PILWALI SURABAYA 2020 : Ning Lia : Saya Tidak Sedang Membangun Dinasti

 18 views

 

-Foto : Ning Lia bersama Sutjipto Joe Angga, saat syuting acara Ngopi (Ngobrol Politik)-

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
KAMIS (10/10/2019) | 23.05 WIB

Kontestasi Pemilihan Walikota dan wakil walikota (Pilwali) Surabaya, yang akan diselenggarakan tahun depan tepatnya pada hari Rabu, 23 September 2020 tersebut, menarik untuk di ikuti.

Terutama, soal siapa bakal cawali dan cawawali yang akan diusung oleh PDI Perjuangan, yang berhasil menempatkan 15 orang legislatornya, duduk menjadi anggota DPRD Surabaya masa bhakti 2019-2024 ini.

Partai besutan megawati soekarno putri ini, terbukti telah merajai kompetisi 5 tahunan di kota pahlawan dengan langganan mengantarkan kader terbaiknya sebagai walikota dan wakil walikota dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Maka, tak heran bila banyak yang memprediksi, bahwa cawali dan cawawali yang direkomendasikan oleh DPD PDI P, mempunyai kans terbesar untuk menggantikan duet Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana yang akan mengakiri jabatannya tahun depan.

Hal ini memicu tingginya rivalitas diantara bakal calon, yang ditandai dengan trik dan intrik politik antar calon, salah satunya black campaign (kampanye hitam) melalui character assasination (pembunuhan karakter).

Lia Isthifhama, salah satu cawawali, yang telah mengikuti tahapan fit and proper test partai berlambang banteng moncong putih ini, tak luput dan jadi korban dari permainan licik politikus kotor itu.

Ning Lia, begitu biasa akrab Lia Istifhama disapa, sebagai Keponakan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa ini, dituding bakal membangun Dinasti di kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur.

Ditemui awak media potretjatimdaily.com, sangat syuting acara dialog interaktif, yang digagas oleh Surabaya TV, bertajuk Ngopi (Ngobrol Politik), di Cafe Float, Giant Maspion Square Surabaya, Kamis (10/10/2019) malam, kandidat Doktor UINSA Surabaya ini, mengatakan, ”Ya biarkan saja mas mereka bilang seperti itu, kan kita niat awalnya bukan untuk membangun dinasti kekuasaan.

Menurut Ning Lia, “Karena semua berproses secara alami dan banyak relawan yang mendorong saya maju”.

Ning Lia menambahkan, “Tapi saya harus menanggapi banyaknya komentar miring mengenai majunya saya sebagai Bacawawali Surabaya. Dan perlu saya tegaskan ya, saya maju tidak berdasar skenario. Saya maju juga tidak sedang berusaha membangun dinasti kekuasaan. Semua berjalan secara alami,” tegasnya.

Lebih lanjut, putri politisi senior PPP KH Maskur Hasjim itu, dirinya tidak bisa menghambat atau menghindari keinginan para relawan atau temannya, yang ingin dirinya maju ikut kontestasi politik dalam Pilwali Kota Surabaya. Karena itulah, akhirnya dirinya mengikuti keinginan para teman dan relawan.

“Banyak teman saya berjalan mensosialisasikan diri saya tanpa ada saya. Saya harus menghormati kegigihan mereka itu”, cerita Ning Lia.

“Makanya saya membantah jika saya maju Pilwali Surabaya karena dinasti, biarkan proses ini bejalan secara alami. Tidak berdasar skenario”, kata Ning Lia.

“Semua berjalan apa adanya, jadi dinasti itu apa sih sebenarnya ?. Apa karena orang dekat? Kalau hanya orang dekat, semua orang bisa mengaku dekat. Jadi saya tidak tahu konsep dinasti yang dimaksudkan orang-orang itu seperti apa”, ungkap Ning Lia.

“Yang saya tahu, konsep dinasti itu yang ada hubungannya kekeluargaan. Tapi dalam masalah Pilwali Surabaya ini, kembali saya tegaskan. Saya tidak sedang membangun dinasti,” pungkas pengurus Fatayat NU Jatim ini. (AND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *