Ruang Tamu Menjadi Ruang Literasi, Inilah Salah Satu Bentuk Dindik Jatim Memuliakan Tamu

 467 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (05/03/2021) | PUKUL 22.39 WIB

Dalam sebuah hadis dijelaskan:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Banyak cara bagi kita untuk memuliakan atau menyenangkan tamu. Selain senyum dan salam yang menyapa ramah kedatangan mereka, suguhan bisa menjadi “pemanis” suasana. Suguhan ini tidak harus bersifat jamuan makan minuman karen ada kalanya tamu datang hanya untuk waktu yang singkat, bukan dalam rangka acara perjamuan. Hal ini disikapi secara responsif Dinas Pendidikan Pemprov Jatim. Melalui inovasi Kepala Dindik Jatim Dr. Ir. Wahid Wahyudi, MT., ruang tunggu atau ruang tamu kantor Dindik Jatim menjadi multi fungsi ruang tunggu literasi. Disingkat RATULITA, ruang tunggu seluas 4 x 8 meter tersebut menjadi ruangan yang nyaman untuk berdiskusi, memfungsikan laptop, dan membaca berbagai referensi yang tersedia di dalam lemari perpustakaan.

Referensi yang tersedia di dalam ruang tersebut merupakan bacaan bukan hanya terkait pendidikan dan pembelajaran, melainkan juga terdapat tafsir Al-Qur’an, kitab-kitab hadis, buku fikih karangan para ulama Muslim, bacaan motivasi, hingga majalah dan koran.

“Ruang tunggu literasi ini adalah bentuk kami memuliakan tamu yang datang di Kantor Dindik Jatim. Mereka dapat merasa nyaman, merasa dihormati sebagai tamu, dan melakukan aktivitas positif terkait literasi selama waktu menunggu.”

Ruang tunggu tersebut kemudian menjadi perwujudan hadis di atas, bahwa memuliakan tamu adalah anjuran dalam Islam. Sedangkan dalam Al-Qur’an, Q.S. An nisa’ ayat 86:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

Dalam referensi lainnya, yaitu hadis, bahwa memulyakan tamu adalah anjuran bagi orang mu’min:

النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُٶْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْأَخِرِ فَلاَ يُٶْذِى جَارَهُ, وَ مَنْ كَانَ يُٶْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْأَخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضُيْفَهُ وَ مَنْ كَانَ يُٶْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya, dan barang siapa beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memulyakan tamunya.” (Kitab sahih Bukhari, hadis nomor 5824).

Dengan begitu, tatkala kita ingin dihormati oleh orang lain, termasuk saat kita datang sebagai tamu, maka seyogyanya kita pun harus terbiasa menanam sikap penghormatan sebagai kebiasaan kita. Internalisasi sikap-sikap yang baik insya Allah selalu mendapat balasan penerimaan sikap-sikap yang baik pula. (Red)

Dr. Lia Istifhama, MEI
Ketua III STAI Taruna Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *