Rilis Hasil Survey, SAHABAT 0 RUPIAH SURABAYA : Tak Perlu Serius Ditanggapi

 19 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (15/11/2019) | PUKUL 14.12 WIB

Sebanyak 19 kota/kabupaten di Jawa Timur, akan menggelar Pilkada secara serentak, Rabu (23/09/2019) mendatang itu, yang Salah satunya bakal digelar di Kota Surabaya.

Kontestasi Pilwali Surabaya 2020 menjadi yang paling banyak diberitakan. Hal ini, tak terlepas dari sosok Tri Rismaharini, sehingga mempengaruhui perhatian publik soal siapa kandidat yang layak menggantikan walikota perempuan pertama di Kota Pahlawan ini.

Selain itu, isue yang berkembang dipengaruhi oleh munculnya sejumlah nama tokoh nasional yang dikabarkan akan maju sebagai bakal calon Wali Kota Surabaya periode 2021-2026 tersebut.

Hal ini, memicu naiknya tensi rivalitas antar para kandidat calon, ketatnya persaingan para partai politik pengusung, adu menu jitu dari para pengamat politik dan tak ketinggalan kehadiran beberapa lembaga survey dadakan yang siap menyediakan hasil polling sesuai keinginan User (Pengguna) Jasa dari Lembaga Survey yang dipilihnya itu.

Kemarin, Kamis (14/11/2019) siang, Publik warga Surabaya dikejutkan dengan beredarnya hasil polling dari IT Research and Politic Consultan (IPOL) Indonesia, yang merilis kandidat potensial Pilwali Surabaya 2020 versinya. Kenapa dikatakan mengejutkan? Karena IPOL sendiri baru terdengar sekarang ini dan tidak adapress release sebelum survey dilakukan. Press release ini penting sebagai alat kontrol tatkala suatu lembaga survey benar-benar melakukan.

Ditambah dengan “ditempatkannya”, Dua nama bakal cawali dari PDI Perjuangan, yaitu Whisnu Sakti Buana (Wakil Walikota Surabaya) dengan tingkat popularitas sebesar 43% dan Ery Cahyadi (Kepala Bappeko Surabaya) dengan raihan 21% itu, Sontak saja menuai reaksi beragam tanggapan dari masyarakat, salah satunya, datang dari Deny Istiawan, warga Benowo yang dikenal sebagai loyalis kuat PDIP.

Ditanya tanggapannya soal hasil polling IPOL Indonesia itu,

Deny menyatakan, bahwa hal Ini adalah merupakan “Manuver Politik” dalam membangun opini publik dari pihak-pihak tertentu dengan menggunakan Jasa lembaga survey menjelang dilaksanakannya survey awal oleh Partai Politik.

“Intrik seperti ini, biasa dilakukan. Memang diawal dan saat proses sedang berlangsung, publik “dibuat” penasaran, namun, Ibarat atraksi sulap, (Manuver) itu akan “terbaca” dari hasil survey”, ujarnya, Jum’at (15/11/2019) siang.

Lebih lanjut Ia mengingatkan, bahwa sebagai warga kota surabaya yang akan menggunakan, baik hak untuk dipilih, maupun hak untuk memilih, yang (juga) berkepentingan atas hasil survey, agar lebih cerdas, lebih bijak bersikap dalam menjadikan (hasil polling) sebagai dasar literatur menentukan pilihan (bagi calon pemilih) dan menentukan strategi pemenangan (bagi kandidat calon).

Terpisah, kepada IPOL Indonesia, bapak dua anak ini, mengingatkan, bahwa sebagai lembaga survey, IPOL Indonesia, akan dihadapkan pada penilaian “pasar survey”, yang akan menyeleksi sejauh mana tingkat “profesional” dan “Independen” dari penerapan Ilmu Statistik diterapkan oleh IPOL Indonesia.

Deny menambahkan, bahwa ada empat unsur, yang harus dipenuhi dari sebuah aktifitas survey, agar nantinya (hasil) itu, merupakan info yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, layak dikonsumsi publik dan bermanfaat oleh pihak-pihak yang berkepentingan akan hasil survey tersebut.

“Yaitu siapa “user” nya, kredibilitas lembaga surveynya, metode survey yang digunakannya dan hasil survey itu sendiri”, urai Deny.

Pria mantan aktifis Reformasi 1998 itu, menganggap, bahwa survey tersebut memang sengaja dipublish, dengan hasil yang memang jelas dari kacamata akademik, namun sengaja dibuat “samar” muatan politiknya.

“Dan dalam rilisan IPOL itu, memang sengaja tak disampaikannya soal siapa “usernya”. Padahal, kita tahu, apabila satu unsur saja, tak terpenuhi, maka layak bagi kita untuk “meragukan” serta tak perlu serius dalam menanggapi hasil Survey tersebut”, tambah Deny.

Bicara soal adakah korelasi antara manuver hasil polling IPOL Indonesia dengan faksi yang ada di tubuh PDI Perjuangan Surabaya,

Mantan aktivis PRRT 1996 ini membenarkan, “Korelasi itu pasti ada, (dan) faksi itupun, sampai dengan hari ini juga (masih) ada. Bagaimana, mereka (yang berfaksi) dan pasangan calon yang diusung, berupaya berebut simpati dari DPP untuk dapatkan rekom (DPP)”, ungkapnya.

Ia mengingatkan, Nantinya (Faksi) itu akan hilang seiring dengan turunnya rekom dari DPP bagi Pasangan Cawali-Cawawali Surabaya 2020. Dan, pastinya, sesuai tradisi, seluruh petugas partai akan tegak lurus, tunduk dan patuh, untuk bersama-sama mendukung Pasangan tersebut”, pungkas arek asli Benowo Surabaya ini lugas.

Seperti diketahui, nama-nama kandidat potensial Pilkada Surabaya 2020 yang dirilis oleh IPOL Indonesia, antara lain Whisnu Sakti Buana, Zahrul Azhar, Ery Cahyadi, Wahyudin Husein, Dhimas Anugrah, Armudji dan Lia Istifhama.

Nama terakhir yang disebutkan cukup fenomenal karena selain millenial, aktivis perempuan tersebut sempat dituding sebagai calon “bonek”, namun ternyata kebonekannya tidak memupus namanya dari perhelatan Pilwali Surabaya hingga saat ini. Lia sendiri juga masuk dalam list yang dirilis oleh TV 9, polling beberapa grup wag, polling oleh media suara indonesia, dan rilis beberapa ormas, seperti Kompi dan SAMAA.

Kembali membahas lembaga survey, perlu diketahui bahwa ada 14 lembaga survey yang direkom oleh PDI Perjuangan, untuk melaksanakan survey awal, yaitu Charta Politika Indonesia, Cirus Surveyor Group, Indo Barometer, Indopolling, Indo Survey, Lembaga Survey Indonesia, Lingkaran Survey Indonesia, Pandawa, PT. Nusakom Pratama Political Consultant, Pusdeham, Polcom Institute, SMRC, Survey Lintas Nusantara dan View Data Indonesia/Recode. (ARB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *