Pengusaha Muslim Tionghoa Doakan NING LIA Jadi Walikota Surabaya

 68 views

 

PASURUAN – POTRETJATIMDAILY.COM
SENIN (02/12/2019) | PUKUL 13.59 WIB

Siapa yang tak kenal H.M Jos Soetomo? Pria berusia 74 tahun asal Kalimantan Timur ini, merupakan sosok yang sangat tak asing, terutama di kalangan pengusaha dan pejabag birokrat. Pengusaha Muslim Tionghoa ini merupakan satu diantara 150 orang terkaya di Indonesia dan juga masuk dalam daftar Miliarder versi Globe Asia pada 2017 lalu. Bukan hanya dikenal dengan berbagai macam kisah kesuksesan bisnisnya, seperti terkait perkayuan dan ritel, pria yang merupakan salah satu tokoh Yayasan Cheng Hoo ini, juga dikenal dengan beragam kegiatan sosialnya, termasuk kegiatan Islami.

Bentuk kecintaannya pada Islam, bukan hanya terlihat dalam kebiasaannya menggunakan peci, melainkan wujud nyata mengkaitkan bisnisnya dengan identitas Islam. Diantaranya adalah yang berlangsung pada Minggu (1/12) tadi di hotel Royal Senyiour Prigen. Pada Minggu pagi kemarin, berlangsung peresmian Mushollah dan juga majelis taklim yang dinamakan dengan nama yang sama, yaitu Fastabiqul Khoirot. Bukan hanya peresmian saja, namun acara yang berlangsung megah dengan dihadiri ratusan tamu undangan, juga dilangsungkan pengukuhan pengurus Yayasan Jati Diri Bangsa atau disingkat YJDB. Pria yang masih terlihat energik dan tegap tersebut, tetap menunjukkan jiwa Pancasilaisnya di hadapan pengunjung, yang diantaranya adalah Kapolsek Prigen, Habib Umar dari Yaman, petinggi Yayasan Chenghoo, dan sebagainya.

“Mari kita pancasilais. Semangat harmoni kita pekikkan demi Indonesia. Ribuan pulau tapi menyatu demi NKRI. Islam di Indonesia dijaga oleh NU dan Pancasila dijaga oleh kita yang berjiwa pancasilais. Dasar kita mendirikan yayasan jati diri bangsa adalah bentuk syukur kita sebagai manusia yang terlahir sebagai anak bangsa Indonesia”, ujarnya.

Uniknya, di tengah pidatonya yang berapi-api guna mengajak hadirin mencintai Pancasila dan NKRI sebagai bentuk cinta Agama, Abah Yos, panggilan akrabnya juga menyeletuk perihal pilwali Surabaya.

“Ini ada Lia Istifhama, calon walikota kita untuk Surabaya. Saya tidak kampanye, tapi saya mendoakan Lia menjadi walikota Surabaya”, ujarnya dengan lantang yang diikuti gemuruh para hadirin. Menanggapi hal tersebut, ning Lia Istifhama yang saat itu hadir sebagai salah satu pengurus YJDB yanh dikukuhkan, tidak kemudian bertinggi hati.

“Beliau ini adalah atasan saya ketika saya bekerja di Chenghoo tahun 2009 2010 lalu. Beliau ini bagi saya, sangat mirip dengan ayah saya (KH Masjkur Hasjim) jadi wajar jika saya sangat menghormati beliau bahkan saya menganggap beliau lebih dari mantan atasan saya, melainkan bapak guru saya yang sangat berarti bagi saya. Beliau mendoakan saya itu merupakan hal wajar dan bagi saya ini tidak ada main klaim karena beliau sudah tekankan bahwa ini bukan kampanye. Melainkan sifat dari pernyataan tersebut adalah hak personal”, ujar Ning Lia. Tak lupa, ia pun menjelaskan pesan moral yang ia terima dari Abah Yos.

“Lebaran 2018 lalu, ketika beliau ke kediaman Ibu Gubernur, saat itu beliau berpesan: ‘Kamu kelak ketika naik derajat, maka jangan pernah mendongakkan kepala, tapi harus tetap tertunduk kepala’, itu beliau sampaikan di hadapan ayah saya secara langsung. Sampai sekarang saya selalu bergetar kalau mengingat karena pesan itu disampaikan dengan sungguh-sungguh. Yah, saya sendiri tidak tahu garis kehidupan akan seperti apa, tapi yang jelas pesan beliau tidak mungkin saya ingkari dan Alhamdulillah sampai saat ini saya insya Allah tetap istiqomah menjaga pesan beliau. Dan doa dari beliau, insya allah doa-doa yang baik karena beliau ini orang yang sangat luar biasa penuh ketulusa. Jadi saya pun wajib mengamini”, pungkas Lia. (AHZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *