Peringati Hari Gizi dan Makanan, NING LIA : Ada Prinsip Ekonomi Kerakyatan

 20 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SENIN (20/01/2020) | PUKUL 22.58 WIB

Ketua Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim, Lia Istifhama mempunyai harapan besar menjelang Hari Gizi dan Makanan yang diperingati setiap 25 Januari. Yakni ingin agar hasil bumi Indonesia yang penuh dengan gizi dapat dinikmati seluruh warga Indonesia.

“Dari peringatan Hari Gizi dan Makanan, kita diingatkan lagi tentang pentingnya pemenuhan gizi anak bangsa. Nah, ini bisa ada kaitannya dengan konsep ekonomi kerakyatan atau juga prinsip ekonomi Islam,” ujar Ning Lia, sapaan lekat Lia Istifhama, saat dikonfirmasi, Senin (20/01/2020).

Lantas, apa kaitan ekonomi kerakyatan tersebut ?

Mantan Putri NU 2005 itu menjelaskan, semua yang ada di bumi Indonesia harus bisa dimanfaatkan dan dinikmati seluruh masyarakat. Jangan sampai hanya mengejar ekspor lantas melupakan gizi masyarakat Indonesia.

“Kita harus mengutamakan agar hasil bumi Indonesia, segala aspek sumber daya hayati, adalah hak untuk dikonsumsi warga Indonesia. Jika dari kita sendiri, secara gizi sudah terpenuhi dengan baik, baru ekspor komoditi. Jangan sampai dikit-dikit berpikir tentang ekspor komoditi hanya karena ekspektasi profit. Toh, potensi resiko rugi juga ada. Cobalah, komiditi yang penuh gizi diutamakan didistribusikan penjualannya ke wilayah sekitar,” ungkapnya.

Jika dalam Islam, lanjut salah satu tokoh perempuan Jatim yang telah mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Wali Kota (bacawawali) dari PDI Perjuangan ini, istilahnya membangun kemaslahatan untuk orang di sekitar sendiri terlebih dulu.

“Ini penting agar jangan sampai kita sendiri malah kurang alias defisit gizi,” tuturnya.

Hasil Pantauan Potretjatimdaily.com, Hari Gizi dan Makanan yang diperingati di Indonesia setiap 25 Januari dicetuskan pertama kali oleh Direktorat Gizi Indonesia pada 1970-an.

Dimana, Tanggal tersebut ditentukan sesuai dengan sejarah, yaitu berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan pada 25 Januari 1951. Sekolah ini merupakan cikal bakal sekolah-sekolah atau lembaga pemerhati makanan. (Spr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *