Resolusi Jihad Dan Hari Santri Nasional (HSN)

 18 views

HAMEDI saat mengikuti peringatan Hari Santri Nasional 2019, di Stadion Delta Surya Kabupaten Sidoarjo, Minggu (22/10/2019)

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (22/09/2020) | PUKUL 07.04 WIB

Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 silam.

Namun belum genap 1 bulan usia kemerdekaan, Indonesia langsung mendapat ujian yang berat.

Tentara sekutu yang membonceng tentara Belanda mendarat di jakarta dan kota-kota besar lainya di Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta berupaya melakukan Upaya Diplomasi untuk mendorong tentara sekutu bekerja profesional, untuk hanya mengurus tahanan saja dan tidak mengutak-ngatik Status kemerdekaan Indonesia.

Namun upaya Diplomasi tersebut, tidak membuahkan hasil.

Bung Karno galau saat itu, beliau menganalisa bila sampai terjadi peperangan secara Sistematis, Indonesia pasti tidak akan bisa mengalahkan tentara sekutu, karena persenjataan mereka jauh lebih lengkap dan keahlian militernya lebih memadai.

Atas saran dari Panglima Besar Jenderal Sudirman, Bung Karno di minta untuk mengirim utusan Khusus kepada Roisul akbar Nadhatul ‘Ulama (Ketua Umum NU) yaitu Hadrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Tujuannya untuk meminta Fatwa kepada Kyai Hasyim tentang bagaimana Hukumnya Berjihad membela negara yang notabene bukan negara islam seperti Indonesia.

Kyai Hasyim lantas memanggil K.H. Wahab Hasbullah dari Tambak Beras Jombang.

Kyai Wahab di minta untuk mengumpulkan para Ketua NU se Jawa-Madura untuk membahas persoalan tersebut.

Dan, bukan hanya itu saja.

Mbah Kyai Hasyim juga meminta kepada para Kyai-Kyai Khos (utama) NU, untuk melakukan Sholat istiqoroh.

Sebut saja salah satunya adalah Mbah Kyai Abbas dari Pon-Pes Buntet Cirebon Jawa Barat.

Tanggal 22 Oktober 1945 seluruh Delegasi NU Sejawa dan Madura telah berkumpul di Kantor Pusat Ansor di Jl. Pungutan surabaya.

Kyai Hasyim langsung memimpin pertemuan tersebut dan kemudian di lanjutkan oleh Kyai Wahab.

Keesokan harinya, Setelah berdiskusi cukup panjang dan mendengarkan hasil istikhoroh para kiyai utama NU.

Tepatnya pada Tanggal 22 Oktober 1945, yang kelak akan diperingati sebagai “Hari Santri Nasional” itu.

Dimana, dari pertemuan tersebut, berhasil merumuskan 3 point penting, yang kemudian di kenal dengan istilah “Resolusi Jihad NU’.

Isinya, Pertama : Setiap Muslim Tua, Muda Dan Miskin Sekalipun Wajib Memerangi Orang Kafir Yang Memerangi Kemerdekaan Indonesia ;

Kedua : Pejuang Yang Mati Dalam Perang Kemerdekaan Layak Dianggap Syuhada’ (mati syahid).

Ketiga : Warga Yang Memihak Kepada Belanda, Dianggap Memecah Bela Kesatuan Dan Persatuan, Oleh Karena Itu, Harus DI Hukum Mati.

Dokumen Resolusi Jihad di tulis dalam huruf Arab-Jawa atau di sebut “Huruf PEGON”, yang di tandatangi oleh K.H Hasyim Asy’ari, lalu di sebarluaskan keseluruh jaringan pesantren.

Tak terkecuali kepada para Komandan Laskar Hizbullah dan Sabilillah di seluruh penjuru Jawa dan Madura.

Dokument Resolusi Jihad juga di muat dalam sejumlah media masa pergerakan pada masa itu.

Dan hanya berselang 3 hari pasca Resolusi Jihad di cetuskan, 6.000 tentara sekutu mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan persenjataan lengkap.

Mendengar kedatangan pasukan Penjajah, Ribuan Santri, Mujahiddin dan Para Kyai se-Jawa Timur bergerak menuju Surabaya dan situasi pun terus memanas dan cenderung tidak terkendali.

Resolusi Jihad NU telah memompa semangat Perlawanan Rakyat dan Memicu Terjadinya Pertempuran Hebat Selama 3 hari 3 malam di Surabaya, Tanggal 27 sampai Tanggal 29 Oktober 1945.

Tentara Inggris Kewalahan menghadapi perlawanan Rakyat Jawa Timur.

Inggris lantas mendatangkan SOEKARNO ke Surabaya untuk di ajak berunding melakukan gencatan senjata.

Pagi hari Tanggal 30 Oktober gencatan senjata di tandatangani pemerintah Indonesia dan Inggris.

Namun pada sore harinya terjadi insiden di “Jembatan Merah” yang menewaskan orang nomor satu tentara inggris di surabaya yaitu Jenderal Mallabi.

Akibatnya, gencatan senjatapun langsung berakhir.

Pengganti Jenderal Mallabi yaitu Jendral Robert Mansion mengultimatum laskar pejuang dan tentara Indonesia agar menyerahkan senjata kepada inggris paling lambat 10 November 1945.

Sebab, Jika Tidak Tentara Inggris mengancam akan membumi hanguskan dan Membombardir Kota Surabaya dari 3 arah sekaligus, yaitu Laut, Darat dan Udara.

Mendengar ancaman itu, para komandan Laskar Hizbulloh, Sabilillah, Mujahiddin, TKR dan Para Santri marah besar.

Seorang pemuda bernama Soetomo atau yang lebih akrab di panggil BUNG TOMO, sowan kepada Kiyai Hasyim, meminta izin untuk menyebarluaskan­ “Resolusi Jihad” Melalui Radio. Pada Pidato Bung Tomo.

K.H. Ahmad Muchid Muzadi (Pemuda Anshor 1945 dari Jember Jawa Timur) Mengatakan :

“Hai, Tentara Inggris, ayo kita berperang, kita ini tidak takut, kalau mati kita syahid, kalau hidup kita akan menjadi bangsa yang merdeka”.

Ustadz Muhammad Yahya Waloni (Pendeta yang Muallaf) dari Manado Sulawesi. Mengatakan :

“Indonesia itu merdeka bukan dengan teriakan “Haleluya” akan tetapi dengan Teriakan dan Pekikan Takbir, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar”

Pasukan terdepan yang bertempur di Surabaya adalah :
(1). Laskar Hizbullah, yang di pimpin oleh K.H. Zainal Arifin, dari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Wafat di Jakarta;
(2). Laskar Sabilillah, yang di pimpin oleh K.H. Masykur, dari Pon-Pes Mishbahul Wathon (Pelita Tanah Air) Singosari Malang Jawa Timur;
(3). Barisan Mujahidin Indonesia, yang di pimpin oleh K.H. Wahab Hasbullah Pon-Pes Tambak beras Jombang Jawa Timur;
(4). PETA, yang di pimpin oleh Para Kyai NU;
(5). Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Resolusi Jihad NU (Sejarah yang terlupakan) Cukup di sayangkan, karena Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 “Tidak tercatat dalam Sejarah Resmi Indonesia”.

Ada upaya untuk menghilangkan jejak peran “Para Santri dan Kyai” dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Hal itu di duga terkait Kebijakan Rasionalisasi, Nasionalisasi dan Modernisasi TKR, yang mengakibatkan para “Milisi terdepak” dari Tentara Keamanan Rakyat.

Walau sedikit kecewa pada pemerintah saat itu, tapi para pejuang NU tetap sadar bahwa mereka berjuang bukan untuk pemerintah.

Akan tetapi untuk membela negara dan tanah air.

Mereka tetap setia dengan Resolusi Jihad dan tetap selalu menjaga serta membela NKRI.

Mereka tidak pernah berfikir untuk melawan pada pemerintah yang sah, apalagi memberontak dan “Kudeta”.

Bahkan mereka berperang lagi menghadapi Agresi Militer Belanda tahun 1947-1948. (Red)

-HAMEDI Surabaya, 31 JANUARI-
( Ketua Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *