PILWALI SURABAYA 2020 : Keponakan KHOFIFAH Lewati jalan terjal, NING LIA : Diambil hikmahnya dan terus berikhtiar

 485 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
MINGGU (22/09/2019) | 12.05 WIB

Pilwali kota surabaya 2020, mungkin baru akan digelar pada, Rabu, 23 September tahun depan.

Akan tetapi, Suasana Sengitnya rivalitas kompetisinya, sudah mulai bisa dirasa. Bukan hanya karena geliat partai politiknya, aktraktifnya para kontestan, berisiknya media massa, inisiatif tim sukses pendukungnya, bahkan sampai dengan maraknya ramalan jitu ala pengamat politiknya.

Beberapa hari terakhir ini, riuh beredar di media sosial, pemberitaan terkait Keponakan Khofifah lewati jalan terjal.

Adalah Lia Istifhama (Keponakan) Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, yang ikut penjaringan cawawali surabaya melalui PDI Perjuangan, angkat bicara menyikapi pernyataan salah satu pengamat itu.

Saat menghadiri Haul Akbar Pendiri Muslimat NU dan Kajian Inspirasi 1441 H, Di Masjid Al-Akbar Surabaya, Minggu (22/09/2012) pagi, kepada potretjatimdaily.com, Penggagas Program Nawa Tirta ini, mengatakan, “Saya sih woles aja orang mau nilai apa. Dipikir positif, diambil hikmahnya” jawabnya.

Ning Lia, begitu akrab ibu dua orang anak ini dipanggil, mengingatkan, “Dari awal saya pernah sampaikan bahwa begitu banyak orang hebat yang masuk dalam bursa pilwali Surabaya. Di luar penjaringan PDIP pun, pasti banyak figur hebat” ungkapnya.

Kandidat Doktor UINSA ini, menambahkan, “Namun saya mengambil lewat jalur PDIP kan alasannya jelas, bahwa ini partai dominan dan banyak relawan saya yang merupakan grass root PDIP. Jadi itu harus diapresiasi” tandasnya.

Menurut Ning Lia, “Saya sih woles mau dikatakan jalan terjal atau gimana, toh namanya hidup semuanya suratan takdir. Sehebat atau serendah apapun manusia, semuanya tetap harus ikhtiar dalam perjalanan hidupnya” tandasnya.

Pengurus Fatayat NU Jatim ini, menambahkan, “Sejauh saya bertemu fungsionaris PDIP, mereka sangat obyektif. Melihat potensi kepemimpinan tidak berdasarkan klaim seseorang atau semacamnya” ungkapnya.

“Dan bahkan mereka sekilas saya baca, bukan tipe pemimpin-pemimpin partai yang mudah terbawa opini yang sifatnya kepentingan oknum tertentu. Ini sih yang saya analisa lho. bener tidaknya wallahu a’lam” urai Ning Lia.

Dosen, arek asli Wonocolo Surabaya ini menjelaskan, “Kalau saya sih, mau dituding sebagai cawali bonek, disebut mau maju pilbup Sidoarjo, dan sebagainya, ya biasa namanya juga sedang ramai-ramainya banyak orang mencari elektabilitas” paparnya.

“Jadi wajar kalau ngambil salah satu kandidat pilwali sebagai sasaran tembaknya. Gapapa. Tetep harus woles. Ibarat kata orang Suroboyo, masio dirasani tetep disyukuri ben dapat pahala” pungkas alumnus UNAIR dan UINSA ini sambil tersenyum. ( AND )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *