oleh

GUS DUR, Sosok Ulama, Intelektual dan Presiden

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY.COM
SELASA (15/09/2020) | PUKUL 07.31 WIB

GUS DUR : Ulama, Intelektual dan Presiden

Selama periode Pemilu 2019 lalu, Nama Abdurrahman Wachid atau Gus Dur, Kerap disebut didalam kampanye.

Ada yang mengaku rindu dengan sosoknya, ada pula yang mengaku bahwa dirinya mewarisi gagasan dan pemikiran Gus Dur.

Gus Dur memang boleh jadi salah satu sosok yang memiliki pengaruh dalam politik Indonesia.

Lalu, bagaimana sebenarnya perjalanan pendiri PKB tersebut di negeri ini?

Lahir dari kalangan pesantren, Gus Dur mewarisi garis keturunan Ulama terkemuka di lingkaran Nahdlatul Ulama (NU).

Ayahnya adalah KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama Republik Indonesia di Tahun 1949. Sementara Ibunya, Solihah adalah putri pendiri pondok pesantren Denanyar Jombang, KH. Bisri Syansuri.

Meski anak Kyai, Ia justru mendapatkan pendidikan sekuler dan banyak membaca buku-buku non-agama Islam dirumahnya.

Ketika ayahnya meninggal, Ia sempat tinggal dirumah Kyai Junaidi, seorang Ulama Muhammadyah di Yogyakarta. Dua hal ini, merupakan hal yang tak lazim bagi anak Kyai NU saat itu.

Pendidikan pesantren, kemudian Ia dapatkan di Pesantren Al Munawwir Krapyak di bawah asuhan KH. Ali Ma’shum. Selain itu, Ia juga mendapatkan pendidikan di Pesantren Tegalrejo, Magelang, pimpinan Kiai Khudori.

Gus Dur juga mengambil pendidikan di Pesantren Denanyar Jombang, di bawah Kakeknya, Bisri Syamsuri. Ia lalu pindah ke Pesantren Tambak Beras, Jombang, di bawah sesepuh NU lainnya, KH. Wahab Chasbullah.

Pada Tahun 1963, Gus Dur pergi mengambil studi di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Meski demikian, Ia kemudian kecewa karena harus kembali mengulang banyak hal yang sudah Ia kuasai di Pesantren.

Ia pun melewati banyak kelas dan lebih banyak berkeliling kota kairo Mesir.

Gus Dur akhirnya, mendapat tawaran bea siswa lainnya, di Universitas Bahdag Irak. Tawaran yang tidak disia-siakan, karena menjadi penyegar baginya.

Gus Dur, akhirnya kembali ke Tanah Jawa pada 4 Mei 1971. Ia berkonsentrasi untuk membangun kembali pesantren-pesantren seiring dengan ancaman gangguan tradisi dan ekonomi yang mendera institusi pendidikan tersebut. Kiai Bisri, akhirnya meminta Gus Dur untuk terlibat lebih aktif di pimpinan pusat NU.

Setelah sempat ragu karena aktivitas politik NU. Akhirnya Ia mau mengikuti permintaan sang kakek dan masuk jajaran syuriah NU.

Pada Tahun 1982, Gus Dur banyak berinteraksi dengan Kiai Ahmad Shiddiq, tokoh yang menganggap NU perlu di Reformasi.

Posisi Idham Chalid, ketua umum NU saat itu, tengah terdesak. Selain itu, para Reformis juga menginginkan agar NU ke Khittah 1926 dan mundur dari politik.

Setelah melalui perdebatan panjang, Gus Dur akhirnya menahkodai Reformasi NU, dengan menjadi Ketua Dewan Tanfidz organisasi tersebut pada Tahun 1984.

Selama di NU, Ia dianggap sebagai sosok yang memberikan modernisasi di ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Kala itu, ada kekwatiran NU dan Pesantren akan ditinggalkan oleh masyarakat modern. Ia kemudian membuka ruang intelektual dalam organisasi sehingga muncul banyak NGO dari tubuh NU.

Dalam catatan Greg Barton hal ini membuat NU dapat bersaing dengan Muhammadyah yang memperkuat jejaring melalui sekolah, tetapi tak punya banyak NGO seperti NU.

Tak hanya itu, modernisasi juga terjadi di lingkungan Pesantren. Sehingga, lulusan institusi itu bisa langsung masuk ke Perguruan Tinggi.

Kedua hal tersebut, membuat NU lebih kaya dengan tradisi intelektual dan dapat berkontribusi pada issue-issue sosial.

Selama menjadi ketua, Ia sempat bersinggungan rezim Soeharto. Gus Dur misalnya, menginisiasi Forum Demokrasi yang sempat bikin gerah Rezim.

Pada Muktamar NU 1994, Soeharto didiga menekan agar Gus Dur tak terpilih kembali sebagai ketua. Pada Tahun 1995-1996, Gus Dur mulai menjalin kedekatan dengan Megawati Soekarnoputri.

Pada Desember 1997, Gus Dur bertemu Amien Rais di Masjid Sunda Kelapa dan dianggap sebagai pertemuan yang bersejarah, karena keduanya berasal dari latar belakang Islam yang berseberangan. Selain itu, Ia juga membangun relasi dengan cendikiawan muslim lainnya, yaitu Nurcholis Madjid.

Trio Amien, Mega dan Gus Dur, kemudian menjadi Tokoh yang disegani. Meski Gus Dur, menyebut mereka tak punya aliansi formal, akan tetapi ada satu hal sama yang ingin mereka tuju, yaitu REFORMASI.

Cita-cita itu, akhirnya terwujud pada 21 Mei 1998, ketika Soeharto mengundurkan diri dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Mundurnya Soeharto menjadi momentum, bagi berseminya kelompok politik terutama partai.

Gus Dur pada awalnya tidak terlalu setuju dengan paham NU yang berpartai politik. Meski begitu, tekanan dan momentum untuk mendirikan Partai politik, terlalu kuat untuk dibendung.

Akhirnya, pada 23 Juli 1998, berdirilah Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, sebagai Partai berhaluan NU di era pasca Orba. Sejak pendirian PKB, banyak kalangan internal yang berharap Gus Dur bisa menjadi Presiden. Optimisme ini akhirnya terwujud, ketika MPR memilih Gus Dur sebagai presiden.

Ada beberapa kebijakan yang menjadi Highlight dari pemerintahannya. Ia misalnya, meminta TAP MPR yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Selain itu, Ia juga mengusulkan agar Tahun Baru Imlek menjadi Hari Libur Nasional.

Ia juga membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial.

Sayangnya, Dinamika politik membuatnya harus mengalami ketegangan dengan DPR. Ia pun mengeluarkan Dekrit Presiden, salah satunya adalah untuk membubarkan MPR/DPR. Dekrit ini, tidak didukung oleh MPR, sehingga Gus Dur digusur dari Jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4.

Pasca tak lagi menjabat sebagai Presiden, Ia harus menghadapi perpecahan di Internal PKB. Ironi akhirnya terjadi, karena Gus Dur harus terusir dari partai yang Ia bidani kelahirannya, setelah keponakannya sendiri, Muhaimmin Iskandar mengambil alih PKB.

Lama-kelamaan kondisi fisik Gus Dur semakin tak prima. Akhirnya, pada 30 Desember 2009, Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Dan meninggalkan banyak kenamgan di negeri ini.

Terlepas dari beragam dinamika yang muncul akibat kiprahnya, perlu diakui bahwa Gus Dur telah menorehkan banyak catatan penting dalam sejarah Indonesia.

Surabaya, 31 Januari 2020,

( Sahabat Khofifah Indar Parawansa (K1P) Surabaya )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed