Memimpin ala Deng Xiaoping

 95 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (22/11/2020) | PUKUL 11.38 WIB

Setelah terplih sebagai Presiden China, Deng Xiaoping terbang ke Amerika Serikat, kepergian yang sangat tabu di tengah perang dingin.

Deng tidak peduli, Deng inginkan perubahan.

Kalau Deng ke Uni Soviet, China tidak akan berubah, karena tidak ada yang baru dari Uni Soviet.

Di AS, Deng tidak banyak melakukan kunjungan resmi kenegaraan.

Tidak ada agenda politik, tidak ada agenda minta bantuan ke AS.

Deng hanya ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, sebuah negara yang menang perang dunia ke dua, yang digdaya di bidang teknologi dan ekonomi.

Dari pengamatannya secara langsung, dia mendapat inspirasi tentang apa yang harus ditiru oleh China dari AS.

Setelah pulang dari AS, Deng berkeliling China, dia blusukan ke banyak kota kota kumuh.

“China harus membangun infrastruktur, semua kota harus terhubung satu sama lain lewat jalan darat dan udara”

“Kita harus membuat pelabuhan dan bandara, kita harus membangun pembangkit listrik untuk industri, kita juga harus mengubah sistem pendidikan kita, kita harus melahirkan generasi kreatif, bukan generasi hafalan dan dogmatis”, demikian kira-kira yang disampaikan Deng, dalam pidatonya di setiap kota yang dikunjunginya.

Secara tidak langsung, Deng menekankan adanya perubahan dalam metodologi membangun, dari Komunis ke Kapitalis.

Dia menyebut “Emansipasi“ dalam program ekonominya : Rakyat di depan, Negara di belakang.

Ketika Deng berkuasa, kas negara kosong; pertumbuhan ekonomi mandheg, SDM sampai titik terendah, karena yang pintar-pintar lulusan perguruan tinggi banyak yang mati dalam kamp kerja paksa semasa revolusi kebudayaan.

Tetapi Deng sangat paham, bahwa modal China sesungguhnya adalah kemerdekaan individu, kebebasan ekonomi bagi setiap orang.

Reformasi Deng memberikan kebebasan itu.

Secara tidak langsung, Deng berdagang dengan rakyat.

“Negara memberi anda kebebasan, tetapi anda harus bayar kepada negara, bayarnya bisa lewat kerja atau pajak.”

China membangun tidak dari utang ke negara lain, tapi Deng meningkatkan pajak petani sampai dua kali lipat.

Deng juga membayar upah buruh dengan murah, dan pada waktu bersamaan dia menghapus semua subsidi sosial.

Dari situlah dia punya uang, untuk membangun infrastruktur.

Apakah perubahan itu mulus?

Jawabannya adalah Tidak !

Secara tidak langsung, banyak teman-teman politik Deng yang tidak setuju.

Para mahasiswa setiap hari diskusi di ruang gelap, mencela kebijakan Deng yang mereka sebut tidak berperikemanusiaan, anti demokrasi.

25 juta PNS diberhentikan tanpa pesangon, jutaan Tentara Rakyat dipaksa untuk jadi pekerja kontruksi, membangun jalan dan bendungan.

Lembaga riset diswastakan, semua produk pertanian dibeli dengan harga murah oleh negara, dan pada waktu bersaman dijual ke luar negeri, agar negara dapat devisa untuk membeli teknologi dari Eropa dan AS.

China pun mengundang investor asing, dengan insentif pajak murah, upah buruh murah, sewa tanah yang murah, dan hak kelola tanah sampai 100 tahun.

Sehingga banyak yang bilang : “China telah dijual ke asing.”

Tapi Deng bisa membungkam para oposan, dengan korban tak terbilang dalam peristiwa Tian An Men ‘Square’.

Perubahan dihentakkan sangat keras oleh Deng, rakyat China dipaksa berubah.

Mereka tidak punya pilihan jalan lain, jalan perubahan telah disediakan pemerintah, mereka harus lewat jalan itu.

Jalan yang memaksa semua orang harus berkompetisi, jalan yang membuat orang harus kerja keras, untuk kemakmuran dan kehormatan keluarganya.

Setelah sekian dekade, akhirnya China memang berhasil melewati perubahan itu.

Kini China menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua di dunia, dan mungkin tidak lama lagi akan menjadi nomor 1.

Seiring kemajuan China, pajak petani telah dihapus, pajak perusahaan China diturunkan, dan pajak PMA dinaikkan.

Sejak tahun 2006 atau dalam 12 tahun, China telah menaikkan upah buruh 400 persen; negara menunaikan janji Deng 34 tahun lalu.

“Pengorbanan kalian sekarang akan dibayar oleh generasi anak-anak kalian, percayalah !”

Deng memang keras, tapi Deng ‘smart’.

Dia menyediakan infrastruktur secara luas, sehingga peluang ekonomi terbuka bagi semua wilayah, bagi semua orang.

Jalan keadilan ekonomi, terjadi secara natural.

Dari situlah semua orang melintasi masa depan, dengan penuh percaya diri.

Andaikan Deng meniru cara Uni soviet, membangun dengan memperkuat militer dan intel, memberikan jaminan sosial ala komunis, mungkin nasib China akan sama dengan Uni Soviet yang akhirnya bubar.

China setelah itu memang membangun puluhan ribu kilometer jalan, orang kaya baru terus meningkat, jumlah kelas menengah bertambah.

Pembangunan terjadi di seluruh China, membangun jutaan rumah dan ‘property’.

Ya, rakyat China telah bermetamorfosis menjadi masyarakat kapitalis, tetapi Deng tetaplah seorang sosialis.

Deng sendiri tidak punya rumah pribadi, Deng meninggal tanpa harta. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *