Sowan DPRD Gresik, Perempuan Tani HKTI Jatim Dorong Remaja Cinta Pertanian

 13 views

Ketua PT HKTI Jatim Dr. Lia Istifhama mendampingi Ketua PT HKTI Gresik dr. Nila Hapsari saat audiensi dengan Komisi II DPRD Gresik, Kamis (18/02/2021)

KAB.GRESIK – POTRETJATIMDAILY.COM
JUM’AT (19/02/2021) | PUKUL 14.09 WIB

DAERAH | Didampingi ketua DPD PT HKTI Jatim Dr. Lia Istifhama, Perempuan Tani HKTI Gresik pimpinan dr. Nila Hapsari, melakukan audiensi dengan Komisi II Bidang Perekonomian dan Keuangan DPRD Kabupaten Gresik. Kamis (18/2/2021).

Rombongan aktivis perempuan tersebut ditemui langsung oleh ketua komisi, KH. Markasim Halim Widianto serta sekretaris komisi Hj. Lilik Hidayati, MM. Beberapa anggota komisi pun hadir, diantaranya Hj. Siti Fatimah, Hamzah Takim, dan Musa. Alhasil audiensi yang membahas beberapa hal terkait pertanian tersebut berlangsung gayeng.

Beberapa pembahasan pun berlangsung selama 3 jam yang dilakukan secara hybrid, yaitu offline dan online melalui virtual zoom. Diantara topik adalah penguatan digitalisasi pertanian melalui program aplikasi Agree yang selama ini berjalan kemitraan antara Perempuan Tani HKTI Ketua Umum Dian Novita Susanto dengan PT. Telkom Indonesia. Selain itu, mengkaji masalah lapangan yang dihadapi petani, terutama petani Gresik.

“Kami ingin pertanian di Gresik semakin dicintai kalangan millennial ataupun generasi Z. Itu sebabnya, kami mengajak pengurus membuat produk unggulan melalui program one village one product. Diantara produk unggulan tersebut, adalah kopi yang diracik pengurus sendiri, yaitu kopi khas Sidayu Gresik”, jelas Nila Hapsari.

“Gresik sangat potensial, dengan visi dan misi perempuan tani Gresik yaitu menciptakan technopreneur dan sosiopreneur di bidang pertanian. Saya harap bisa bersinergi dengan banyak pihak untuk mengembangkan industri pertanian Gresik,” tambahnya dalam rilis yang diterima potretjatimdaily.com, Jumat (19/2/2021).

Lia Istifhama yang hadir dalam audiensi tersebut menambahkan, fakta lapangan saat Perempuan Tani HKTI turun melakukan aksi nyata dalam masyarakat untuk membantu mengatasi permasalahan pertanian.

“Dalam kesempatan ini, kami memaparkan beberapa aspirasi petani yang kami terima. Diantaranya, kelangkaan pupuk dan bibit saat pandemi 2020, persoalan hama pertanian, sistem irigasi, dan pemasaran yang didominiasi tengkulak. Kami disini menggarisbawahi bukan sebagai organisasi penerima aspirasi saja, karena kami memahami, segala kebijakan dalam menangani sebuah persoalan, ada prosedur dan aturannya”, terang Lia Istifhama.

Ia juga menambahkan bahwa aksi Perempuan Tani HKTI disertai kegiatan nyata.

“Saat petani curhat mengenai kematian tersengat listrik akibat teknik setrum untuk tikus di sekitar persawahan, maka kami secara pribadi dan gotong royong memberikan asuransi BPJS ketenagakerjaan. Kami juga saat turun, berusaha memberikan motivasi semangat karena kami sebagai masyarakat perkotaan, sangat tertolong dengan petani. Kalau tidak ada mereka yang tetap sabar bertani, bagaimana kita bisa mendapat pangan yang sehat dan alami?,” tambahnya yang juga menjelaskan pentingnya peningkatan kuantitas non durable product di Gresik, yaitu produk pertanian yang sudah diolah secara industri sehingga lebih tahan lama.

Pemikiran dan gagasan para aktivis perempuan tersebut, diterima sangat baik oleh para wakil rakyat Gresik.

” Kami sangat senang dengan adanya Perempuan Tani di Gresik. Ini adalah awal perkenalan dan saya harap selanjutnya kita bisa berkomunikasi lebih detail bersama dengan dinas pertanian. Lebih lanjut, mungkin dengan dinas-dinas yang lainnya,” jelas KH. Markasim.

Saudara mantan Bupati Gresik Sambari Halim Radianto tersebut juga menjelaskan, pentingnya peran Perempuan Tani HKTI untuk membina generasi muda.

“Penting untuk dibantu, bagaimana sektor pertanian dianggap menarik bagi anak muda. Jangan sampai semua anak muda hanya ingin kerja sebagai pegawai atau karyawan di sektor industri tapi lupa dengan mengembangkan pertanian di wilayahnya sendiri”, pungkasnya.

Pertemuan tersebut kemudian berakhir dengan pemberian bingkisan berupa kopi khas Ngawen Sidayu Gresik yang memiliki slogan “Belajar menjadi petani berawal dari secangkir kopi,”. (Jhon Oi/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *