya berapa, akhlaknya bagaimana, kita nggak tahu sama sekali.

Bahkan tokoh-tokoh yang terkenal pun, rakyat tidak tahu. Bapak ini, Gus ini, orang ndak tahu semua.

Dan kalaupun tahu, mereka juga tidak punya daya kontrol terhadap yang dipilihnya ini.

Tapi mau tidak mau harus memilih. Ini saya kira dilema kita bersama se-Indonesia.

Jadi, sederhana sebenarnya. Kalau anakmu naik kapal, merantau keluar pulau mencari pekerjaan di Kalimantan, umpamanya.

Selama dia naik kapal ada kemungkinan ada badai, ada kemungkinan dia di bunuh orang, ada kemungkinan dia bertengkar, ada kemungkinan dia diancam bahaya. Kepada siapakah engkau menyerahkan anakmu, yang engkau tidak bisa mengontrol di perjalanan.

Kepada siapa? Kamu titipkan pak camat? Kamu titipkan Nahkoda? Kamu titipkan siapa?

Tidak ada jalan lain kecuali titip kepada Allah Subhaanahu wa ta’ aala.

Jadi, Sederhana. Kenapa yang kau pilih di pemilu nanti, yang kau tidak tahu siapa dia, dan kamu tidak bisa mengontrol kepada dia, kenapa tidak kau serahkan kepada Tuhan?

Kenapa tidak serahkan, wong anakmu kamu serahkan kepada Tuhan?. Bapak pergi ke kantor saja diserahin ke Tuhan, kok. Selingkuh apa tidak biar Tuhan nanti yang ngurus, Misalnya.

Jadi serahkan kepada Tuhan. Kalau dalam Islam caranya sederhana.

Nanti kalau ndak milih, nanti kalau berdo’a supaya bangsa kita sejahtera, Tuhan mengejek juga, “Halah ! kamu ndak milih saja, sekarang minta bangsamu sejahtera”.

Tapi kalau kita milih, bingung juga milih yang mana? nanti kalau bisa milih, kalau memilih juga tidak bisa ngontrol. Ya kalau gitu, serahkan sama Tuhan.

Kalau dalam Islam caranya jelas.

Jadi, ya malamnya shalat dulu, kek. Kalau nggak, nggak sempat, ya hatinya saja.

“Ya Tuhan..”. Selama hari pemilu itu bilang sama Tuhan, “Tuhan, gimana? Masak saya ndak nyoblos? Saya kan warga negara. Jadi saya nyoblos ya?”. Tak pilihlah kira-kira yang paling bagus. Cuman, kan saya ndak bisa ngontrol dia, Tuhan. Jadi, tolong dong.

“Ini saya nyoblos satu ini. Setelah saya coblos, saya pilih, saya serahkan sama Engkau, wahai Allah. Kalau dia ini pemimpin yang baik, panjangkan umurnya, kasih dia kekuatan, dan bantulah urusan-urusannya”.

“Tapi kalau yang aku pilih ini ternyata pengkhianat, penjilat, penindas rakyat, dan sama sekali tidak punya cinta kepada kami-kami yang di bawah. Mbok dilaknat, Mbok cepet-cepet dikasih tindakan, Tuhan. Terlalu lama lho kami rakyat Indonesia ini kayak gini terus bingung nggak habis-habis”

“Terus kepada siapa dong aku mengeluh? kepada siapa dong rakyat Indonesia mengeluh?”.

“Mengeluh kepada DPR? Wong mereka itu justru yang kami keluhkan Kepada-MU, ya Allah. Jadi, tolong Tuhan”.

Nah, bisa ditambahi mantra-mantra, dalam tanda petik, ayat-ayatlah.

Jadi, sebelum masuk kotak, bilang sama Tuhan dalam hati. begitu mau nyoblos, baca : “Wa makaruu wa makarallah wallahu khairul maakiriin”.

Kalau mereka makar kepada nilai-nilai Allah dan nilai rakyat, maka Allah akan makar juga kepada mereka.

Dan yang paling jagoan untuk makar itu Tuhan.

Mereka khianat kepada rakyat, berarti mereka khianat kepada Tuhan, maka Tuhan juga akan makar kepada mereka. “Wallahu khairul maakiriin”, jejak bumi tiga kali, baru dicoblos.

Nanti kalau dia khianat, dia sakit kudis. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *