Merajut Mulianya Benang Kekuasaan

 594 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (04/08/2020) | PUKUL 20.46 WIB

Pada suatu hari Imam Ahmad bin hanbal, pendiri madzhab hanbaliyah dikunjungi seorang perempuan yang ingin mengadu.

“Ya syaikh…!,

“…Saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami…”

“…Saya ini sangat miskin…”

“…Sehingga untuk menghidupi anak-anak saja, Saya merajut benang dimalam hari…”

“…Sementara di siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak dan menyambih sebagai buruh kasar disela waktu yang ada…”

“…Karena tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya kerjakan apabila sedang terang bulan…”

Imam ahmad menyimak dengan serius penuturan si ibu tadi, perasaannya miris mendengarkan ceritanya yang memprihatinkan.

Imam ahmad adalah seorang ulama besar yang kaya dan dermawan.

Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada perempuan itu,

Namun Beliau urungkan dahulu karena menunggu perempuan itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari…”,

“…Ada rombongan pejabat negara berkemah didepan rumah saya, mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya begitu terang-benderang…”

“…Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu…”

Perempuan itu kembali menjelaskan.

“Tetapi Setelah selesai saya sulam, saya bingung ya syaikh…!”,

“…Apakah hasilnya halal atau haram, kalau saya jual ? Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu ?…”

“…Sebab saya melakukan pekerjaan itu, diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara ? dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat ?..”

Imam ahmad terpesona dengan kemulian perempuan itu. Ia begitu jujur, ditengah masyarakat yang begitu bobrok akhlaknya.

Dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.

Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa. Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam ahmad bertanya.

“Ibu, sebenarnya engkau ini siapa ?…”

Perempuan itu mengaku dengan suara serak, karena penderitaannya yang berkepanjangan.

“Saya ini, adik perempuan Basyar Al-Hafi, ya syaikh…”

Imam ahmad makin terkejut.

Basyar Al-Hafi adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya.

Rupanya jabatannya yang tinggi, tidak disalah gunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnyapun, hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam ahmad berkata.

“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara. Dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin…”

“…Ternyata, masih ada perempuan terhormat seperti engkau ibu…”

“…Sungguh !, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu, Jauh lebih mulia dibandingkan dengan berlapis-lapis surban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama…”

“…Subhanallah, sungguh mulianya engkau. Hasil rajutan itu engkau haramkan ? padahal bagi kami itu tidak apa-apa…”

“…Sebab yang engkau lakukan itu, tidak merugikan keuangan negara…”

“…Ibu, ijinkan aku memberi penghormatan untukmu, silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku…”

“…Niscaya, akan kuberikan kepada perempuan mulia sepertimu…”.

Kisah ini ada dalam kitab shahih at-targhib 2/150, No.1730.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *