Viral Isu Arogansi Saat Razia PPKM, Aktivis Ini Ungkap Urgensi Kebijakan Edukatif, Persuasif, Humanis

 428 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
KAMIS (15/07/2021) | PUKUL 19.09 WIB

Potretjatimdaily.com – Diakui atau tidak, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan PPKM Mikro di berbagai wilayah di Indonesia menimbulkan masalah dalam penerapan di lapangan. Tak sedikit beredar video dalam berbagai laman sosial media yang mempertontonkan cara-cara aparat keamanan yang cenderung arogan terhadap masyarakat, terutama pelaku usaha.

Bahkan yang kini menjadi perhatian publik adalah dugaan penganiayaan oleh personel Satpol PP saat melakukan patroli PPKM kepada seorang ibu hamil yang merupakan pemilik warung kopi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sedangkan sebelumnya, berbagai macam video juga menyajikan bentuk arogansi lainnya, seperti contohnya tindakan memaki-maki PKL, menyita rombong atau bahan dagangan yang dijual PKL, hingga sanksi administratif yang dikenakan pada PKL maupun pembelinya.

Beragam reaksi pun menyeruak sebagai bentuk kontradiktif pada cara-cara yang dinilai tidak humanis, bahkan arogan. Diantaranya yang terjadi di Semarang, saat aparat Satpol PP menyemprotkan air dari mobil pemadam kebakaran kepada pedagang kaki lima pada 5 Juli 2021 lalu. Tak diam, Walikota Semarang Hendrar Prihadi pun turut berkomentar bahwa cara satpol PP dinilai kontra produktif dan tidak mendapat simpati.

Sedangkan di Tasikmalaya, viral seorang penjual bubur didenda Rp 5 juta hanya karena melayani pembeli yang makan di tempat. Penjual yang bernama Endang dan Sawa Hidayat tersebut mengaku tidak tahu aturan PPKM Darurat. Dia pun meminta keringanan denda, namun ternyata hakim tidak memberikan keringanan.

Adapun di Surabaya, baru-baru ini viral video aparat yang ‘berdalih’ menegakkan PPKM Darurat, terlihat menyuruh pedagang sebuah warung kopi di kawasan Bulak Banteng untuk menutup warkopnya dan melakukan penyitaan tabung LPG 3 kg pada 11/7. Alhasil, aksi petugas ini langsung direspons oleh warga sekitar dengan mengepung mobil polisi dan memblokade jalan menggunakan kursi dan kayu panjang. Bahkan, warga yang emosi lalu mengusir petugas keluar dari lokasi dan sempat melempari mobil petugas dengan botol dan batu.

Tak heran, beragam kejadian yang menampakkan arogansi saat razia PPKM dan viral di berbagai sosial media, menuai banyak komentar nyinyir dari para netizen.

Oleh ning Lia Istifhama, warga Surabaya aktivis perempuan yang sebelumnya menjadi 22 Tokoh Muda Inspiratif Jatim versi Forum Jurnalis Nahdiliyyin, menyayangkan fakta tersebut.

“Seharusnya, semua sikap protes dari masyarakat, jangan dianggap angin lalu. Melainkan bagaimana itu menjadi stimulus kebijakan yang lebih humanis.”

Ning Lia kemudian menekankan pada tiga kata, yaitu edukatif, persuasif, humanis.

“Jika ingin menegakkan PPKM darurat, monggo diutamakan langkah edukatif yaitu membuat pemahaman yang benar-benar bisa dipahami apa sih, urgensi kebijakan PPKM terutama razia PKL. Kemudian persuasif, yaitu mengajak masyarakat mendukung kebijakan tersebut. Lantas, bangun sisi humanis di lapangan. Dalam hal ini, jangan sampai ada tindakan yang ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu masalah-masalah sosial.”

Tidak menampik bahwa kebijakan razia PPKM merupakan bentuk pengetatan PPKM Darurat yang terjadi akibat lonjakan Covid 19, ning Lia menganggap bahwa fakta lapangan memang harus dipahami. Ibu dua anak tersebut, mencontohkan wilayah Surabaya.

“Untuk di Surabaya, kasus nyata menimpa pedagang soto langganan saya. Pembeli pertama yang datang untuk membeli soto adalah bapak-bapak tua yang wajahnya melas dan menyampaikan ingin makan di tempat. Alasannya, dia kelelahan nunggu istrinya di rumah sakit dekat warung tersebut dan tidak ada wadah makan yang bisa digunakan di sela ia nunggu istrinya. Karena kasihan, pembeli pun diperbolehkan makan di tempat. Tapi baru saja orang itu makan, petugas satpol PP datang menggerebek. Karena kaget, pedagang dan satpol PP terlibat adu argumen yang ujung-ujungnya, pedagang dikenakan denda 1 juta rupiah.”

Meski begitu, Ning Lia mengakui bahwa masih ada petugas satpol PP yang memiliki jiwa humanis dan tenggang rasa.

“Semoga, yang baik-baik itu, yang selalu mengedepankan cara-cara humanis dan toleran, tenggang rasa, itu bisa jadi contoh buat yang lain. Karena kita harus akui, bahwa PKL tidak berniat berbuat kriminal. Jadi wajar kaget jika tiba-tiba ada penggerebekan. Sedangkan, yang kita tahu sebelumnya, penggerebekan umumnya dilakukan pada tempat hiburan malam atau bisnis haram lainnya,” pungkasnya. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *