NING LIA di mata seorang sahabat.. “Yang lucu, aku sama sekali nggak tahu kalau Lia ini putri dari anggota Dewan sekaligus seorang Kyai”

 31 views

 

SURABAYA – Potret Jatim Daily
Rabu (28/8/2019) | 11.00 WIB

“Hmmm.. aku kenal Lia Istifhama itu sejak usia 12 tahun, kelas 1 SMP. dan kami berdua sekolah di SMP Negeri 13 Surabaya”.

“Walau berbeda kelas, dia di kelas B, dan aku di kelas E. Ada satu sahabat yang menghubungkan kami, namanya Surya Dewi, mereka (Lia Istifhama dan Surya Dewi) dulunya satu SD dan juga rumah nya berdekatan”.

“Lili adalah panggilan kami untuk Lia Istifhama, bahkan itu (panggilan) keterusan sampai sekarang. Saat Sekolah SMP itu kami punya squad bermain (Gank), selayaknya Abg-Abg kala itu.”.

“Apa ya Li nama squad kita kala itu ? aku lupa hehehe…tapi kalau membernya sih insya Allah sampai sekarang tetap bersahabatan dan terus berkomunikasi”.

“Ada Maria, Tutut, Putri, Sylvi, Surya Dewi dan tentu saja aku juga Lia”

“Squad kami bukan yang populer di sekolah, kegiatan kami juga biasanya hanya main-main sepeda angin di seputar komplek sekolah, atau ngumpul di salah satu rumah teman.”

“Lia itu dari dulu cerdas, setiap kami ngumpul dan ngerjakan PR Bareng, Lia yang akan jadi tutor dadakan kami, jiwa mengajarmu emang udah ada dari kecil ya Li ?”

“Alhamdulillah sekarang kamu menjadi dosen dan terus membagikan ilmu ke banyak orang”.

“Yang lucu adalah aku sama sekali nggak tahu kalau Lia ini putri dari anggota dewan sekaligus seorang kyai”.

“Lia memang sudah berhijab dari pertama kali masuk sekolah, kala itu yang berhijab hanya sekitar 3 anak saja”.

“Aku baru-baru ini saja tahu kalau ayah Lia itu seorang anggota Dewan, justru dari media yang beberapa bulan lalu memuat otobiografi Ayah Maskur”.

“Lia dulu tidak pernah bercerita dan kami tidak pernah bertanya, Padahal kami juga sering kumpul di rumah Lia, dan semua seperti biasa saja”.

Sama seperti saat kami kumpul dan bermain di rumah teman-teman yang lain, Lia itu sederhana keluarganya juga. kami sering berbagi jajanan cilok dan batagor yang kami beli sebungkus yang kami beli di depan sekolah lalu kami makan berame-rame demi menghemat uang jajan, jadi kebiasaan sampai sekarang ya Li ?

Makan sepiring berdua pun asyik aja walau lagi menghadiri undangan di hotel berbintang atau blusukan ke kampung-kampung, juga pas liburan bareng ke pantai”.

“Jadi ketika hari ini aku baca koran Jawa Post yang memuat nama mu, ada rasa bangga di hatiku, kamu sahabatku yang sederhana itu ingin berjuang untuk Kota Surabaya kita yang tercinta, untuk warga Surabaya saudara-saudari kita”.

“Li, aku bangga dan akan terus mendukungmu…”.

(Seperti di ceritakan oleh Indah Yuniarsih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *