PILWALI SURABAYA 2020 : NING LIA, Narasumberi Acara Sarasehan KOMPI

 14 views

SURABAYA – Potret Jatim Daily
Kamis (22/8/2019) | 11.35 WIB

“Modal sosial itu harus kuat, dengan siapapun kita bertemu, dengan apapun faham yang mereka miliki” buka Lia Istifhama, SSos, SHI, MEI, pada acara dialog yang di gagas oleh Komunitas Milenial Peduli Indonesia (KOMPI).

Sarasehan yang dimulai pukul 16.00 WIB dengan thema Generasi Milenial Bermodal Sosial, dan berlokasi di Waroeng Prem, Jl. Jarak No.27 Surabaya ini, juga menghadirkan aktivis dan ahli bedah, DR. Peter J. Manoppo, sebagai nara sumbernya.

Komunitas (KOMPI) yang dikomandoi oleh Nicodemus Raphonde ini memang cukup berperan dalam pencarian figur pengganti Tri Rismaharini seperti yang diharapkan oleh masyarakat Surabaya.

Mahendra, wakil ketua Kompi yang pada diskusi Minggu (21/8/2019) sore kemarin ini, didapuk sebagai moderator, mengklaim bahwa Kompi memiliki jaringan 1500 kaum millenial.

Menurut Ning Lia (Lia Istifhama) begitu akrab Dosen ini di panggil, memulai pemaparannya dengan membahas pentingnya modal dan kepekaan sosial.

“Bullying, cacian haters di sosial media, pertikaian hanya karena berita hoax ataupun sikap hyperbola, merupakan alasan mengapa modal sosial, kepekaan dan kepedulian sesama manusia, penting kita perhatikan” urai ibu dua orang anak ini gamblang.

Lanjut Ning Lia, “Mungkin kita sekarang masih enjoy saja karena tidak ada satupun dari kita yang mengalami situasi, perlakuan sosial yang tidak nyaman. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki kesempatan tersebut”.

“Kita, keluarga kita, generasi anak cucu kita, tidak bisa terjamin dari perlakuan yang tidak baik dari orang lain” tambah nya.

“Maka dari itu, penting bagi kita menjaga kepekaan sosial, solidaritas, dan menjaga tenggang rasa sesama manusia. Nedha nerima istilahnya”, ujar dosen perempuan tersebut, yang kemudian mengulas modal sosial secara teoretis.

Ning Lia mengkaji modal sosial dalam perspektif beberapa tokoh, seperti Ibnu Khaldun, Pierre Bourdieu, Robert Putnam, dan Fukuyama.

Sementara itu, Narasumber Pieter J Manoppo mengkaitkan pentingnya modal sosial yang dibentuk dari upaya seseorang memelihara kesehatannya.
“Menjaga kesehatan fisik sama halnya kita menjaga psikis kita untuk terus berpikir positif” ujar nya.

Pieter, biasa Dokter ini di sebut, mengingatkan, “Yang tak kalah penting, adalah peran diri kita masing-masing untuk menjadi role model yang baik untuk orang lain, terutama generasi mendatang” pungkas ahli bedah ini.

Ning Lia sendiri, di akhir diskusi menjelaskan bahwa dirinya ingin persoalan kepekaan sosial menjadi hal yang penting untuk dimiliki banyak orang.

Menyinggung bagaimana bersikap dalam kehidupan bersosial,

“Eker itu elek, akur itu apik. Jadi kita semua semoga tidak mudah eker-ekeran” tandas pengurus fatayat NU Jatim ini tegas.

“Baper boleh tapi mangkel gak boleh. Kita mungkin gampang ngerasani orang kalau lagi mangkel. Tapi setelahnya harus evaluasi diri” ujar nya.

Tambah Ning Lia,, “Bahwa ternyata sikap mudah marah itu tidak baik. Kita harus lihat situasi orang lain ketika kita tak sengaja berselisih paham”.

“Jangan asal marah terus mikir jelek terhadap orang lain karena kita akan malu kalau ternyata kita yang salah menilai. Jadilah cermin yang berusaha membangun sikap obyektif ketika berinteraksi sosial” pesan Ning Lia.

“Dan yang paling penting, belajar ikhlas, belajar sabar. Kata orang Suroboyo, meski dimangkelin wong liyo, gak usah kesusu melu mangkel”, pungkas aktivis perempuan, yang juga keponakan gubernur Jatim, Khofifah ini datar.

Ditempat yang sama, koordinator Relawan Surabaya Ceria, menuturkan ” Generasi milenial sebagai kekuatan politik yang sangat berbeda dari kelompok politik yang lainnya, karena generasi milenial sangat dekat dengan digitalisasi dan media sosial”.

“Yang tanpa disadari memahami adanya keuntungan perkembangan
teknologi terhadap demokrasi” lanjut gus dar, begitu biasa di panggil.

Tambah Gus Dar, “sehingga kita sangat berterima kasih terhadap generasi milenial yang telah memberikan dukungannya, sehingga diharapkan dapat mendongkrak ekektabilitas Ning Ceria Lia Istifhama untuk maju sebagai Cawali Kota Surabaya 2020 tahun depan”, tutup nya kepada potretjatimdaily.com.

Seperti telah diberitakan, Lia Istifhama, disebut-sebut sebagai salah satu calon walikota perempuan penerus Risma di pilwali surabaya 2020 mendatang, disamping nama lain seperti Armuji, Fandy Utomo, Kelana, Wishnu Sakti, Eri Cahyadi, Sukma Sahadewa, Laksamana Untung Suropati, Edward Dewarucci, Firman Syah Ali, M. Sholeh, Djadi Galajapo, Gus Hans, Daniel Gunawan, Mufti Mubarok, Dwi Astutik, dan sebagainya.
(AND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *