Sosial Media Dinilai Rentan Tercoreng Cyberbully, Ini Kata Aktivis Perempuan

 19 views

Dr. Lia Istifhama, ME.I

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
MINGGU (28/02/2021) | PUKUL 07.09 WIB

TOKOH | “Saatnya sesama perempuan menjadikan sosial media adalah sarana saling mensupport, bukan sebaliknya”, terang salah satu Tokoh Muda Inspiratif Jatim Versi FJN, Dr. Lia Istifhama.

Pendapat tersebut dikemukakan saat dihubungi via selluer, Sabtu (27/2) terkait rilis Digital Civility Index (DCI). Survey DCI tersebut menjelaskan tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya.

Dalam riset ini, warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara, alias paling tidak sopan di wilayah tersebut.

Rilis ini sebenarnya telah diantisipasi oleh banyak pihak melalui kampanye lawan cyber crime dan cyber bully di era digital.

Namun hal tersebut ternyata belum cukup efektif, hingga baru-baru ini Kominfo berencana membuat Komite Etika Berinternet.

“Banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan sebuah problem besar. Diantaranya adalah mendengar aspirasi banyak masyarakat, mengamati isu-isu terkini secara holistik, membuat sistem filterisasi dalam sosmed, dan menguatkan etika bijak bersosmed”, terang Ning Lia.

“Sebenarnya dalam akun-akun sosmed terdapat ruang laporan, dimana di dalamnya adalah pelaporan atas konten yang berindikasi pornografi, hate speech, kekerasan, dan sebagainya. Tapi ngaruh tidak yah? Karena saya dan kawan-kawan aktivis seringkali melaporkan hal tersebut, namun belum terlihat dampak dari pelaporan seperti itu”, tambahnya.

“Filter konten yang tidak sehat secara moral, seharusnya dapat dilakukan oleh sinergi banyak pihak. Karena jika masyarakat saja yang rajin membuat laporan tapi kurang didukung pihak-pihak lainnya yang berwenang, apa bisa efektif?”, tegasnya.

Aktivis yang sebelumnya meraih penghargaan sebagai Tokoh Peduli Covid 19 versi ARCI, juga menambahkan pentingnya penguatan etika bijak bersosmed.

“Dalam hal ini, alangkah baiknya jika kita bertindak dalam sosmed melalui sinergi segitiga komunikasi. Pertama, saat kita menulis sebuah komentar ataupun postingan, kita piker dulu, bagaimana dampak untuk diri kita sendiri. Manfaat tidak yah jika kita menulis ini dan itu? Kedua, kita melihat aspek orang lain. Semisal, jika kita menulis suatu hal, orang lain suka tidak ya? Adakah yang marah atau tersinggung, dan sebagainya. Yang ketiga, kita lihat dampak feedback antara kita dan orang lain. Yaitu, kita mengukur dan mengamati, respon orang lain seperti apa setelah kita komentar atau posting?”

Ditanya perihal isu Nissa Sabyan yang masih sangat hangat saat ini dan dianggap telah menimnbulkan sanksi sosial dengan viral bullying, Lia memberi jawaban cukup menarik.

“Sanksi sosial sangat lumrah terjadi oleh siapapun, dimanapun, kapanpun, oleh sebab apapun. Karena itu dampak yang melekat dari bangunan hubungan sosial. Ada beberapa faktor yang menyebabkannya, bisa faktor positif bisa negatif. Positif disini adalah sebuah sanksi diberikan pada seseorang dengan tujuan dukungan moril kepada orang lain yang dianggap korban. Jadi ini pengejawantahan kepedulian. Nah, ini yang secara reflek, ternyata justu ditunggangi oleh faktor negatif”.

“Faktor negatif adalah saat kejadian tersebut ditampung oleh pihak-pihak yang memang tidak suka dengan seorang figur. Maka inilah momen tepat untuk membuat sebuah serangan, ujaran kebencian terus menerus yang bertujuan pelemahan karakter. Singkatnya, ada provokator diantara isu yang viral”, ujarnya.

“Oleh sebab itu, sangat penting sinergi segitiga tadi. Maksud saya, kita yang sebagai penonton atas sebuah kejadian, masak iya harus berbuat atau bersikap seolah-olah kita terlibat dalam sebuah kejadian? Kalau dalam konteks Islam, kita diingatkan, dekatkanlah manfaat dan jauhi mudlarat alias perbuatan yang sia-sia. Singkatnya: Untungnya apa, ruginya apa?.”

“Saya yakin, kaum perempuan adalah pemilik empati yang sangat besar, gak mentoloan (tidak tega) kalau ada orang dihina terus menerus. Jadi sebenarnya kaum perempuan-lah yang bisa menyelamatkan negri kita dari bahaya cyber bully”, pungkas Ibu dua anak yang aktif menulis opini-opini di media massa. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *