Tradisi Konflik Terbaik

 10 views

Tradisi Konflik Terbaik

Oleh : KH. Ahmad Bahauddin Nursalim

Agama Islam itu lahir lewat Qur’an dan Hadits.

Tapi kemudian, tau-tau tetap berimprovisasi, berkembang sesuai tokoh yang membawa.

Anda kalau melihat Islam di India, dulu sampai perang besar-besaran, Zaman Abu A’la Al Muadudi, Zaman periode Muhammad Iqbal.

Sampai India pecah kemudian menjadi Pakistan yang beragama Islam, banyak konseptor Islam yang tidak setuju negara sekuler. Akhirnya, mereka pisah menjadi negara Islam Pakistan.

Kemudian, Timur tengah juga begitu, karena Timur tengah sudah Islam semua, masalahnya itu, di Islam-kan ala Sunni atau ala Syi’ah.

Iran menjelma sebagai aliran Syi’ah, yang Sunni dianggap sesat, halal darahnya.

Sedangkan, Iraq zaman Saddam Husein pemerintahannya Sunni, yang Syi’ah dibantai, sehingga orang kurdi banyak yang mati. Era Saddam kalah, gantian Saddam yang dibantai.

Makanya, kalau saya ngaji di Jogya, seminar di Jogya bilang kita ini harus bersyukur karena memiliki tradisi konflik yang terbaik di dunia.

Iya, kita ini punya tradisi konflik terbaik di dunia.

Anda kalau sudah tahu Ikhwanul Muslimin di Mesir, Badan Intelejen Nasional itu harus berterima kasih sama tradisi konflik tokoh-tokoh di Indonesia.

Lepas dari setuju atau tidak setuju terserah, tapi kita punya tradisi konflik yang paling baik di dunia.

Kurang bencinya apa Gus Dur sama FPI, atau (bencinya) FPI sama Gus Dur, paling-paling mereka ya adu statemen di depan wartawan. Itu bagus sekali, karena andaikan itu terjadi di Arab, pasti sudah (tembak-tembakan) perang.

Kita punya sejarah, secara pesantren pun saya punya sejarah panjang.

Zaman Mbah Iman beda dengan Mbah Zubair, Zaman Kyai Maimun beda dengan Kyai lain, Paling (hanya) adu statemen saat ada tamu, dan itu bagus, Kita punya tradisi konflik paling bagus di dunia.

Seperti apa rasa emosinya NU saat Gus Dur (di impeachment) dipecat?

Tapi habis itu, sering seminar dengan Amien Rais, mereka adu polemik, ini tidak konstitusional, ini apa.

Gus Dur membawa jurus dekrit, yang satu membawa jurus sidang Istimewa dilawan sidang luar biasa, pokoknya pakai istilah yang seram-seram.

Selama ini orang bilang, “loh kyai sama kok bertengkar?”,

Coba anda bandingkan dengan Timur tengah, yang namanya bertengkar itu tahdiruddam.

Jadi, Para Polisi, para Badan Intelejen, para penjaga stabilitas negara (BIN) ini harus berterimakasih sama tradisi tokoh-tokoh Islam di Indonesia.

Sebab, yang namanya di Mesir, di Iraq, dimana-mana yang namanya bertengkar itu, sudah pasti akan melibatkan pertumpahan darah.

Saat Arab Saudi jadi Wahabi itu, terjadi besar-besaran pengusiran orang-orang sunni.

Tapi, di Indonesia tidak, paling itu tadi (cuman) adu polemik.

MLB dilawan MLD itu masih keren sekali, dan tidak apa-apa itu lebih baik daripada adu jotos, atau adu khizib.

Tidak, ini biar paham, biar syukur jadi Bangsa Indonesia, Kita punya tradisi konflik yang baik.

Kalau anda sudah tahu peristiwa di Iraq, di Sudan, di Khortum, di Dalfur, itu khan orang Islam semua, yang hanya gara-gara beda madzhab sudah saling bunuh.

Di Mesir ya begitu, Ikhwanul Muslimin dengan pemerintah dan sebagainya. Dimana, sebesar Sayyid Kuttub yang tokoh populer saja wafatnya tidak jelas.

Di Indonesia bagus sekali.

Secara sejarah, kita semua pernah menjumpai bedanya dulu Ahmad Hasan dengan tokoh-tokoh NU.

Saya itu, menjumpai secara sejarah, juga sering membaca, lalu Zaman baru-barunya NU sebagai asas tunggal, bedanya Gus Dur dengan Kyai As’ad.

Lalu bedanya PKB dua versi.

Mereka menyelesaikannya secara beradab, lewat pengadilan, nanti pengadilan kalah lewat MA ya, itu beradab sekali dan kita harus bersyukur.

Dibandingkan dengan penyelesaian konflik seperti di Iraq yang kemudian mengundang Amerika, yang akhirnya sekarang kacau balau.

Di Indonesia, paling-paling hanya membakar fotonya SBY saja. Dan itu masih terhormat serta masih beradab.

Apabila tidak setuju antar kyai ya, cuman sindir-menyindir saja. “Kyai kok begitu” saja.

Dan bagi Kyai tengah-tengah, “Ada yang begini, ada yang begitu”. Yang tidak ikut-ikutan, biasanya, memilih amannya saja.

Saya itu, berkali-kali mengaji. Anda kalau sering membaca Al-qur’an, artinya tidak membaca yang tidak tahu maksudnya.

Saya itu, sekarang se sadar-sadarnya, hingga detik ini, masih terus belajar.

Entah itu, belajar lewat jallalain atau lewat merenung atau belajar lewat yang lain.

Al-qur’an itu dulu sering menyebut begitu (Ikwanan) itu, saya tidak paham. Namun, sekarang itu, saya paham dan tambah paham.

Didalam juz ke-4, ada istilah “Ikhwanan”, dimana, Orang mu’min itu, disuruh mengingat peristiwa-peristiwa dulu.

“Dulu kamu bermusuh-musuhan, yaitu antara kelompok Aus dan Khozroj”. Akan tetapi, gara-gara barokhatul Islam, sekarang kamu menjadi Ikwanan, menjadi bersaudara.

Anda kalau melihat TV, merunut konflik di Iraq, sering ada bom bunuh diri itu khan ada asal usulnya (sebab-musababnya). Memang sekarang, semua menimpakan kesalahan itu pada pasukan multinasional, yang dipimpin oleh Amerika dan Inggris.

Sampai Amerika bisa masuk karena Iraq tidak Ikhwanan, sebab ada aliran Syi’ah dan aliran Sunni, yang tidak Ikwanan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *