PILWALI SURABAYA 2020 : Disebut Cawali BONEK, NING LIA : Alhamdulillah, di syukuri saja

 10 views

 

Lia Istifhama bersama Alim Markus (Owner Maspion Group)
SURABAYA – Potret Jatim Daily
Sabtu (7/9/2019) | 11.09 WIB

Kontestasi Pilwali Surabaya mungkin masih satu tahun lagi baru di gelar, namun Tensi politiknya semakin memanas saja. Sejumlah figur mulai bermunculan, bahkan beberapa diantaranya sudah turun ke bawah untuk menyapa masyarakat.

Rivalitas diantara bakal calon pun semakin terlihat, terutama di tataran pendukung atau tim sukses. Mereka mulai saling sindir dan psywar di media sosial hingga negatif campaign di akar rumput.

Salah satu kandidat bakal calon wali kota Surabaya, Lia Istifhama, mengaku sudah mengalami hal tersebut. Bahkan perempuan berjilbab ini mengaku pernah disindir sebagai bakal calon wali kota bondo nekat (modal nekat) alias bonek di medsos (media sosial).

“Pernah (disindir Cawali bonek/Bondo nekat) Saya ucapkan Alhamdulillah, di syukuri saja. Memang saya orang asli Surabaya” kata Ning Lia, Sapaan akrab Lia Istifhama.

“Arek Suroboyo memang memiliki semangat tinggi untuk berikhtiar. Pede aja, Bonek itu memang karakter khas Surabaya,” kelakarnya, sambil tersenyum, kepada potretjatimdaily.com, Sabtu (6/9/2019) siang.

Semifinalis Ning Surabaya tahun 2005 ini mengungkapkan, karakter nekat justru harus dimiliki untuk bisa running di Pilwali kota Surabaya 2020.

Ning Lia mencontohkan, persaingan dalam bidang usaha atau enterpreneur juga sangat ketat.

“Seperti kita ketahui pengusaha sukses saat ini umumnya adalah generasi kedua hingga ketiga. Mereka meneruskan dan mengembangkan usaha orang tua atau kakeknya” ujarnya.

“Jadi gini, Ibarat orang mau jadi pengusaha, masak iya, harus dari anak orang kaya yang bergelimang harta? Buktinya, banyak kan, Arek Suroboyo yang sukses meski dari kalangan sederhana. Itu karena mereka punya karakter nekat dan tak minder, ” jelas Ketua III STAI Taruna, Surabaya tersebut.

Menurut koordinator bidang Pengembangan Dakwah PW Fatayat NU Jatim ini, bahwa dirinya memang lebih banyak bergerak menyapa grass root (akar rumput) daripada di tataran elit. Karena itu, tak heran sosoknya banyak dibicarakan di warung kopi yang merupakan tempat berinteraksi masyarakat bawah.

Alumni Unair dan UINSA Surabaya ini menambahkan, kalau fakta itu dirinya akhirnya dianggap sebagai calon Bonek, namun Lia tak mempersoalkan.

“Sebab sejatinya menyerap aspirasi masyarakat itu harus dari bawah, sehingga benar-benar bisa memahami permasalahan yang dihadapi warga Surabaya” tegas Ning Lia

Dari proses itulah ia bisa membuat konsep Nawa Tirta yang merupakan problem solving bagi warga Kota Surabaya.

Ning Lia menambahkan, “Saya ini memang muncul karena didorong dari bawah oleh elemen masyarakat dan kelompok relawan. Saya tidak muncul dari elit. Pendukung saya banyak dari kalangan bawah”.

“Banyak poster saya terdapat di warung-warung kopi. Itu simpatisan saya yang pasang dengan inisiatif sendiri dan swadaya,” pungkas keponakan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa ini. ( AND )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *