PILKADA SURABAYA : ​Relawannya Ada di Kubu Erji dan Maju, Ning Lia: Yang Penting Tetap Guyub

 2,519 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SENIN (23/11/2020) | PUKUL 08.07 WIB

POLITIK | Lama tidak mengeluarkan sikap terkait Pilwali Surabaya, akhirnya Lia Istifhama atau kerap dipanggil Ning Lia, bersuara. Sosok milenial yang termasuk di dalam 22 Tokoh Muda Inspiratif Jatim versi Forum Jurnalis Nahdliyyin (FJN) tersebut, justru terlihat santai saat relawannya terpisah di dalam dua gerbong, yaitu gerbong Eri-Armuji (Erji) dan Machfud-Mujiaman (Maju).

Menurut Lia yang sempat running Pilwali Surabaya dan melakukan sosialisasi sejak pertengahan 2019 lalu, wajar jika relawannya terbagi ke kubu Erji dan Maju. Hal itu tak lepas dari kawan-kawan relawan berbasis Marhaen, yang kemudian menjadi pendukung Erji.

“Namun jika ditarik sebelumnya, yaitu masa Pilgub 2018, saat itu teman-teman sudah memunculkan wacana saya di Pilwali Surabaya, meski sebatas media sosial. Maka mereka ini kemudian sekarang di kubu pendukung Maju. Jadi, kalau saya berpikir gampang saja, yang penting mereka tetap guyub,” ujar Lia saat dikonfirmasi, Minggu (22/11/20).

Pengurus Fatayat NU Jatim ini mengaku tak ingin memaksakan kehendak pribadi dengan mengarahkan relawan untuk mendukung salah satu paslon. Menurutnya, hal itu sama saja dengan menafikan hak politik relawan.

“Jadi inilah yang terbaik. Mereka berhak atas keputusan masing-masing,” katanya.

Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim ini juga menambahkan, dengan memberikan kebebasan relawan untuk menentukan dukungan, maka hubungan guyub rukun tetap dapat terjaga. Kata dia, yang namanya politik, beda pendapat pasti ada. Dirinya tidak mempermasalahkan. Justru dirinya mempermasalahkan kalau ada yang menuding bahwa relawan pecah belah sehingga harus disatukan.

“Dengan saya bebaskan, konsekuensi pasti ada. Di antaranya, kadang antar relawan terlibat adu argumen di media sosial, tapi saya yakin hubungan baik tetap terjaga. Toh mereka tetap bisa saling guyon satu sama lain,” imbuh putri almarhum KH. Masykur Hasyim itu.

Sebaliknya, dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya ini menilai dengan adanya kebebasan berpendapat, maka satu sama lain bisa bebas menyampaikan unek-unek tanpa harus suudzon satu sama lain. Meskipun kadang-kadang ia menengahi agar adu pendapat politik itu tidak sampai terbawa perasaan (baper).

“Boleh kampanye, tapi jangan baper,” tegasnya.

Ditanya soal langkah politik ke depan, ibu dua putra tersebut tidak menjelaskan secara gamblang. Menurut Lia, politik itu sebenarnya berkaitan strategi bagaimana membuat sebuah branding dan sebagainya.

“Saat ini saya sedang menikmati aktivitas di dunia pendidikan dan organisasi sosial. Sangat nyaman ketika kita dapat membuat berbagai opini dan karya tanpa harus orang menilai kita sedang bertujuan politik praktis. Bagi saya, ini sebuah harga yang sangat mahal dan saya ingin sekali fokus dalam dua kegiatan tersebut,” pungkas Doktor Ilmu Ekonomi UINSA Surabaya ini. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *