oleh

GUSDURIAN : Gus Dur Dalam Mata Pembelajar Filsafat di Kampus Katolik

-All Post-632 views

SURABAYA – POTRETJATIMDAILY
SENIN (23/09/2019) | 14.15 WIB

Selain Bung Karno, rasa-rasanya hanya Gus Dur, sosok yang dianggap mewariskan suatu hal luar biasa. Warisan Gus Dur bukan hanya terwujud dalam kebijakan resmi seperti menerbitkan Keppres No 6 Tahun 2006 yang mencabut Inpres No 14 Tahun 1967 terkait diskriminasi terhadap etnis Tionghoa atau menerbitkan UU No 21 Tahun 2000 tentang Serikat Buruh, tapi juga warisan tentang bagaimana mendidik warga agar mengabdi kepada kemanusiaan.

Penghormatan Gus Dur yang sangat tinggi kepada kemanusiaan melampaui ketertarikannya kepada politik kekuasaan. Hal itu diakui oleh tokoh Papua, Filep Karma saat berbincang dengan tim Narasi.Tv saat persiapan acara Mata Najwa yang mengangkat tema Papua.

Menurut Filep, dari semua presiden pasca 98, hanya Gus Dur yang memahami keinginan bangsa Papua. Proses pemahaman itu pun tidaklah rumit. Gus Dur menyadari saudara-saudara Papua ingin sekali didengar, Ia pun menggelar dialog langsung. Selain itu, Gus Dur juga mengembalikan nama Papua yang dulu sangat tabu untuk diucapkan.

Tingginya rasa hormat tokoh-tokoh terhadap Gus Dur bukan hanya meluncur dari Filep. Sewaktu penulis masih menimba ilmu di STF Driyarkara, banyak romo-romo pengajar yang seringkali mengutip atau menyanjung Gus Dur. Bagi romo-romo di STF, Gus Dur mendidik masyarakat agar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sehingga menghargai orang lain yang berbeda, baik itu suku, agama maupun rasnya.

Nilai kemanusiaan yang diajarkan Gus Dur, kata Romo Magnis, menyadarkan kita untuk membela dan membantu orang tertindas apapun latar belakangnya.

Sementara Romo Sastrapratedja atau yang biasa disapa Romo Sastro, melihat pemikiran Gus Dur adalah titik temu antara Pancasila dan Islam. Bagi Romo Sastro, Gus Dur yang merupakan pemikir Islam brilian meyakini kalau Islam yang merupakan agama mayoritas haruslah didekati dengan pendekatan etis, bukan ideologis apalagi menjadi seperangkat alat negara. Gus Dur merupakan pemikir Islam tekstual karena juga banyak merujuk teks-teks keagamaan, tapi juga pada saat bersamaan kontekstual karena selalu ingat konteks. Bacaannya yang merentang luas ke berbagai bidang ilmu membuat Gus Dur paham sejarah Islam di Nusantara dan bagaimana kedudukannya di masyarakat.

Sebagai orang yang besar di lingkungan pesantren dan mewarisi darah NU, ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan konon di dunia, Gus Dur tentunya tidak pernah lupa jati dirinya. Baginya, agama, khususnya Islam merupakan kekuatan moral yang punya tujuan membentuk masyarakat yang adil dan baik. Artinya, Gus Dur tetap memperjuangkan penegakan Islam, namun sebagai etika bukan kekuatan politik yang ingin mengganti ideologi Pancasila. Tak heran jika Gus Dur pun berhadap-hadapan langsung dengan kelompok yang mengusung ide negara Islam namun berdampingan dengan kelompok agama lain yang sepaham dengan Pancasila.

Begitu pentingnya sumbangan Gus Dur kepada bangsa Indonesia, membuatnya menjadi sumber ilmu pengetahuan yang selalu menarik untuk ditimba. Di STF sendiri, ada mata kuliah Alam Pikir Indonesia (API) yang mengkaji sejarah pemikiran di Indonesia dan bagaimana asal-asal usul kebudayaannya. NU dan Gus Dur sendiri selalu menjadi materi yang dipresentasikan oleh mahasiswa-mahasiswi STF. Hal itu terkait dengan bagaimana melihat posisi NU dan para kiainya yang seringkali mewarnai bahkan menentukan arah politik nasional.

Gus Dur juga menjadi salah satu pokok bahasan tugas akhir di STF, baik itu oleh mahasiswa jurusan teologi maupun filsafat. Jika Gus Dur menjadi subjek bahasan di kampus Islam atau jurusan Filsafat Islam itu hal yang wajar. Namun, Gus Dur dikaji di kampus yang mayoritas pengajarnya romo dan mahasiswanya calon romo tentunya merupakan suatu hal yang istimewa. Rata-rata yang dibahas dari Gus Dur adalah soal pluralisme, demokrasi dan politik kemanusiaannya.

Sikap Gus Dur yang tidak menjadikan agama sebagai idelogi negara sehingga terbuka potensi pluralisme. Potensi itu muncul karena tidak ada satu agama pun yang paling superior atau punya kekuasaan di atas negara. Negara Pancasila melindungi semua agama dan menjamin kebebasan beragama. Selain itu, politik kemanusiaan Gus Dur diambilnya dari nilai-nilai universal Islam, yakni mewujudkan kemanusiaan secara praktis dengan membela hak-hak asasi manusia, pluralisme, dan (sikap) anti kekerasan.

Sikap anti kekerasan itu diperlihatkan Gus Dur saat dirinya akan dilengserkan dari kursi presiden melalui manuver politik tingkat tinggi. Saat mengetahui para pendukungnya membentuk pasukan berani mati untuk membelanya, Gus Dur mengurungkan niatnya mempertahankan kursi presiden meskipun Ia tahu kalau dirinya benar. Baginya, satu nyawa manusia lebih berharga ketimbang kursi presiden. Ia tidak mau terjadi perang saudara hanya gara-gara kekuasaan.

Gus Dur memperlihatkan kepada masyarakat bagaimana sosok seorang negarawan di sebuah negara yang demokratis. Ia menempatkan agama dalam sebuah negara demokrasi sesuai porsinya, yakni berwatak pembebasan.

Pembebasan itu akan terlihat saat negara mengambil nilai-nilai universal dari agama, menolak rasisme, memberikan kesejahteraan bagi semua warga negara, penegakan hukum yang adil dan menjalankan pemerintahan yang menihilkan kekerasan. Nilai seperti itulah yang diperjuangkan dan dicita-citakan Gus Dur semasa hidupnya.
Lahul Fatihah. (Wahyu Arifin/ARB)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed