Ketika satu puzzle politik itu mulai ‘mengganjal’ MA ( Bagian Pertama )

 464 views

Partai Golkar (5 Kursi) secara resmi telah merekomendasi kan Machfud Arifin sebagai Bacawali di ajang Pilkada Surabaya Tahun 2020 kali ini.

Setelah sebelumnya, ada sebanyak enam partai politik, yaitu Partai Gerindra (5 kursi), Partai Demokrat (4 kursi), Partai NasDem (3 kursi), PKB (5 kursi), PAN (3 kursi) dan PPP (1 kursi), yang tercatat lebih dulu mendukung mantan Kapolda Jawa Timur itu.

Seiring dengan merapatnya Partai Golkar ini untuk mendukung mantan ketua TKD Jokowi-Amin saat pilpres Tahun 2019 lalu,

Maka, otomatis tersisa hanya tinggal dua partai politik saja. Yaitu PKS (5 kursi) dan PSI (4 kursi) dengan total perolehan hanya 9 kursi saja.

Dengan begitu, telah tertutup juga sudah peluang untuk terbentuknya (‘poros tengah) jelang diumumkan nya rekomendasi pasangan bakal calon, yang (Nantinya, Red) diusung.

Walaupun dengan telah mengantongi dukungan setara 26 kursi dan sudah memastikan diri maju diajang pilwali.

Akan tetapi, bagi Machfud Arifin yang mengusung jargon bersama untuk Surabaya lebih maju ini, Dirinya akan tetap terus membangun komunikasi dengan PKS, PSI dan juga menjajaki kemungkinan koalisi dengan PDI-P.

Sementara itu, PDI Perjuangan yang mengantongi 15 kursi di DPRD Kota Surabaya, berhak mengusung sendiri pasangan calon di Pilkada Surabaya 2020.

Namun, sampai saat ini, Elite Partai besutan Megawati Soekarno putri ini, masih belum mendeklarasikan Pasangan bacawali-bacawawalinya yang akan diusung di kontestasi pencarian Suksesor Tri Rismaharini.

Santer beredar kabar, bahwa PDI-P akan mengusung Pasangan calon dari kader internal partai sendiri.

Disisi lain, Terpisah, ada nama M. Yasin-Gunawan telah dinyatakan lolos tahapan verifikasi administrasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya, sebagai Pasangan bakal calon dari jalur perseorangan atau independen.

Kapankah Rekomendasi pasangan bakal calon akan di umumkan ?

Sesuai tradisi, biasanya memang pasangan calon yang direkomendasi dan akan diusung oleh PDI-P itu, akan diumumkan menjelang injury time batas akhir waktu pendaftaran.

Dan, ibarat setali tiga uang, Machfud Arifin pun, akan mengikuti langkah Partai berlambang kepala banteng itu, dengan beralibi tiru strategi jokowi saat pilpres 2019 lalu.

Dimana, KH. Mahruf Amin, sebagai Calon Wakil Presiden pendamping presiden, jokowipun di umumkan disaat jelang masa injury time waktu pendaftaran nya KPU.

Lalu Mengapa Machfud Arifin masih belum berani mengumumkan Azrul Ananda sebagai bacawawali nya ?

Seperti telah diberitakan, sesaat setelah ditunjuknya Miratul Mukminin atau yang akrab disapa Gus Amik sebagai Ketua Tim Pemenangan dari bacawali Surabaya, Machfud Arifin,

Disaat itu pula sebenarnya Publik kota sudah pada tahu bahwa Dahlan iskanlah Tokoh dibalik MA, yang nantinya melalui sang adinda, Gus Amik untuk ‘Nitip Ananda tercinta’, Azrul Ananda sebagai Calon pendamping dari Cak Machfud.

Ya benar, Ada bagian dari strategi pemenangan yang tidak berjalan sebagai mana mestinya.

Dan ternyata benar, sangatlah mahal konsekwensi yang harus diterima oleh Machfud Arifin.

Yang men-Downgrade MA sendiri, hingga menjadi turun secara drastis di urutan terbawah, jatuh pada titik terendah di bilangan ‘trust publik’ warga kota.

Benarkah MA adalah Bacawali Surabaya ‘titipan kepentingan’ dari Presiden Joko Widodo ?

Benarkah MA merupakan Bacawali Surabaya ‘representasi’ kepentingan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa ?

Masih akan solid untuk tetap ‘Tegarkah’ koalisi dari 7 partai politik dalam mendukung MA ?

Atau malah nantinya akan ‘Ambyar’ ?, seperti biasanya saat ajang pilwali surabaya sebelumnya, mereka akan lebih memilih abstain saja ?

Benarkah sebenarnya MA pada awalnya sengaja dirancang hanya sebagai Bakal Calon Wakil walikota Surabaya saja ?

( Bersambung… )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *