Relawan Saksi 0 Rupiah : NING LIA, Cawawali Perempuan Surabaya, berpeluang besar menangi Pilwali 2020

 57 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
SABTU (21/09/2019) | 11.40 WIB

Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwali) Surabaya 2020, akan digelar serentak di 19 Kabupaten/Kota di seluruh wilayah provinsi Jawa Timur, Rabu (23/09/2020) mendatang.

Tahapan-Tahapan dari pesta Demokrasi, untuk mencari suksesor pengganti, Walikota perempuan pertama Surabaya, DR (HC) Ir. Tri Rismaharini, MT dan Wakil Walikota, Whisnu Sakti Buana, ST ini, semakin menarik saja untuk disimak.

Pasalnya, ternyata tak banyak dari Bakal Cawali-Cawawali Kota Surabaya dari kaum Hawa, yang berani mencalonkan diri dan bersaing dengan Kandidat yang bergender Laki-laki.

Sebut saja Lia Istifhama, Dyah Katarina, Dwi Astutik dan Sri Setyo Pertiwi, adalah beberapa nama kandidat calon perempuan, yang telah mencalonkan diri melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P).

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Mereka hadir mengikuti Tahapan fit and proper test bagi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah se jatim, yang digelar di Kantor DPD PDI P Jatim, Jalan Kendangsari Industri Surabaya, Rabu (18/09/2019) siang.

Koordinator Relawan Saksi 0 Rupiah, Deny Istiawan, mengatakan, “Kans Calon bergender Perempuan di pilwali 2020 sangatlah terbuka” katanya kepada potretjatimdaily.com, saat ditemui di kediamannya, Perumahan Griya Citra Asri Surabaya, Sabtu (21/09/2019) siang.

Deny menambahkan, “Karena Mayoritas Warga Surabaya, masih menginginkan nya (Calon Perempuan) untuk meneruskan Risma, dan memperjuangkan nasib sesama perempuan”.

Ditanya faktor tingginya kans (peluang) bagi kandidat calon perempuan, Bapak dari dua orang anak ini, menjelaskan, “Pertama Faktor Rasio Perbandingan Jumlah warga kota Surabaya yang ber jenis kelamin perempuan dengan laki-laki, adalah 4 : 1, dimana setiap ada 1 laki-laki, akan ada 4 perempuan”.

“Dan pemilih perempuan akan cenderung memilih calon perempuan pula, mereka (pemilih perempuan) adalah type loyalis dan pemilih statis (tak mudah merubah pilihan)” lanjut Deny.

“Mungkin Muslimat NU dan Fatayat NU itu bisa di jadikan contohnya, bagaimana mereka (pemilih perempuan) tetap loyal, tak mudah di pengaruhi (untuk berubah pilihan) dan tetap memilih bu khofifah” ungkapnya.

lanjut Deny, “kedua Faktor Psikologi, dimana Banyak program dan kebijakan dari Risma, yang membutuhkan sentuhan tangan perempuan, yang berjiwa keibuan untuk melanjutkan (program) nya”.

“Yang ketiga Faktor Quantity, Warga perempuan, terutama dari generasi milenial, sebagai mayoritas pemilih pemula akan lebih aktif mengikuti tahapan -tahapan politik, terutama berani menentukan pilihan dan akan merasa resah bila di kelompokkan dalam “golongan putih (golput)” urai Wakil Ketua Relawan Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya ini.

“Keempat Faktor Sosial, dimana Emansipasi Wanita sudah bisa diterima dan bahkan sudah jadi bagian dari budaya masyarakat itu sendiri, (Emansipasi) sudah hadir di semua sendi kehidupan kita, sesuatu yang dulu hanya bisa di kerjakan oleh laki-laki, sekarang bisa juga dikerjakan oleh perempuan” kata Deny.

Berbagai macam profesi, mulai dari Dokter, Mekanik, Sopir, Tekhnisi, Bahkan sudah banyak politikus perempuan, yang sukses melalui partai, aktif di lembaga eksekutif, lembaga yudikatif dan lembaga legislatif, semuanya sudah tak jarang dikerjakan oleh perempuan.

“Kelima Faktor keterwakilan, Dengan memiliki Walikota bergender sama (perempuan), akan lebih mengerti, mau mendengar dan aktif mewujudkan aspirasi warga perempuan kota Surabaya” tukas Deny.

“Biar akan bertambah, wanita yang sukses berkarier dan hidup sejahtera di kota Surabaya. Dan bukannya, malah di eksploitasi “menjadi” Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri” tegasnya.

Deny berpesan, “Kewajiban partai politik, ketika mengusung pasangan calon, hendaknya harus ada (calon perempuan) di pilwali 2020. Jika tidak, maka (partai politik) akan di tinggal kan oleh pemilih perempuan dan di cap sebagai partai yang tidak pro/memperjuangkan persamaan gender”

Mantan aktivis buruh ini mengingatkan, “Ada tanggung jawab moral bagi Walikota Risma, untuk memastikan proses kaderisasi dan regenerasi bagi generasi penerus yang bergender perempuan tak tersumbat, apalagi terhenti”

“Agar nantinya ada (wali-wakil wali kota Surabaya) dari calon perempuan di pilwali surabaya 2020 besok” jelasnya.

Deny mengajak, “Ayo kita dukung cawawali perempuan, seperti Ning Lia, sosok pemimpin yang Cerdas, Energik, Religius, Intelektual dan Amanah”.

“Jangan sampai nantinya (Walikota Risma), akan menyandang predikat walikota perempuan pertama, sekaligus jadi terakhir di kota Surabaya, jika nantinya tidak ada (walikota perempuan) lagi seperti bu Risma” pungkas Deny.

Seperti diberitakan sebelumnya, Lia Istifhama, atau yang akrab di sapa Ning Lia, adalah satu satunya cawawali yang berani mendeklarasikan program Nawa Tirta, yang terinspirasi dari program Nawa Citanya Presiden Jokowi dan program Nawa Bhakti Satyanya gubernur jatim, Khofifah. ( ARB ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *