UNESA bersama FDGBI perjuangkan Bahasa Indonesia Melayu sebagai Bahasa Ilmiah Internasional.

 13 views

 

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (05/11/2019) | PUKUL 13.25 WIB

Acara Pembukaan Musyawarah Internasional Dan Seminar Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) ke-4, di Hotel Golden Tulip Legacy Surabaya, Selasa (05/11/2019) pagi, sukses digelar.

Kongres yang terselenggara atas kerjasama Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan FDGBI yang direncanakan akan berlangsung selama 4 hari (Senin-Kamis, 4-7 November 2019) itu, dihadiri tak kurang dari 154 Guru Besar dari 40 Universitas se-Asia, dengan mengambil thema “Bahasa Indonesia-Melayu sebagai Bahasa Ilmiah Internasional”.

Rapat akbar tersebut membahas pentingnya menjadikan Bahasa Indonesia Melayu sebagai Bahasa Ilmiah Internasional untuk percepatan Guru Besar di Indonesia. Karena banyak Jurnal Guru besar terhambat saat proses menuju indeks Scopus.

Rektor UNESA Surabaya, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes dalam kata sambutannya, mengungkapkan dukungannya untuk membuat Bahasa Indonesia go international dalam bahasa ilmiah.

Salah satu bentuk dukungan itu terlihat saat pihaknya berkunjung ke Republik Ceko. Di sana pihaknya menyiapkan tenaga pengajar untuk pembelajaran Bahasa Indonesia kepada mahasiswa.

“Jadi kami ingin percepatan tidak hanya dilakukan di Asia tapi juga Eropa,” katanya.

Lebih lanjut, diharapkan momentum ini bisa memberikan masukan pada kabinet baru agar Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu bisa digunakan dalam bahasa ilmiah.

“Ini momentum menjaga marwah bahasa untuk go international,” tutupnya.

Sementara itu, Pembina Pertimbangan FDGBI yang juga Ketua Dewan Gubes UGM, Prof Koentjoro mengatakan adanya pertemuan itu guna menindaklanjuti pertemuannya dengan Majlis Professor Negara (MPN) Malaysia Prof Kamarudin Said yang menyinggung soal rencana mengembangkan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmiah.

“Banyak urgensi yang kita hadapi. Urgensi pertama sekarang kita menyadari Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ini diperlukan bahasa pemersatu untuk berdialog. Kita di antara para ilmuan sudah selayaknya untuk mengadakan dialog agar dunia semakin maju dalam pertukaran ilmu,” tegasnya.

Persoalan kedua, kata dia, juga terkait dengan hak asasi manusia (HAM). Koentjoro menyebut, untuk menjadi guru besar orang memerlukan penelitian yang terindeks berbahasa Inggris.

Menurut Koentjoro, kepakaran dan keprofesoran seseorang tidak bisa ternilai hanya dari indeks berbahasa Inggris.

“Apakah karena hanya soal bahasa, kepakaran dan keprofesoran seseorang diakui? Padahal keilmuannya ampuh tidak di Bahasa Inggris. Lain sisi universitas kita ini bervariasi dan Bahasa Inggris bukan bahasa ibu. Oleh karena itu ini harus kita dorong,” tambahnya.

Lebih lanjut, Koentjoro mengungkapkan, peminat penutur bahasa Indonesia di berbagai negara semakin banyak. Dia mencontohkan di Korea, tepatnya di Hankuk University, diajarkan 41 penutur dari berbagai negara. Peminat paling adalah penutur Bahasa Indonesia.

“Di berbagai negara di Eropa baru mulai. Negara bagian Australia di Victoria justru menjadikan Bahasa Indonesia menjadi second language,” ucapnya.

Tidak hanya digunakan dari sisi keilmuan saja, Ketua Dewan Guru Besar UGM ini juga menuturkan jika bahasa juga digunakan untuk bisnis dan intelegence.

“Jadi setelah ada forum diskusi ini tahapan selanjutnya kana dibentuk cluster-cluster di setiap daerah. Dipilih ketua yang merupakan pakar bahasa Melayu atau Indonesia. Kemudian mereka akan berhimpun melalui jejaring media sosial,” pungkasnya.

Diharapkan, pada bulan Februari-Maret mendatang, Korea Selatan, Thailand dan berbagai negara di luar Asia semakin banyak bergabung.

Hasil pantauan potretjatimdaily.com, Hadir dalam pertemuan itu antara lain, Pembina Pertimbangan DGBI dan Ketua Dewan Gubes UGM, Prof Drs Koetjoro, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Prof Dadang Sunendar, Guru Besar FBS dan Anggota Senat Unesa.

Berikutnya, Dosen Fakultas Liberal Arts, Maejo University Thailand, Assst Prof Siriporn, Learn Indonesia Asia PTE. LTD Singapora Endina Asri Widratama, Prof Dr Kong Yung Hun Hankuk University of foreign Study Korea Selatan dan Majlis Professor Negara (MPN) Malaysia Prof Kamarudin Said. (HMD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *