SAHABAT K1P SURABAYA Ingatkan Soal “Kepribadian” Masyarakat Suku Madura

 253 views

HAMEDI, SE Ketua Umum Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SENIN (07/06/2021) | PUKUL 10.57 WIB

Candaan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa soal ‘Orang Madura Sakti-sakti’ yang diungkit oleh kalangan medis dan beberapa pihak itu, terus menuai kontroversi dan beragam reaksi publik.

Baik dari publik warga +62 di Media sosial, maupun publik pendukung pasangan Khofifah-Emil Dardak di Jawa Timur.

Salah satunya datang dari Ketua Umum Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya, Hamedi, SE yang ikut angkat bicara.

Aksi mengungkit itu, Menurut Hamedi, rasanya tidak cerdas, cenderung ber upaya ‘Character assasinasions sosok Gubermur Khofifah, dan berpotensi munculnya konflik SARA di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum usai ini.

Eksponen Reformasi 1998 Jawa Timur ini menambahkan, Pertama, reaksi yang kurang tangkas dan tidak cerdas.

“Kurang tangkas, Slow respon (setelah hari yang ke-19), kalau memang benar jadi embrio keteledoran abai prokes, kenapa tidak di hari pertama ‘Candaan’ itu, diungkit, ”

“Tidak cerdas, sampai-sampai menganggap ‘Candaan’ sebagai faktor penyebab peningkatan Kasus Covid-19, berujung ‘Lockdown’ Ruang IGD RS Syarifah Ambami Ratu Ebu di Kabupaten Bangkalan, ” ujarnya melalui pesan WA kepada potretjatimdaily.com, Senin, 7 Mei 2021 siang.

Kedua, ada upaya pembunuhan karakter.

Hamedi mengatakan, Jangan hanya karena ingin bercanda pada masyarakatnya, Gubernur Khofifah dianggap sebagai sosok yang takabur, membangga-banggakan diri ditengah pandemi, dan ketiadaan keprihatinan serta kontra produktif.

Soal anggapan candaan bisa meningkatkan kasus Covid-19, Hamedi mengingatkan akan larangan mudik hari raya Idhul Fitri 1442 Hijriyah kemarin, dan adanya (peranan) kewenangan, sinergitas, serta koordinasi dari figur bupati Bangkalan.

“Jangan Seolah-olah (Gubernur Khofifah) lah dijudge sebagai satu-satu kepala daerah yang paling bertanggungjawab. Ingat, ada peranan dan kewenangan Bupati di UU Otonomi Pemerintahan Daerah, ” tegas Hamedi.

Ketiga, berpotensi terjadinya konflik SARA mengdiskriditkan suku Madura.

Alumni SMA Negeri 21 Kota Surabaya ini, menjelaskan, suku madura dikenal sebagai pribadi yang cerdik, ulet, rajin bekerja, dengan tradisi Islam yang kuat.

Dan, sangat taat kepada ulil amri nya (para pemimpin) nya. Selain, taat kepada Bupati dan Presidennya, mereka taat kepada Gubernur Jawa Timur nya.

Hingga, dapat dipastikan suku bangsa yang menurut data Wikipedia, Tahun 2020 Jumlah populasinya di Jawa Timur mencapai 6.520.403 Jiwa tersebut, mampu untuk membedakan antara Candaan dengan penyebab kasus Covid-19, dengan penghargaan yang bisa dibanggakan sampai-sampai (buat) terlena.

“Mereka faham, bahwa (Candaan) itu, tak lebih merupakan bentuk apresiasi Gubernur kepada masyarakatnya atas Nihil yang positif rapid antigen kala itu. Jangan sampai, mereka tersinggung “ungkitan, ” tutur Ketua Koperasi Pedagang “SMS” Pasar Sememi Surabaya itu.

Kepada masyarakat Jawa Timur, Alumni Universitas Wijaya Putra Surabaya ini kembali mengingatkan akan komitmen Gubernur Khofifah dalam melawan virus Corona dan memulihkan ekonomi pasca pandemi Covid-19 di Bumi Majapahit ini.

“Beliau dikenal sebagai kepala daerah yang intens dan komitmen melawan Corona, hingga sempat terpapar virus yang berasal dari Wuhan negeri China itu, beberapa waktu lalu, ” kata Hamedi.

“Terbukti, melalui gercep ala Gubernur Khofifah bersinergi dan berkoordinasi dengan Pemkab. Bangkalan dan Pemkot. Surabaya. Dan, hasilnya, Minggu (6/06) pukul 18.00 WIB, ruang IGD RSUD Bangkalan berhasil dibuka kembali.

Untuk itu, Ketua Forum Komunikasi Warga terdampak eks lokalisasi Surabaya ini meyakini, bahwa sebagai bagian dari warga surabaya, masyarakat Jawa Timur, dan rakyat Indonesia, yang cerdas, dan tak mudah terprovokasi ‘ungkitan’ tak bermutu yang (sengaja) diviralkan itu.

“Dengan spirit Jatim Bangkit, mari KErja bersama untuk mewujudkan masyarakat Jawa Timur yang maju dan Sejahtera, ” pungkasnya.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Seperti diketahui, di Kantor Dishub Jatim, Senin, 17 Mei, Ketua Umum PP Muslimat NU itu, menerima laporan (hasil) kinerja.

Pemaparan kondisi saat pemberlakuan screening Covid-19 di Poskes selama liburan Hari Raya Idhul Fitri 1442 Hijryah (tanggal 6 sampai dengan 17 Mei 2021)

“Untuk pos penyekatan di Pos Suramadu, nihil yang positif rapid antigen Bu, ” ujar Kadinkes Jawa Timur Herlin Ferliana.

Senada dengan Kadinkes Herlin, secara virtual, Kepala UPT Dishub Jatim Wahab di Bangkalan, juga menyatakan.

Bahwa tidak adanya orang madura yang diperiksa dan nihil positif rapid antigen.

Sebagai bentuk apresiasi, keberhasilan OPD dan masyarakat Madura tersebut.

Mantan Menteri Sosial RI ke-27 di era Presiden Joko Widodo itu, mengatakan.

“Orang Madura Sakti-sakti”, disambut tepukan tangan serta tawa gembira.

Setelah, sembilan belas (19) hari berlalu, candaan Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu, berubah menjadi “ungkitan dan tuduhan sepihak”.

Berdasarkan beberapa cuitan di akun Facebook, Minggu (06/6), diunggah.

Seperti, “Kalau sekarang kemudian Bangkalan menghitam, banyak kasus yang dirujuk ke Surabaya dalam kondisi kritis, bahkan 29 nakes (tenaga kesehatan) terpapar, kita baru sadar bahwa kita lengah”.

Lalu, “Kalau yang lain mulai kendor akibat pandemic fatigue, justru saat itulah kita harus tetap teguh dan semangat menyuarakan pentingnya setiap orang berperan menghindari dan mencegah penularan Covid-19”.

Dan Terpisah postingan melalui akun Twitter, pada Minggu, 6 Juni, dipublish.

‘Masihkah bangga dengan sebutan ‘Orang Madura Sakti-sakti’, Ini Kenyataan yang Terjadi Saat Ini’.

Sebagai seorang penanggung jawab Satgas Covid-19 Provinsi, candaan dan Gubernur Khofifah, dianggap sebagai :

(1). Ungkapan (penyebab) Orang Madura teledor dan tidak mematuhi prokes 5M.

(2). Sosok (Pemimpin) yang takabur dan membanggakan diri di tengah pandemi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *